Selasa, 29 Januari 2013

KONSEP PENDIDIK MENURUT QURAISH SHIHAB



                                                                                    BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Perkembangan dan kemajuan berfikir manusia yang benar, harus senantiasa disertai oleh tuntunan wahyu, karena hanya dengan cara itulah segala persoalan dan permasalahan yang dihadapi akan dapat diselesaikan dan dipecahkan dengan baik.
Pendidikan merupakan pola awal dari sebuah langkah kehidupan manusia. Manusia adalah salah satu makhluk yang berperan sebagai orang yang dididik dan orang yang mendidik, baik pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Untuk itulah manusia sebagai sebuah generasi yang berperan sebagai pemimpin di masa dulu, sekarang dan masa yang akan datang, dituntut untuk berperan aktif di dalam mengembangkan seluruh potensinya. Pendidikan ialah proses menumbuh kembangkan seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran. Pendidikan merupakan konsep ideal, sedangkan pengajaran adalah konsep operasional, dan keduannya ibarat dua sisi koin yang tidak mungkin dipisahkan.
Pendidikan memiliki dasar-dasar Ilahiyah yang bersumber kepada Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan pedoman hidup manusia. Sebagai pedoman hidup manusia di segala zaman, Al-Qur’an memuat keterangan yang memuaskan secara rasional dan disertai rangsangan emosi. Dengan demikian Al-Qur’an mendidik akal dan emosi sejalan dengan fitrah, sedangkan karakteristik metode pendidikan Al-Qur’an ialah memelihara tahapan di dalam kesederhanaan.
Diutusnya Muhammad sebagai Rasulullah pada saat manusia sedang mengalami kekosongan para Rasul, untuk menyempumakan “Bangunan” saudara-saudara pendahulunya (para Rasul) dengan syariatnya yang universal, abadi, yang disertai diturunkannya kitab yang menjadi sumber rujukan ajaran Islam yaitu Al-Qur’an al-Karim.
Dalam catatan sejarah, Rasulullah menantang orang Arab dengan Al-Qur’an. Padahal Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab dan mereka pun ahli dalam bahasa tersebut beserta retorikanya. Namun ternyata mereka tidak mampu menandingi Al-Qur’an.
Keberhasilan Rasulullah, sebagai Pendidik didahului oleh bekal kepribadian yang berkwalitas unggul, dan kepeduliannya terhadap sosial-relegius, selanjutnya beliau mampu mempertahankan dan mengembangkan kwalitas iman, amal shaleh, berjuang dan bekerja sama menegakkan kebenaran. Umat manusia diwajibkan mengerjakan segala yang terkandung secara rinci didalam Al-Qur’an, dengan penuh keyakinan dan keimanan.
Al-Qur’an mendidik manusia agar hidup dan berakhlak lurus. Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak contoh teladan, hikmah dan tasyri yang agung. Al-Qur’an mendidik perasaan Rabbani seperti rasa takut, khusuk, senang serta kelembutan hati dan perasaan. Al-Qur’an senantiasa membangkitkan perasaan-perasaan ini, sehingga kadang kala ia menggambarkan dampaknya terkadang yang membacanya dengan penuh kesungguhan. Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan mendidik perasaan statis tetapi juga mendidik perasaan yang mendorong dan mendidik harapan, kemauan untuk beramal shaleh dan kecintaan.
Menurut Abdurahman an-Nahlawi (1989:145) para pendidik hendaknya mengambil ajaran dari Al-Qur’an:
  1. Memelihara lidah si terdidik serta meluruskan ucapnya agar tidak terjadi kekeliruan ucap dan salah baca.
  2. Mendidik qalbu si terdidik agar khusuk ketika menemui ayat yang menghendaki supaya khusuk, marah karena Allah, rindu kepada surga atau cinta kepada Allah.
  3. Mendidik tingkah laku si terdidik lalu mengamanatkan kepadanya agar menjalankan ajaran Al-Qur’an pada waktu mengadakan perlawatan bersama mereka atau disaat makan pada setiap kesempatan.
  4. Mendidik akal si terdidik dengan memberikan dalil atas apa yang telah diisyaratkan oleh Al-Qur’an dan merenungkan apa yang menunjukan kepada keagungan Allah; serta membuat pertanyaan bagi setiap pelajaran untuk melatih akal si terdidik

Dalam upaya menunjang terhadap keberhasilan pengajaranya, maka setiap guru agama menganjurkan supaya siswanya mengikuti baca tulis Al-Qur’an (BTQ) sebagai penunjang terhadap bidang studi pendidikan agama Islam. Di sisi lain dampak edukatif dari mengimani, membaca, dan mengamalkan Al-Qur’an. Siswa seringkali hanya membaca tetapi tidak mengamalkan Al-Qur’an pada realitas kehidupan.
Diantara bacaan Al-Qur’an memuat unsur, jika dalam bacaan tersebut do’a, maka pembaca itu berdo’a dengan do’a itu. Jika dalam Al-Qur’an terdapat ancaman atau adzab maka dia memohon perlindungan kepada Allah dari padanya, dan jika Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menunjukan keagungan Allah maka khusuklah qalbunya dan berkaca-kacalah matanya.
Karakteristik pendidik dalam mengupayakan terealisasinya pengamalan Al-Qur’an, serta melatih dengan keindahan dan kefasihan bahasanya, mendidik hati manusia agar dapat berbicara baik dan menggunakan gaya bahasa yang terang, sehingga maksud dan tujuan itu dapat diketahui dengan jelas. Seperti firman Allah Ta'ala berikut ini dalam Q.S al-Ankabut: 49
  
Artinta : “sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim”.

Dalam proses pendidikan secara tersirat yang merupakan suatu konsep utama didalam pendidikan bahwa tugas pendidik yaitu pertama membimbing si terdidik, dimana ia harus mampu membimbing dan mengembangkan keberhasilan peserta didik baik dalam segi fisik, akal, keberagamaan, akhlak, rohani (kejiwaan), seni dan sosial. Manusia tidak ada yang sempurna, karena hal itu bisa kita jadikan sebagai penunjang, pelengkap bagi kehidupan kelak dimasa depan. Yang kedua menciptakan situasi untuk pendidikan, dalam hal ini proses pendidikan tergantung kepada yang menentukan visi dan misi baik secara lembaga atau si pendidik, sehingga dapat menentukan rancangan secara berencana, sistematis, dan tersusun jelas, karena hal itu dapat berlangsung sesuai harapan dan kenyataan jika didukung oleh peran serta keluarga, sekolah dan masyarakat.

Maka kita selaku manusia yang diberi kelebihan akal pikiran, hendaknya mampu untuk dapat mengembangkan potensi diri baik yang bersifat afektif, kognitif maupun psikomotorik. Banyak para tokoh meneliti serta mengkaji segala persoalan serta menelusuri sehingga mereka mampu berpendapat dan menghasilkan sebuah teori, sebagai wujud nyata hasil dari kajiannya. Dalam kajian ini penulis berusaha menelusuri tentang tugas pendidik. Tugas mereka pertama-tama mengkaji dan mengajar ilmu sesuai dengan Firman Allah.
Al-Qur’an turun sedikit demi sedikit, selama sekitar 22 tahun lebih. Penyusunan urutan surah-surahnya terdiri dari 114 surat. Ayat-ayatnya berinteraksi dengan budaya dan perkembangan masyarakat yang dijumpainya. Kendati demikian, nilai-nilai yang diamanatkannya dapat diterapkan pada setiap situasi dan kondisi. Diantaranya Q.S. Ali Imran 79


 Artinya : “Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembah bagiku, bukan penyembah penyembah bagi Allah. “Akan tetapi dia berkata: Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan alkitab dan disebabkan karena kamu tetap mempelajarinya”.

Menurut Ramayulis (2001: 2) di dalam mujam (kamus) kebahasaan kata atau lapal ini ربنى memiliki tiga akar kebahasaan diantaranya pertama raba-yarbu yang memiliki arti bertambah, berkembang. Kedua rabiya-yarba yang memiliki arti tumbuh dan menjadi besar, ketiga rabba-yarubbu yang memiliki arti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, dan memelihara. Kata rabbaniyyina bentuk mufradatnya rabbaniyun yang dinisbatkan kepada rabbun sebab dia mengetahui dengannya yang menekuni terhadap ketaatan.
Dalam konteks lain M. Quraish Shihab (2000: 125) mengartikan kalimat rabbani terambil dari kata rab yang memiliki aneka makna antara lain pendidik dan pelindung. Para pemuka Yahudi dan Nasrani yang dianugerahi kitab, hikmah, dimana kenabian menganjurkan semua orang menjadi rabbani, sebagai penyampai apa yang mereka dapatkan. Maka hal inilah salah satu yang melatar belakangi dari makna pendidik. Berdasarkan hal itu penulis merasa tertarik untuk lebih mendalami pendapat M. Quraish Shihab meneliti Q.S. Al Imran ayat 79. Maka untuk menindak-lanjutinya penulis akan mengadakan penelitian dengan judul “Tugas Pendidik menurut M. Quraish Shihab.”

B.     Perumusan Masalahan

Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah:
1.      Bagaimana Tinjauan Teoritis tentang tugas Pendidik?
2.      Bagaimana penafsiran M. Quraish Shihab terhadap Surat ali Imran ayat 79 dalam Tafsir Al-Misbah?
3.      Bagaimana Analisis Tugas Pendidik menurut M. Quraish Shihab?

C.    Tujuan Penelitian

Setiap pekerjaan tentu ada maksud dan tujuan yang akan dicapai, maka pada kali ini penulis pada karya tulis ilmiah ini mempunyai tujuan sebagai berikut:
  1. Untuk mendeskripsikan tinjauan teoritis tentang tugas pendidik
  2. Untuk mendeskripsikan penafsiran M. Quraish Shihab terhadap Surat Ali Imran ayat 79 dalam Tafsir Al-Misbah.
  3. Untuk mendeskripsikan analisis Tugas Pendidik menurut M. Quraish Shihab.

D.    Kerangka Pemikiran

Tafsir al-Qur’an adalah penjelasan tentang maksud firman-firman Allah sesuai kemampuan manusia. Kecenderungan manusia berbeda-beda sehingga apa yang dihadapkan terhadap pesan Ilahi akan mengalami suatu tingkatan perbedaan yang akan diperoleh oleh seseorang sesuai dengan kemampuannya.
M. Quraih Shihab (2000:125) mengungkapkan bahwa yang berkaitan dengan pendidik dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 79 yaitu rabbani memiliki makna diantaranya sebagai pendidik dan pelindung. Dalam hal ini, M. Quraish Shihab menyatakan (1999: 273) bahwa teori tenaga kependidikan yaitu kita semua, bukan hanya guru dan dosen, karena kita semua berfungsi sebagai pendidik. Dalam hal ini, yang bersangkutan dengan segala atau semua aktivitas, gerak dan langkah, niat dan ucapan, kesemuanya sejalan dengan nilai-nilai yang dipesankan oleh Allah swt. Yang Maha Pemelihara dan Pendidik itu.

Dalam perspektif Al-Qur’an pendidik sering disebut murabbi, muallim, dan mu’addib. Menurut Ramayulis murabbi orientasinya lebih mengarah pada pemeliharaan, baik bersifat jasmani dan rohani, mualim lebih membicarakan aktivitas yang lebih terfokus pada pemberian atau pemindahan ilmu pengetahuan dari yang tahu kepada yang tidak tahu, sedangkan mu’adib lebih luas dan relevan dengan konsep pendidikan Islam.
Pendidik merupakan orang-orang yang bertanggung jawab didalam perkembangan anak sehingga ia dapat diarahkan kepada sesuatu yang diharapkan. Kata rabbani menyatakan bahwa pada diri setiap orang memiliki kesempurnaan serta dapat memperdalam ilmu dan ketakwaan. Pendidik tidak akan dapat memberikan pendidikan yang baik, bila ia sendiri tidak memperhatikan dirinya sendiri.
Didalam proses pendidikan, pendidik hendaklah menanamkan nilai-nilai yang terkandung pada berbagai pengetahuan yang disertai dengan contoh serta suri tauladan dari sikap dan tingkah laku gurunya. Disamping membuat teladan, kita juga dapat menanamkan kemuliaan dan perasaan terhormat kedalam jiwa anak, bahkan kesungguhan untuk mencapainya. Diantara syarat paedagogis diantaranya adalah peneguhan hati dan pengokohan.
Menurut al-Aziz dalam buku Ramayulis (2002: 85) bahwa pendidik adalah orang yang bertanggung jawab di dalam mengintemalisasikan nilai-nilai relegius yang berupaya menciptakan individu yang memiliki pola pikir ilmiah dan pribadi yang sempuma. Islam merupakan system rabbani yang paripurna dan memperhatikan fitrah manusia, Allah menurunkannya untuk membentuk kepribadian.
Menurut H.M Umar dan Sartono tugas pokoknya pendidik adalah mendidik dan mengajarkan pengetahuan agama dan menginternalisasikan serta mentransformasikan nilai-nilai agama ke dalam pribadi anak didik, yang tekanan utamanya adalah mengubah sikap dan mental anak kearah beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta mampu mengamalkan ajaran agama, maka secara built in guru adalah pembimbing atau counselor hidup keagamaan anak didik.
Dalam proses pembelajaran pendidik diharapkan mampu menguasai dengan seksama. Al-Qur’an mempunyai banyak metode dan ciri khas tersendiri didalam mendidik seseorang supaya beriman kepada ke-Esaan Allah dan hari akhir. Al-Qur’an memberikan keterangan secara memuaskan dan rasional. Dengan demikian, al-Qur’an mendidik akal dan emosi sejalan dengan fitrah yang sederhana sehingga tidak membebani di samping itu langsung mengetuk pintu akal dan hati secara serempak. Al Qur’an sendiri, mulai diturunkan dengan ayat-ayat pendidikan.
Tujuan terpenting Al-Qur’an adalah mendidik manusia dengan metode memantulkan, mengajak, menelaah, membaca, belajar dan observasi ilmiah tentang penciptaan manusia, sejak manusia terbentuk segumpal darah beku didalam rahim ibunya.
Maka oleh karena itu Allah Swt mengutus Rosulullah agar menjadi teladan bagi seluruh manusia dalam merealisasikan system pendidikan Islam tersebut: Aisyah r.a pernah ditanya tentang akhlak Rosulullah Saw. la menjawab, bahwa akhlak beliau adalah al Qur’an (Muhamad Qutb, Minhajut Tarbiyatil Islamiyyah). Rosulullah benar-benar merupakan interpretasi praktis yang manusiawi dalam menghidupkan hakikat, ajaran, adab dan tasyri al-Qur’an, yang melandasi perbuatan pendidikan Islam serta penerapan metode pendidikan Qur’ani yang terdapat dalam ajaran tersebut.
Manna Khalil al-Qattan (2001: 374) mengungkapkan bahwa kemukjizatan al-Qur’an bagi bangsa-bangsa lain tetap berlaku disepanjang jaman dan akan selalu ada dalam posisi tantangan yang tegar. Ia mukjizat dengan segala ilmu dan pengetahuan yang sebagian besar hakikatnya yang gaib telah diakui daan dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern. la adalah mukjizat dalam tasyri dan pemeliharaannya terhadap hak-hak asasi manusia serta dalam pembentukkan masyarakat teladan di tangannya dunia akan bahagia.
Maka dapat disimpulkan dari keterangan tersebut bahwa al-Qur’an itu mukjizat, karena ia datang dengan lapadz-lapadz yang paling fasih, dalam susunan yang paling indah dan mengandung makna-makna yang paling valid, sahih.
Di dalam hal ini, Mufasir dituntut untuk menjelaskan nilai-nilai yang diamanatkan sejalan dengan perkembangan masyarakatnya, sehingga al-Qur’an dapat benar-benar berfungsi sebagai petunjuk, pemisah antara hak dan batil, serta jalan keluar bagi setiap problema kehidupan yang dihadapi.





E.     Langkah-langkah Penelitian

1.      Metode Penelitian
Dalam metode ini digunakan juga metode riset deskriptif yang bersifat eksploratif bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena. Dalam hal ini peneliti hanya ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan keadaan sesuatu. (Suharsimi Arikunto, 1998:245) Dan diharapkan dapat menggambarkan keadaan dan menganalisa penafsiran para mufasir tentang tugas pendidik.
2.      Penentuan Sumber Data
Sumber Data yang dianggap membantu dalam penelitian ini adalah sumber data tertulis. Data tertulis ini dapat berupa naskah primer atau sekunder, yang kemudian dalam penelitian menjadi sumber data tertulis baik data primer atau sekunder. Naskah primer atau data primer adalah naskah yang memuat karangan asli dari seseorang (Jujun Surisumantri dalam Mastuhu, 1998:44).
Sedangkan naskah sekunder adalah naskah yang memuat gagasan seseorang yang diterbitkan orang lain atau hal ini adalah naskah yang isinya mendukung subjek penelitian. Sumber data yang diperlukan oleh peneliti diperoleh diantaranya dari
a.         Sumber data primer yaitu al-Qur’an disertai tafsir al-Mishbah karya M.Quraish Shihab surat Al-Imran ayat 79.
b.         Sumber data sekunder terdiri dari
1)        Ilmu Pendidikan Islam Karya Ramayulis.
2)        Ilmu Pendidikan Islam Karya Zakiah Darajat.
3)        Ilmu Pendidikan Islam Karya Nur Uhbiyati
Serta bahan pustaka yaitu buku, makalah, majalah, surat kabar, dokumen resmi, catatan harian dan bacaan lain yang berkaitan dengan tugas pendidik. Menurut Lofland dan Lofland (1984:47) sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sumber data dilakukan sumber kata, tindakan dan tertulis.
  1. Penentuan Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ada dua, diantaranya data kualitatif dan kuantitatif. Maka peneliti menggunakan variable atau jenis data sebagai gejala yang bervariasi, yang menjadi objek penelitian (Suharsimi Arikunto, 1998: 111). Jenis data yang digunakan kualitatif, di mana data yang menerangkan kwalitas suatu objek, sedang data yang berbentuk bilangan disebut data kuantitatif (Sudjana, 1989:4). Berkaitan dengan hal itu pada bagian ini jenis data dibagi ke dalam kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis, foto dan statistic (Lexy.Moleong, 2004:l 12).
Untuk mempermudah mengidentifikasi sumber data maka penulis mengklasifikasikan diantaranya sumber data yang menyajikan tampilan berupa sumber data tertulis yaitu Al Qur’an surat Ali Imran ayat 79.
  1. Pengumpulan Data
Data dengan menggunakan penelaahan terhadap beberapa uraian tafsir. Dalam penelitian normative yang bersumber pada bahan bacaan dilakukan dengan cara penelaahan naskah, terutama studi komperatif. Penulis menggunakan teknik penelitian pustaka (book survey) dengan cara meneliti penafsiran sebagai proses agar dapat dijadikan rujukan.
  1. Analisis dan Penafsiran Data
Pembahasan analisis data meliputi penafsiran data. Menurut Lexy Moleong (2004:190) penafsiran data adalah mencapai data substantive. Sehubungan dengan uraian tentang proses analisis dan penafsiran data selanjutnya mempersoalkan pokok-pokok sebagai berikut: pemrosesan satuan (Unityzing), kategorisasi termasuk pemeriksaan keabsahan data kemudian diakhiri penafsiran data. Analisis data yang dilakukan dengan menggunakan langkah langkah sebagai berikut
  1. Meninjau data secara teoritis tentang tugas pendidik.
  2. Mengkategorikan data dengan pengelompokan dalam pikiran tertentu dari kandungan surat al-Imran yang di kemukakan.
  3. Menyeleksi data yang cocok dengan objek penelitian.
  4. Mengklasifikasikan data yang didapat dari hasil penyeleksian.
  5. Menafsirkan data yang telah diklasifikasikan, yaitu dengan cara menghubungkan kepada kerangka pemikiran, dengan mencari data asimetris.
  6. Menarik kesimpulan keseluruh bahasan yang dikembangkan



DAFTAR PUSTAKA


Abdullah Nashih Ulwan
1992    Kaidah Kaidah Dasar. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Abdurahman An Nahlawi
1992    Prinsip Prinsip dan Metode Pendidikan Islam. Diponegoro, Bandung.

Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati
2000    Ilmu Pendidikan. Rineka Cipta, Jakarta.

Ahmad Tafsir
2001    Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Remaja Rosdakarya, Bandung.

___________
1995    Metodologi Pengajaran Agama Islam. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Ahmad Zayadi
2004    Manusia dan Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur'an. PSPM, Bandung.

Al Liyy
2002    Al-Qur'an dan Terjemahan. Diponegoro, Bandung.

Cik Hasan Bisri
2002    Penuntun Penyusun Rencana Penelitian dan Penulisan Skripsi. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Hasan Langgulung
2001    Asas-Asas Pendidikan Islam. Al-Husna Zikra, Jakarta.

Lexy. J. Moleong
2001    Metodologi Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Manna Khalil al Qattan
2002    Studi Ilmu-Ilmu Qur'an. Litera antar Nusa, Jakarta.

M. Ngalim Purwanto
2000    Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Muhamad Ali
2002    Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru Algensindo, Bandung.

Muhamad Quraish Shihab
1993    Membumikan Al-Qur'an. Mizan, Bandung.

___________
1994    Lentera Hati. Mizan, Bandung.

___________
1995    Mukjizat Al-Qur'an. Mizan, Bandung.

___________
1996    Menyingkap Tabir Ilahi. Lentera Hati, Jakarta.

___________
2000    Tafsir Al-Misbah volume 2. Lentera Hati, Jakarta.

___________
1997    Tafsir Al-Qur'an Al-Karim (Tafsir atas Surat-Surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu). Pustaka Hidayah, Bandung


Zakiah Darajat
1996    Ilmu Pendidikan Islam. Bumi Aksara, Jakarta.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar