Sabtu, 26 Januari 2013

A.Pengertian Gender

Kata gender berasal dari bahasa Inggris berarti “jenis kelamin”. Dalam Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku.
Di dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.

Hilary M. Lips dalam bukunya yang terkenal Sex & Gender: an Introduction mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (cultural expectations for women and men). Pendapat ini sejalan dengan pendapat kaum feminis, seperti Lindsey yang menganggap semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan adalah termasuk bidang kajian gender (What a given society defines as masculine or feminin is a component of gender).

H. T. Wilson dalam Sex and Gender mengartikan gender sebagai suatu dasar untuk menentukan pengaruh faktor budaya dan kehidupan kolektif dalam membedakan laki-laki dan perempuan. Agak sejalan dengan pendapat yang dikutip Showalter yang mengartikan gender lebih dari sekedar pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial budaya, tetapi menekankan gender sebagai konsep analisa dalam mana kita dapat menggunakannya untuk menjelaskan sesuatu (Gender is an analityc concept whose meanings we work to elucidate, and a subject matter we proceed to study as we try to define it).

Kata gender belum masuk dalam perbendaharaan Kamus Besar Bahasa Indonesia, tetapi istilah tersebut sudah lazim digunakan, khususnya di Kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita dengan istilah “jender”. Jender diartikan sebagai “interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan. Jender biasanya dipergunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan”.

Dalam redaksi yang lin juga dikatakan bahwa Gender adalah perbedaan sosial antar laiki-laki dan perempuan yang dititik perankan pada perilaku, fungsi dan peranan masing-masing yang ditentukan oleh kebiasaan masyarakat dimana ia berada atau konsep yang digunakan untuk megidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial budaya.

Pengertian ini memberi petunjuk bahwa hal yang terkait dengan gender adalah sebuah kontruksi sosial. Singkat kata, gender adalah interprestasui budaya terhadap perbedaan jenis kelamin. Sedangkan kodrat adalah segalah sesuatu yang ada pada laki-laki dan perempuan yang sudah ditetapkan oleh Allah dan manusia tidak dapat menguibah dan menolaknya.

Dari pengertian itu tampak perbedaan antara keduanya, yakni gender ditentukan oleh masyarakat, berubah dari waktu ke waktu sesuai perkembangan yang mempengaruhi nilai dan norma-norma masyarakat dan memiliki perbedaan-perbedaan bentuk antar satu masyarakat dengan masyarakat lain.

Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi pengaruh sosial budaya. Gender dalam arti ini adalah suatu bentuk rekayasa masyarakat (social constructions), bukannya sesuatu yang bersifat kodrati.

B. Teori-teori Gender
a. feminisme Liberal
Aliran ini muncul sebagai kritik terhadap politik liberal yang pada umumnya menjunjung tinggi nilai otonomi, bersamaan dan nilai moral serta kebebasan individu, namun pada saat yang sama dianggap mendeskriminasikan perempuan. Dalam mendefinisikan masalah kaum perempuan, mereka tidak melihat struktur dan sistem sebagai pokok persoalan.

Dasar pemikiran teori ini adalah bahwa semua manusia, laki-laki dan perempuan, diciptakan seimbang dan serasi dan semestinya tidak terjadi penindasan antara yang satu dengan yang lainnya. Meskipun demikian, kelompok ini tetap menolak persamaan secara menyeluruh antara laki-laki dan perempuan dalam beberapa hal terutama yang berhubungan dengan fungsi reproduksi aliran ini masi tetap memandang perlu adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Dalam tradisi feminisme liberal penyebab penindasan wanita dikenal sebagai kurangnya kesempatan dan pendidikan mereka secara individual atau kelompok karena itu cara pemecahan untuk mengubahnya adalah menambah kesempatan-kesempatan bagi wanita, terutama melalui institusi-institusi pendidikan dan ekonomi. Landasan sosial bagi teori ini muncul selama revolusi prancis dan masa pencerahan di eropa barat.

b. feminisme Radikal

Aliran ini menganggap bahwa penguasaan fisik perempuan oleh laki-laki seperti hubungan seksual, adalah bentuk dari penindasan terhadap kaum perempuan. Bagi mereka, patriarki adalah dasar dari idiologi penindasan yang merupakan sisitem hirarki seksual, dimana laki-laki memiliki kekuasaan superior dan previlige ekonomi. Menurut kelompok ini perempuan tidak harus tergantung kepada laki-laki bukan saja dalam hal pemenuhan kebendaan tetapi juga pemenuhan kebutuhan seksual perempuan dapat merasakan kehangatan, kemesraaan, dan kepuasaan seksual kepada sesama perempuan, didalam beberapa presfektif feminisme radikal digambarkan bahwa wanita ditindas oleh sistim-sistim sosial patriarkis, yakni penindasan-penindasan yang paling mendasar, penindasan yang paling mendasar seperti eksploitasi jasmaniyah, eteroseksisme dan kelas-isme . agar wanita terbebas dari penindasan maka menutut teori ini harus diadakan perubahan pada masyarakat yang berstruktur pada patriarkis.

c. feminisme Markis

Kelompok ini menolak keyakinan kaum feminis radikal yang menyatakan aspek biologis sebagai perbedaan gender. Bagi mereka penindasan perempuan adalah bagian dari penindasan kelas dalam hubungan produksi. Aliran ini berupaya menghilangkan struktur kelas dalam masyarakat berdasarkan jenis kelamin dan melontarkan isu bahwa ketimpangan peran antar kedua jenis kelamin itu sesungguhnya lebih disebabkan oleh faktor budaya alam. Aliran ini menolak anggapan teradisional dan para teolog bahwa setatus perempuan lebih renda daripada laki-laki karena factor biologis dan latar belakang sejarah. Agak mirip dengan teori konflik. Kelompok ini menganggap posisi inferior perempuan berkaitan dengan setruktur kelas dan keluarga dalam masyarakat kapitalis.

d. Feminisme sosialis

Aliran ini melakukan sintesis antara metode histories materialis marks dan engles dengan gagasan personal ispolitikal dari kaum feminis radikal. Feminis sosialis berpendapat bahwa ketimpangan gender didalam masyarakat adalah akibat penerapan sistem kapitalis yang mendukung terjadinya tenaga kerja tampa upah bagi perempuan didalam rumah tangga. Bagi feminis sosialis ketidak adilan bukan akibat dari perbedaan biologis laki-laki dan perempuan tetapi lebih karena penilaian dan anggapan (social kontruktion) terhadap perbedaan itu. Ketidakadilan juga bukan karena kegiatan produksi atau reproduksi dalam masyarakat, melainkan karena manispestasi ketidak adilan gender yang merupakan konstruksi social. Oleh karena itu yang mereka perangi adalah konstruksi, fisi dan idiologi masyarakat serta struktur dan sistim yang tidak adil yang dibangun atas bias gender. Mereka juga memiliki pandangan bahw apenindasan terhadap perempuan terjadi dikelas manapun, bahkan revolusi sosialis ternyata tidak serta merta menaikan posisi kaum perempuan. Atas dasar itulah mereka menolak visi markis klasik yang meletakan eksploitasi ekonomi sebagai dasar penindasan gender. Sebaliknya, feminisme tampa kesadaran kelas juga menimbulkan masalah. Oleh karena itu analisis patriarkki perlu dikawinkan dengan analisis kelas. Dikalangan feminis sosialis, baik patriarki maupun kelas, dianggap sebagai sumber penindasan utama.
Berbagai macam teori feminisme diatas menunjukan bahwa para feminis memiliki presfektif yang berbeda-beda dalam memandang kedudukan dan kondisi perempuan. Namun dari sekian banyak perbedaan itu, terdapat satu hal yang menjadi titik persamaan. Semua gerakan feminisme memiliki tujuan akhir yang sama, yaitu menuntut hubungan yang adil dan setara natara laki-laki dan perempuan. Ketidak adilan yang bersumber dari perbedaan gender yang selama ini menimpa perempuan diupayakan untuk dihilangkan.

C. Identitas Gender dalam Al-Qur’an

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa identitas gender adalah kekhususan yang melekat pada anak berdasarkan alat kelaminnya seperti anak yang memiliki penis kemudian diberi pakaian dengan motiv dan bentuk sebagaimana layaknya laki-laki, demikian juga yang memiliki vagina. Namuan yang dimaksud disini adalah nama-nama atau symbol-simbol yang sering digunakan Al-Qur’an dalam mengungkapkan jenis kelamin seseorang. Identitas jender dalam Al-Qur’an dapat dipahami melalui simbol yang dikenal dengan istilah sighot mudzakar dan muannas. Adapaun istilah-istilah yang biasa digunakan adalah sebagai berikut :

Ar-Rajul

Secara etimologis, kata ini mengandung beberapa arti mengikat, berjalan kaki, telapak kaki, tumbuh-tumguhan dan laki-laki. Kata ini biasanya digunakan untuk menunjuk laki-laki yang sudah dewasa (sudah akil balig). Dalam penggunaannya, kata ini tidak hanya mengacu pada jenis kelamin biologis tetapi juga laki-laki yang memenuhi kwalifikasi budaya tertentu seperti kejantanan. Oleh karena itu, perempuan yang memiliki sifat-sifat kejantanan disebut rajlah, kata ar-Rajul tidak digunakan untuk spesies selain manusia.
Dalam Al-Qur’an, kata ini disebut 55 kali dengan pengertian yang berbeda-beda yakni: (1) gender laki-laki dalam Qur’an surat Al-Baqoroh (2:282). Termasuk dalam pengertian ini adalah Qur’an Surat An-Nisa (4:234) yang biasanya digunakan utuk menolak kepemimpinan perempuan diruang publik. (2) orang, baik laki-laki maupun perempuan Qur’an Surat Al-A’raf (7:46), (3) Nabi atau Rasul dalam Q.S. Al-Ambiyah (21:7), (4) Tokoh masyarakat dalam Q.S. Yasin (36:20) (5) Budak dalam Q.S. Azzumar (39:29).

Lawan kata dari Ar-Rajul adalah An-Nisa yang berarti perempuan yang sudah matang atau dewasa, oleh karena itu, kata ini biasanya diterjemahkan dengan istri atau perempuan yang sudah berkeluarga seperti perempuan yang sudah kawin (Q.S. An-Nisa, 4:24). Perempuan janda Nabi (Q.S. AnNisa, 22) perempuan mantan istri ayah (Q.S An-Nisa 4:22) perempuan yang ditalak (Q.S. Al-Baqoroh :231) dan istri yang didihar (Q.S. Al-Mujadalah :58:2+3) dengan lkatan sebagaimana imro’ah kata An-Nisa tidak pernah digunakan untuk perempuan dibawah umur. Bahkan kedua kata ini lebih banyak digunakan dalam kaitan tugas reproduksi. Dalam Al-Qur’an kata ini disebut sebayak 59 kali dalam pengertian sebagai berikut : (1) Gender perempuan (Q.S. An-Nisa 4:32), (2)
Istri (Q,S, Al-Baqoroh : 222).

Ad-Dzakar

Kata ini berarti mengisi atau menuangkan, menyebutkan, mengingat, mempelajari, menyebutkan, laki-laki atau jantan. Kata ini lebih berkonotasi biologis seks yang biasa digunakan untuk selain manusia. Lawan katanya adalah al-Untsa dalam Al-Qur’an, kata ini disebutkan sebanyak 18 kali yang kebanyakan menunjuk laki-laki dilihat dari biologis. Hal ini seperti dalam Qur’an Surat Ali-Imran, 3 :36. memang ada ungkapan yang berhubungan dengan fungsi dan relasi gender yang tidak menggunakan rajul dan imra’ah tapi ad-dzakar dan al-untsa seperti ayat tentang waris (Q.S. An-Nisa 4:11) namun ayat ini hendak menegaskan bahwa jenis kelamin apapun, berhak mendapatkan berbagai hak asasinya, termasuk soal warisan dan hak-hak kebendaan lainnya. Apalagi, ayat ini turun sebagai koreksi atas tradisi jahiliyah yang tidak mengenal warisan untuk perempuan. Sebenarnya, subtansi ayat tersebut terletak pada awal ayat “yussikumullahu fi awladikum…….” Dimana kata “aulad” mengandung pengertian laki-laki dan perempuan baik sedikit atau banyak. Penyebutan ad-dzakar dan al-untsa hanya sebagai muqoyyad. Untuk menguatkan argument tersebut bias dibandingkan dengan qur’an surat An-Nisa ayat 176 Ini sebagi petunjuk bahwa perbedaan jenis kelamin tidak mesti melahirkan perbedaan gender. Kata untsa berarti lembek (tidak keras) lemas dan halus. Kata ini disebut sebanyak 30 kali semuanya menunjuk pada jenis kelamin perempuan.

Al-Maru
Kata ini berasal dari mara’ah yang berarti baik atau bermanfaat. Dari kata ini lahir kata al-maru yang berarti laki-laki dan al-mar’ah berarti perempuan dalam Al-Qur’an, kata al-mar’u terulang sebanyak 11 kali yang digunakan untuk pengertian manusia.,, baik laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana kata ar-rajul dan an-nisa, kata ini juga menunjuk pada pengertian amnesia dewasa, suda memiliki kecakapan bertindak atau yang sudah berumah tangga seperti dalam Qur’an surat Abbasa (80:34) dan At-Tur (52:21).
Dari uraian diatas jelas bahwa kata ar-rajul tidak identik dengan ad-dzakar. Semua katagori ar-rajul, termasuk katagori ad-dzakar dan tidak sebaliknya. Demikian juga kata al-mar’u atau imra’ah dan an-nisa tidak identik dengan al-untsa . seseorang laki-laki disebut ar-rajul atau perempuan disebuatan An-Nisa manakalah memenuhi kriteria sosial dan budaya tertentu seperti berumur dewasa, telah berumah tangga, atau telah mempunyai peran tertentu didalam masyarakat.
Dari keterangan diatas kiranya jelas bahwa perbedaan jenis kelamin tidak mesti berimplikasi pada perbedaan gender. perbedaan kualitas antara laki-laki dan perempuan lebih banyak ditenukan seperti ayat diatas oleh usaha yang dilakukan. Oleh karena itu prisip-prinsip kesetaraan gender dalam A-Qur’an tidak dilihat dari jenis kelaminnya, tapi kedudukannya sebagai sama-sama sebagai hambah Allah dan Khalifah-Nya yang sama-sama berpotensi meraih atau gagal berprestasi.








BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi pengaruh sosial budaya. Gender dalam arti ini adalah suatu bentuk rekayasa masyarakat (social constructions), bukannya sesuatu yang bersifat kodrati.
Adapun mengenai teori-teori untuk mengetahui feminisme atau gender sendiri ada empat yaitu :
 Teori feminisme Liberalfeminisme
 Teori feminisme Radikalfeminisme
 Teori feminisme Markis
 Teori feminisme sosialis.
Identitas Gender dalam Al-Qur’an yang dimaksud disini adalah nama-nama atau symbol-simbol yang sering digunakan Al-Qur’an dalam mengungkapkan jenis kelamin seseorang. Identitas jender dalam Al-Qur’an dapat dipahami melalui simbol yang dikenal dengan istilah sighot mudzakar dan muannas. Adapaun istilah-istilah yang biasa digunakan adalah sebagai berikut :
 Ad-Dzakar
 Al-Maru
 Ar-Rajul
Dan jelasnya itu prisip-prinsip kesetaraan gender dalam A-Qur’an tidak dilihat dari jenis kelaminnya, tapi kedudukannya sebagai sama-sama sebagai hambah Allah dan Khalifah-Nya yang sama-sama berpotensi meraih atau gagal berprestasi.





DAFATAR PUSTAKA


 Waryono Abdul Gafur, Tafsir Sosial, Yogyakarat :eLSAQ Press, 2005. Hal.109
 Ahmad Taufiq, Presfektif Gender Kia Pesantren,Kediri: STAIN Kediri Press, 2009 Hal.54
 www.faridakhwan.com


ARADIGMA BARU PENDIDIKAN ISLAM [Sebuah Upaya Menuju Pendidikan yang Memberdayakan]


Pendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju taklif [kedewasaan], baik secara akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban-sebagai seorang hamba [abd] dihadapan Khaliq-nya dan sebagai “pemelihara” [khalifah] pada semesta [Tafsir, 1994]. Dengan demikian, fungsi utama pendidikan adalah mempersiapakn peserta didik [generasi penerus] dengan kemampuan dan keahlian [skill] yang diperlukan agar memiliki kemampuan dan kesiapan untuk terjun ke tengah masyarakat [lingkungan], sebagai tujuan akhir dari pendidikan. Tujuan akhir pendidikan dalam Islam, sebagai proses pembentukan diri peserta didik [manusia] agar sesuai dengan fitrah keberadaannya [al-Attas, 1984]. Hal ini meniscayakan adanya kebebasan gerak bagi setiap elemen dalam dunia pendidikan – terutama peserta didik — untuk mengembangkan diri dan potensi yang dimilikinya secara maksimal. Pada masa kejayaan Islam, pendidikan telah mampu menjalankan perannya sebagai wadah pemberdayaan peserta didik, namun seiring dengan kemunduran dunia Islam, dunia pendidikan Islam pun turut mengalami kemunduran. Bahkan dalam paradigma pun terjadi pergeseran dari paradigma aktif-progresif menjadi pasid-defensif. Akibatnya, pendidikan Islam mengalami proses ‘isolasi diri’ dan termarginalkan dari lingkungan di mana ia berada. Dalam lintasan sejarah peradaban Islam, peran pendidikan ini benar-benar bisa dilaksanakan pada masa-masa kejayaan Islam. Hal ini dapat kita saksikan, di mana pendidikan benar-benar mampu membentuk peradaban sehingga peradaban Islam menjadi peradaban terdepan sekaligus peradaban yang mewarnai sepanjang Jazirah Arab, Asia Barat hingga Eropa Timur. Untuk itu, adanya sebuah paradigma pendidikan yang memberdayakan peserta didik merupakan sebuah keniscayaan. Kemajuan peradaban dan kebudayaan Islam pada masa kejayaan sepanjang abad pertengahan, di mana peradaban dan kebudayaan Islam berhasil menguasai jazirah Arab, Asia Barat dan Eropa Timur, tidak dapat dilepaskan dari adanya sistem dan paradigma pendidikan yang dilaksanakan pada masa tersebut [M. Khoirul Anam,From:
http://www.pendidikan.net/mk-anam.html,akses: 12/8/2003]. Proses pendidikan yang berakar dari kebudayaan, berbeda dengan praksis pendidikan yang terjadi dewasa ini yang cenderung mengalienasikan proses pendidikan dari kebudayaan. Kita memerlukan suatu perubahan paradigma [paradigma shift] dari pendidikan untuk menghadapi proses globalisasi dan menata kembali kehidupan masyarakat Indonesia. Cita-cita era reformasi tidak lain ialah membangun suatu masyarakat madani Indonesia [H.A.R. Tilaar, 1999:168], oleh karena itu, arah perubahan paradigma baru pendidikan Islam diarahkan untuk terbentuknya masyarakat madani Indonesia tersebut. Arah perubahan paradigma pendidikan dari paradigma lama ke paradigma baru, terdapat berbagai aspek mendasar dari upaya perubahan tersebut, yaitu, Pertama, paradigma lama terlihat upaya pendidikan lebih cenderung pada : sentralistik, kebijakan lebih bersifat top down, orientasi pengembangan pendidikan lebih bersifat parsial, pendidikan didisain untuk sektor pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik, keamanan, serta teknologi perakitan. Peran pemerintah sangat dominan dalam kebijakan pendidikan, dan lemahnya peran institusi pendidikan dan institusi non-sekolah. Kedua, paradigma baru, orientasi pendidikan pada: disentralistik, kebijakan pendidikan bersifat bottom up, orientasi pengembangan pendidikan lebih bersifat holistik; artinya pendidikan itekankan pada pengembangan kesadaran untuk bersatu dalam kemajemukan budaya, kemajemukan berpikir, menjunjung tinggi nilai moral, kemanusiaan dan agama, kesadaran kreatif, produktif, dan kesadaran hukum. Peran serta masyarakat secara kualitatif dan kuantitatif dalam upaya pengembangan pendidikan, pemberdayaan institusi masyarakat, seperti keluarga, LSM, pesantren, dunia usaha [Fasli Jalal, 2001: 5], lemabag-lembaga kerja, dan pelatihan, dalam upaya pengelolaan dan pengembangan pendidikan, yang diorientasikan kepada terbentuknya masyarakat Indonesia berkualitas dan kritis. Berdasarkan pandangan ini, pendidikan yang dikelola lembaga-pelmabaga Islam sudah harus diupayakan untuk mengalihkan paradigma yang berorientasi ke masa lalu [abad pertengahan] ke paradigma yang berorientasi ke masa depan, yaitu mengalihkan dari paradigma pendidikan yang hanya mengawetkan kemajuan, ke paradigma pendidikan yang merintis kemajuan, mengalihkan paradigma dari yang berwatak feodal ke paradigma pendidikan berjiwa demokrati [Winarno Surakhmad, From: http://www. Bpk penabur.or.id / kps-jkt/berita/200006/ artikel2.htm, 27 Mei 2002]. Mengalihkan paradigma dari pendidikan sentralisasi ke paradigma pendidikan desentralisasi, sehingga menjadi pendidikan Islam yang kaya dalam keberagaman, dengan titik berat pada peran masyarakat dan peserta didik. Proses pendidikan perlu dilakukan “kesetaraan perlakuan sektor pendidikan dengan sektor lain, pendidikan berorientasi rekonstruksi sosial, pendidikan dalam rangka pemberdayaan umat dan bangsa, pemberdayaan infrastruktur sosial untuk kemajuan pendidikan. Pembentukan kemandirian dan keberdayaan untuk mencapai keunggulan, penciptaan iklim yang kondusif untuk tumbuhnya toleransi dan konsensus dalam kemajemukan. Dari pandangan ini, berarti diperlukan perencanaan terpadu secara horizontal antarsektor dan vertikal antar jenjang – bottom-up dan top-down planning, pendidikan harus berorientasi pada peserta didik dan pendidikan harus bersifat multikultural serta pendidikan dengan perspektif global” [Fasli Jalal, 2001: 5].
Rumusan paradigma pendidikan tersebut, paling tidak memberikan arah sesuai dengan arah pendidikan, yang secara makro dituntut menghantarkan masyarakat menuju masyarakat Indonesia yang demokratis, relegius, kritis. Berkualitas, dan tangguh dalam menghadapi lingkungan global. Maka upaya pembaruan pendidikan Islam, perlu ada ikhtiar yaitu strategi kebijakan perubahan diletakan pada upaya menangkap kesempatan perubahan, maka mau tidak maun, pendidikan Islam harus meninggalkan paradigma lama menuju paradigma baru, berorientasi pada masa depan, merintis kemajuan, berjiwa demokratis, bersifat desentralistik, berorientasi pada peserta didik, bersifat multicultural, berorientasi pada perspektif global, sehingga terbentuk paradigma pendidikan yang berkualitas dalam menghadapi tantangan prubahan global menuju terbentuknya masyarakat Indonesia yang demokratis, kritis, dan berkualitas. Pada dataran konsep, pendidikan baik formal maupun non formal “pada dasarnya memiliki peran penting melegitimasi bahkan melanggengkan sistem dan struktur sosial yang ada dan sebaliknya pendidikan merupakan proses perubahn sosial. Tetapi, peran pendidikan terhadap sistem dan struktur sosial tersebut, sangat bergantung pada paradigma pendidikan yang mendasarinya” [Mansour Fakih,2002: 18]. Dari pandangan di atas, dapat dikatakan peran pendidikan Islam mestinya bukan hanya “dipahami dalam konteks mikro [kepentingan anak didik yang dilayani melalui proses interaksi pendidikan], melainkan juga dalam konteks makro, yaitu kepentingan masyarakat yang dalam hal ini termasuk masyarakat bangsa, negara dan bahkan juga kemanusiaan pada umumnya” [ Fasli Jalal, 2001:16-17.], sehingga pendidikan Islam terintegrasi antara proses belajar di sekolah dengan belajar di masyarakat [learning society]. Brubacher dalam bukunya, Modern Philosophies of Education [1978], menyatakan hubungan pendidikan dengan masyarakat mencakup hubungan pendidikan dengan perubahan sosial, tatanan ekonomi, politik dan negara, karena pendidikan itu terjadi di masyarakat, dengan sumber daya masyarakat, dan untuk masyarakat, maka pendidikan dituntut untuk mampu memperhitungkan dan melakukan antisipasi terhadap perkembangan sosial, ekonomi, politik dan kenegaraan secara simultan. Sedangkan, secara mikro pendidikan senantiasa memperhitungkan individualitas atau karakteristik perbedaan antara individu peserta didik [Fasli Jalal, 2001: 16], dalam kerangka interaksi proses belajar. Kerangka acuan pemikiran dalam penataan dan pengembangan sistem pendidikan Islam, harus mampu mengakomodasikan berbagai pandangan secara selektif sehingga terdapat keterpaduan dalam konsep, yaitu : Pertama, pendidikan harus membangun prinsip kesetaraan antara sektor pendidikan dengan sektor-sektor lain. Pendidikan harus senantiasa bersama-sama dengan sistem lain untuk mewujudkan cita-cita masyarakat Indonesia yang berkualitas dan kritis. Oleh karena itu, pendidikan bukan
merupakan sesuatu yang eksklusif dan terpisah dari masyarakat dan sistem sosialnya,
tetapi pendidikan sebagai suatu sistem terbuka dan senantiasa berinteraksi dengan
masyarakat dan lingkungannya. Kedua, pendidikan merupakan wahana pemberdayaan
masyarakat dengan mengutamakan penciptaan dan pemeliharaan sumber yang
berpengaruh, seperti keluarga, sekolah, media massa, dan dunia usaha. Ketiga, prinsip
pemberdayaan masyarakat dengan segenap institusi sosial yang ada di dalamnya,
terutama institusi yang dilekatkan dengan fungsi mendidik generasi penerus bangsa.
Seperti pesantren, keluarga, dan berbagai wadah organisasi pemuda, diberdayakan
untuk dapat mengembangkan fungsi pendidikan dengan baik serta menjadi bagian yang
terpadu dari pendidikan. Keempat, prinsip kemandirian dalam pendidikan dan prinsip
pemerataan menurut warga negara secara individual maupun kolektif untuk memiliki
kemampuan bersaing dan sekaligus kemampuan bekerja sama. Kelima, dalam kondisi
masyarakat pluralistik diperlukan prinsip toleransi dan konsensus. Untuk itu, pendidikan
sebagai wahana pemberdayaan masyarakat dengan mengutamakan penciptaan dan
pemeliharaan sumber-sumber tersebut secara dinamik. Keenam, prinsip perencanaan
pendidikan. Pendidikan selalu dituntut untuk cepat tanggap atas perubahan yang terjadi
dan melakukan upaya yang tepat secara normatif sesuai dengan cita-cita masyarakat
Indonesia baru. Pendidikan selalu bersifat progresif tidak resisten terhadap perubahan,
sehingga mampu mengendalikan dan mengantisipasi arah perubahan. Ketujuh, prinsip
rekonstruksionis, bahwa kondisi masyarakat selalu menghendaki perubahan mendasar.
Maka pendidikan harus mampu menghasilkan produk-produk yang dibutuhkan oleh
perubahan tersebut. Paham rekonstruksionis mengkritik pandangan pragmatis sebagai
suatu pandangan yang cocok untuk kondisi yang relatif stabil. Pendekatan pemecahan
masalah bersifat lebih berorientasi masa kini, sedangkan pendekatan rekonstruksionis
lebih berorientasi masa depan dengan tetap berpijak pada kondisi sekarang. Kedelapan,
prinsip pendidikan berorientasi pada peserta didik. Dalam memberikan pelayanan
pendidikan, sifat-sifat peserta didik yang umum maupun yang spesifik harus menjadi
pertimbangan. Layanan pendidikan untuk kelompok usia anak berbeda dengan remaja
dan dewasa, termasuk perbedaan pelayanan bagi kelompok anak-anak berkelainan fisik
dan mental termasuk pendekatan pendidikan bagi anak-anak di daerah terpencil tidak
dapat disamakan dengan anak-anak di perkotaan. Kesembilan, prinsip pendidikan
multicultural, bahwa sistem pendidikan harus memahami bahwa masyarakat yang
dilayaninya bersifat plural, sehingga pluralisme harus menjadi acuan dalam
mengembangkan pendidikan dan pendidikan dapat mendayagunakan perbedaan
tersebut sebagai sumber dinamika yang bersifat posetif dan konstruktif. Kesepuluh,
pendidikan dengan prinsip global, artinya pendidikan harus berperan dan harus
menyiapkan peserta didik dalam konstelasi masyarakat global [Fasli Jalal, 2001:16-17].
Dari gambaran masa kejayaan dunia pendidikan Islam pada pendahuluan di atas,
terdapat beberapa hal yang dapat digunakan sebagai upaya untuk kembali
membangkitkan dan menempatkan dunia pendidikan Islam pada peran yang semestinya
sekaligus menata ulang paradigma pendidikan Islam sehingga kembali bersifat aktif-
progresif, yakni : Pertama, menempatkan kembali seluruh aktifitas pendidikan [talab al-
ilm] di bawah frame work agama. Artinya, seluruh aktifitas intelektual senantiasa
dilandasi oleh nilai-nilai agama, di mana tujuan akhir dari seluruh aktifitas tersebut
adalah upaya menegakkan agama dan mencari ridlo Allah. Kedua, adanya perimbangan
[balancing] antara disiplin ilmu agama dan pengembangan intelektualitas dalam
kurikulum pendidikan. Salah satu faktor utama dari marginalisasi dalam dunia
pendidikan Islam adalah kecenderungan untuk lebih menitik beratkan pada kajian
agama dan memberikan porsi yang berimbang pada pengembangan ilmu non-agama,
bahkan menolak kajian-kajian non-agama. Oleh karena itu, penyeimbangan antara
materi agama dan non-agama dalam dunia pendidikan Islam adalah sebuah
keniscayaan jika ingin dunia pendidikan Islam kembali survive di tengah masyarakat.
Ketiga, perlu diberikan kebebasan kepada civitas akademika untuk melakukan
pengembangan keilmuan secara maksimal.. Karena, selama masa kemunduran Islam,
tercipta banyak sekat dan wilayah terlarang bagi perdebatan dan perbedaan pendapat
yang mengakibatkan sempitnya wilayah pengembangan intelektual. Dengan
menghilangkan ,minimal membuka kembali, sekat dan wilayah-wilayah yang selama ini
terlarang bagi perdebatan, maka wilayah pengembangan intelektual akan semakin luas
yang, tentunya, akan membuka peluang lebih lebar bagi pengembangan keilmuan di
dunia pendidikan Islam pada khususnya dan dunia Islam pada umumnya. Keempat,
mulai mencoba melaksanakan strategi pendidikan yang membumi. Artinya, strategi yang
dilaksanakan disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan di mana proses
pendidikan tersebut dilaksanakan. Selain itu, materi-materi yang diberikan juga
disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada, setidaknya selalu ada materi yang
applicable dan memiliki relasi dengan kenyataan faktual yang ada. Dengan strategi ini
diharapkan pendidikan Islam akan mampu menghasilkan sumber daya yang benar-
benar mampu menghadapi tantangan jaman dan peka terhadap lingkungan [M. Khoirul
Anam,From:
http://www. pendidikan.net/mk-anam.html,akses: 12/8/2003]. Faktor lain
yang membantu adalah adanya perhatian dan dukungan para pemimpin [pemerintah]
atas proses penggalian dan pembangkitan dunia pendidikan Islam ini. Perhatian dan
dukungan pemerintah akan mampu mempercepat penemuan kembali paradigma
pendidikan Islam yang aktif-progresif, yang dengannya diharapkan dunia pendidikan
Islam dapat kembali mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana pemberdayaan dan
pendewasaan umat
Dari pandangan di atas, dapat dikatakan bahwa untuk membangun pendidikan
Islam berwawasan global bukan persoalan mudah, karena pada waktu bersamaan
pendidikan Islam harus memiliki kewajiban untuk melestarikan, menamkan nilai-nilai
ajaran Islam dan dipihak lain berusaha untuk menanamkan karaktek budaya nasional
Indonesia dan budaya global. Upaya untuk membangun pendidikan Islam yang
berwawasan global dapat dilaksanakan dengan langkah-langkah yang terencana dan
strategis. Misalnya saja, bangsa Jepang tetap merupakan satu contoh bangsa yang
mengglobal dengan tanpa kehilangan karakternya sebagai suatu bangsa, meskipun saat
sekarang ini “konsep nationalstate mulai diragukan, dan diganti dengan nelfare state
bahkan global state yang tidak lagi mengenal tapal batas (borderless) karena kemajuan
teknologi informasi, tetapi pembinaan karaktek nasional tetap relevan dan bahkan harus
dilakukan” [Fasli Jalal, 2001:18] yang maju dengan tetap kental dengan nilai-nilai tradisi
dan nilai-nilai relegius. Dengan contoh bangsa Jepang tersebut, sebenarnya pembinaan
dan pembentukan nilai-nilai Islam tetap relevan, bahkan tetap dibutuhkan dan harus
dilakukan sebagai “kapital spritual” untuk masyarakat dan bangsa Indonesia dalam
menghadapi tantangan global menuju masyarakat madani Indonesia. Dari pandangan
ini, tergambar bahwa peran pendidikan sangatlah senteral dalam kehidupan masyarakat
yang senantiasa mengalami penggeseran, sementara “sistem sosial, politik, dan
ekonomi bangsa selalu menjadi penentu dalam penetapan dan pengembangan peran
pendidikan” Fasli Jalal, 2001: 6].
Pendidikan Islam harus dapat megembangkan kemampuan dan tingkah laku
manusia yang dapat menjawab tantangan internal maupun tantangan global menuju
masyarakat Indonesia yang demokratis, berkualitas, dan kritis. Pendidikan harus
dikembangkan berdasarkan tuntutan acuan perubahan tersebut dan berdasarkan
karakteristik masyarakat yang demokratis, berkualitas dan kritis. Sedangkan untuk
menghadapi kehidupan global, proses pendidikan Islam yang diperlukan adalah mampu
mengembangkan kemampuan berkompetisi, kemampuan kerja sama, mengembangkan
sikap inovatif, serta meningkatkan kualitas. Dengan acuan ini, secara pasti yang akan
terjadi adalah penggeseran paradigma pendidikan, sehingga kebijakan dan strategi
pengembangan pendidikan perlu diletakan untuk menangkap dan memanfaatkan
semaksimal mungkin kesempatan tersebut, apabila tidak, maka pendidikan Islam akan
menjadi pendidikan yang “termarginalkan” dan tertinggal ditengah-tengah kehidupan
masyarakat global.
Pergeseran drastis paradigma pendidikan sedang terjadi, dengan terjadinya
aliran informasi dan pengetahuan yang begitu cepat dengan efisiensi penggunaan jasa
teknologi informasi internet yang memungkinkan tembusnya batas-batas dimensi ruang,
birokrasi, kemampuan dan waktu. Penggeseran paradigma tersebut juga didukung
dengan adanya kemauan dan upaya untuk melakukan reformasi total diberbagai aspek
kehidupan bangsa dan negara menuju masyarakat madani Indonesia, termasuk
pendidikan. Oleh karena itu, pergeseran paradigma pendidikan tersebut juga diakui
sebagai akibat konsekuensi logis dari perubahan masyarakat, yaitu berupa keinginan
untuk merubah kehidupan masyarakat Indonesia yang demokratis, berkeadilan,
menghargai hak asasi manusia, taat hukum, menghargai perbedaan dan terbuka menuju
masyarakat madani Indonesia.
Selanjutnya, terjadi perubahan paradigma pendidikan juga sebagai akibat dari
“percepatan aliran ilmu pengetahuan yang akan menantang sistem pendidikan
konvensional yang antara lain sumber ilmu pengetahuan tidak lagi terpusat pada
lembaga pendidikan formal [SD,SMP,SMU,PT] yang konvensional. Sumber ilmu
pengetahuan akan tersebar dimana-mana dan setiap orang akan dengan mudah
memperoleh pengetahuan tanpa kesulitan. Paradigma ini dikenal sebagai distributed
intelligence [distributed knowledge]” [Onno W. Purbo, From: http:// www. detik. com/net/
onno/ jurnal/ 20004/ aplikasi/ pendidikan/p-19.shtml. 2000]. Kondisi ini, akan
berpengaruh pada fungsi tenaga pendidik [guru dan dosen] dan lembaga pendidikan
“akhirnya beralih dari sebuah sumber ilmu pengetahuan menjadi “mediator” dari ilmu
pengetahuan tersebut. Proses long life learning dalam dunia pendidikan informal yang
sifatnya lebih learning based dari pada teaching based akan menjadi kunci
perkembangan sumber daya manusia. Peranan web, homepage, cd-rom merupakan
alat bantu yang akan sangat mempercepat proses distributed knowledge semakin
berkembang. Hal ini, secara langsung akan menetang sistem kurikulum yang rigid dan
sifatnya terpusat dan mapan yang kini lebih banyak dianut dan lebih difokuskan pada
pengajaran [teaching] dan kurang pada pendidikan [learning-based]” [Onno W. Purbo,
From: http:// www. detik. com/net/ onno/ jurnal/ 20004/ aplikasi/ pendidikan/p-19.shtml.
2000]. Ilmu pengetahuan akan terbentuk secara kolektif dari banyak pemikiran yang
sifatnya konsensus bersama dan tidak terikat pada dimensi birokrasi atau struktural.
Pendidikan Islam harus mulai berbenah diri dengan menyusun strategi untuk
dapat menyongsong dan dapat menjawab tantangan perubahan tersebut, apabila tidak
maka pendidikan Islam akan tertinggal dalam persaingan global. Maka dalam menyusun
strategi untuk menjawab tantangan perubahan tersebut, paling tidak harus
memperhatikan beberapa ciri, yaitu: [a] Pendidikan Islam diupayakan lebih diorientasikan
atau “lebih menekankan pada upaya proses pembelajaran [learning] daripada mengajar
[teaching]”. [b] Pendidikan Islam dapat “diorganisir dalam suatu struktur yang lebih
bersifat fleksibel”. [c] Pendidikan Islam dapat “memperlakukan peserta didik sebagai
individu yang memiliki karakteristik khusus dan mandiri”, dan [d] Pendidikan Islam,
“merupakan proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi dengan
lingkungan” [Zamroni,2000:9]. Keempat ciri ini, dapat disebut dengan paradigma
pendidikan sistematik-organik yang menuntut pendidikan bersifat double tracks, artinya
pendidikan sebagai suatu proses yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan dan
dinamika masyarakat.
Dalam “pelaksanaan pendidikan senantiasa mengaitkan proses pendidikan
dengan kebutuhan masyarakatnya pada umumnya dan dunia kerja pada khususnya.
Karena keterkaitan ini memiliki arti, bahwa peserta didik tidak hanya ditentukan oleh
apa yang mereka lakukan di lingkungan sekolah, melainkan peserta didik juga ditentukan
oleh apa yang mereka kerjakan di dunia kerja dan di masyarakat pada umumnya” [
Zamroni, 2000:9]. Dengan kata lain pendidikan yang bersifat double tracks, menekankan
pengembangkan pengetahuan melalui kombinasi terpadu antara tuntutan kebutuhan
masyarakat, dunia kerja, pelatihan, dan pendidikan formal persekolahan, sehingga
“sistem pendidikan akan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan
fleksibilitas yang tinggi untuk menyesuaikan dengan tuntutan masyarakat yang
senantiasa berubah dengan cepat” [Zamroni,2000:9].
Berdasarkan pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa “paradigma baru
pendidikan Islam yang dimaksud di sini adalah pemikiran yang terus-menerus harus
dikembangkan melalui pendidikan untuk merebut kembali kepemimpinan Iptek,
sebagaimana zaman keemasan dulu. Pencarian paradigma baru dalam pendidikan
Islam dimulai dari konsep manusia menurut Islam, pandangan Islam terhadap Iptek, dan
setelah itu baru dirumuskan konsep atau sistem pendidikan Islam secara utuh” [Mastuhu,
1999:15]. Pendidikan Islam harus dikembangkan berdasarkan paradigma yang
berorientasi pada:

[1] Paradigma baru pendidikan Islam harus didasarkan pada filsafat
teocentris dan antroposentris sekaligus. Pendidikan Islam yang ingin dikembangkan
adalah pendidikan yang menghilangkan atau tidak ada dikotomi antara ilmu dan agama,
serta ilmu tidak bebas nilai tetapi bebas dinilai. Selain itu, mengajarkan agama dengan
bahasa ilmu pengetahuan dan tidak hanya mengajarkan sisi tradisional, melainkan juga
sisi rasional” [Mastuhu,1999:15].

[2] Pendidikan Islam mampu membangun keilmuan
dan kemajuan kehidupan yang integratif antara nilai spritual, moral dan meterial bagi
kehidupan manusia.

[3] Pendidikan Islam mampu membangun kompotisi manusia dan
mempersiapkan kehidupan yang lebih baik berupa manusia demokratis, kompetetif,
inovatif berdasarkan nilai-nilai Islam.

[4] Pendidikan Islam harus disusun atas dasar
kondisi lingkungan masyarakat, baik kondisi masa kini maupun kondisi pada masa akan
datang, karena perubahan kondisi lingkungan merupakan tantangan dan peluang yang
harus diproses secara capat dan tepat. Pendidikan Islam yang dikembangkan selalu
diorientasikan pada perubahan lingkungan, karena pendekatan masa lalu hanya cocok
untuk situasi masa lalu dan sering tidak tepat jika diterapkan pada kondisi berbeda,
bahkan sering kali menimbulkan problem yang dapat memundurkan dunia pendidikan.

[5] Pembaruan pendidikan Islam diupayakan untuk memberdayakan potensi umat yang
disesuai dengan kebutuhan kehidupan masyarakat madani. Sistem pendidikan Islam
harus dikembangkan berdasarkan karakteristik masyarakat madani yang demokratisasi,
memiliki kemampuan partisipasi sosial, mentaati dan menghargai supermasi hukum,
menghargai hak asasi manusia, menghargai perbedaan [pluralisme], memiliki
kemampuan kompotetif dan kemampuan inovatif. [6] Penyelenggaraan pendidikan Islam
harus diubah berdasarkan pendidikan demokratis dan pendidikan yang bersifat
sentralistik baik dalam manajemen maupun dalam penyusunan kurikulum harus
disesuaikan dengan tuntutan pendidikan demokratis dan desentralistik. Pendidikan
Islam harus mampu mengembangkan kemampuan untuk berpartisipasi di dalam dunia
kerja, mengembangkan sikap dan kemampuan inovatif serta meningkatkan kualitas
manusia. [7] Pendidikan Islam lebih menekankan dan diorientasikan pada proses
pembelajaran, diorganisir dalam struktur yang lebih bersifat fleksibel, menghargai dan
memperlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi untuk berkembang,
dan diupayakan sebagai proses berkesinambungan serta senantiasa berinteraksi
dengan lingkungan. [8] Pendidikan Islam harus di arahkan pada dua dimensi, yaitu
“Pertama, dimensi dialektika [horizontal] yaitu pendidikan hendaknya dapat
mengembangkan pemahaman tentang kehidupan manusia dalam hubungannya dengan
lingkungan sosialnya dan manusia harus mampu mengatasi tantangan dunia sekitarnya
melalui pengembangan iptek, dan Kedua, dimensi ketunduhan vertikal, yaitu pendidikan
selain sarana untuk memantapkan, memelihara sumberdaya alam dan lingkungannya,
juga memahami hubungannya dengan Sang Maha Pencipta, yaitu Allah Swt” [ Hujair AH.
Sanaky,1999:11]. [9] Pendidikan Islam lebih diorientasikan pada upaya “pendidikan
sebagai proses pembebasan, pendidikan sebagai proses pencerdasan, pendidikan
menjunjung tinggi hak-hak anak, pendidikan menghasilkan tindakan perdamaian,
pendidikan sebagai proses pemberdayaan potensi manusia, pendidikan menjadikan
anak berwawasan integratif, pendidikan sebagai wahana membangun watak persatuan,
pendidikan menghasilkan manusia demokratik, pendidikan menghasilkan manusia
perduli terhadap lingkungan”, dan harus dibangun suatu pandangan bahwa “sekolah
bukan satu-satunya instrumen pendidikan” [ Djohar,“Soal Reformasi Pendidikan Omong
Kosong, Tanpa Mengubah UU No.2/89”, Kedaulatan Rakyat, 4 Mei 1999, Yogyakarta],
karena pada era informasi sekarang ini, informasi ilmu pengetahuan dapat diperoleh dari
berbagai media ilektornik dan media massa, seperti : internet dengan peran web,
homepage, cd-rom, diskusi di internet, dan televisi, radio, surat kabar, majalah yang
merupakan alat bantu yang akan sangat mempercepat proses distributed knowledge.
Paradigma lama pendidikan Islam yang telah terbangun sejak abad pertengahan
[periode Islam], dengan mengkaji dan mempelajari teks-teks keagamaan dengan metode
hafalan, bersifat mekanis, mengutamakan pengkayaan materi, sudah harus ditinggalkan
untuk menuju paradigma baru pendidikan. Faisal Ismail, menyatakan bahwa pendidikan
dan pengajaran dalam Islam bukanlah sekedar kegiatan untuk mewariskan harta
kebudayaan dari generasi terdahulu kepada generasi penggantinya yang hanya
memungkinkan bersifat reseptif, pasif, menerima begitu saja. Akan tetapi pendidikan
Islam harus berusaha mengembangkan dan melatih peserta didik untuk lebih bersifat
direktif, mendorong agar selalu berupaya maju, kreatif dan berjiwa membangun.
Pendidikan Islam harus berorientasi kepada pembangunan dan pembaruan,
pengembangan kreativitas, intelektualitas, keterampilan, kecakapan penalaran yang
dilandasai dengan “keluhuran moral” dan “kepribadian”, sehingga pendidikan Islam
akan mampu mempertahankan relevansinya di tengah-tengah laju pembangunan dan
pembaruan paradigma sekarang ini, sehigga pendidikan Islam akan melahirkan
manusia yang belajar terus [long life education], mandiri, disiplin, terbuka, inovatif,
mampu memecahkan dan menyelesaikan berbagai problem kehidupan [Faisal
Ismail,1998:97-98], serta berdayaguna bagi kehidupan dirinya dan masyarakat.
Paradigma baru pendidikan Islam harus diorientasikan kepada pembangunan,
pembaruan, pengembangan kreativitas, intelektualisme, keterampilan, kecakapan,
penalaran, inovatif, mandiri, disiplin dan taat hukum, terbuka dalam masyarakat plural,
dan mampu menghadapi serta menyelesaikan persoalan pada era globalisasi dengan
dilandasi keanggunan moral dan akhlak dalam usaha membangun manusia dan
masyarakat yang berkualitas bagi kehidupan dalam masyarakat madani Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir, 1994, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Remaja Rosdakarya,
Bandung.
Djohar,“Soal Reformasi Pendidikan Omong Kosong,Tanpa Mengubah UU No.2/89”,
Kedaulatan Rakyat,4 Mei 1999, Yogyakarta.
Faisal Ismail, 1998, Paradigma Kebudayaan Islam Studi Kritis dan Refleksi Historis,
Tiara Ilahi Press, Yogyakarta.
Fasli Jalal, 2001, Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah, Aditia
Yogyakarta.
H.A.R. Tilaar, 1999, Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia,
Strategi Reformasi Pendidikan Nasional, Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.
Hujair AH. Sanaky, 1999, “Studi Pemikiran Pendidikan Islam Modern”, Jurnal Pendidikan
Islam, Konsep dan Implementasi, Volume V Th IV, ISSN: 0853 – 7437, FIAI UII,
Yogyakarta, Agustus 1999.
Mansour Fakih, 2002, Pendidikan Popular Membangun Kesadaran Kritis, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta.
Mastuhu, 1999, Pemberdayakan Sistem Pendidikan Islam, Logos, Jakarta.
M. Khoirul Anam,From:
http://www. pendidikan.net/mk-anam.html,akses: 12/8/2003.
Muhmmad al-Nauquib al-Attas, 1984, Konsep Pendidikan dlam Islam, Suatu Rangka
Pikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam, Mizan, Bandung.
Onno W. Purbo, Tantangan Bagi Pendidikan Indonesia, From: http:// www. detik.
com/net/ onno/ jurnal/ 20004/ aplikasi/ pendidikan/p-19.shtml. 2000.
FILOSOFI : HAKIKAT PENGETAHUAN
TheNature of Knowledge : Filsafat Lain-Worldly


Banding ke alam supranatural untuk pengetahuan tentang yang baik telah merupakan sebuah berdiri-panjang dan tradisi yang hampir universal antara manusia. Memang satu kelompok lain-wordly "filsafat" menciptakan agama oleh manusia, telah berakar mendalam di masa lalu prasejarah. Ontologi ini "filsafat agama," tentu saja, didasarkan pada dunia supernatural-lain para dewa. Lain, lebih baru, kelompok lain-wordly filsafat berawal di Athena kuno dan didasarkan pada dunia lain supernatural - ide.
Sejarah peradaban Westen menunjukkan bahwa kedua konsepsi realitas lain-wordly (ontologi) telah sangat mempengaruhi budaya kita dan kurikulum dari luar.

Dunia Lain Dari Dewa

Pada zaman primitif kepala suku dan orang yang memandang obat untuk pengetahuan khusus tentang kebaikan karena percaya bahwa mereka telah membentuk jalur komunikasi dengan dunia luar yang superior dewa indra. firaun Mesir, para nabi Ibrani , nubuat Yunani awal , kaisar dari Kekaisaran Roma , paus Kristen , dan raja-raja Eropa postmedieval semua mengklaim status khusus berdasarkan akses mereka terhadap pengetahuan tidak tersedia di alam eksistensi duniawi.
Dunia lain para dewa, tentu saja, dianggap jauh lebih unggul dengan dunia di mana manusia biasa hidup. Dikatakan berada di didiami oleh makhluk yang dianugerahi dengan kekuatan super dan kecerdasan sempurna. Sering juga, itu dipandang sebagai tempat tinggal utama manusia khususnya yang saleh, yang imbalan setelah kematian enternal asosiasi dengan penduduk agung lain dunia).
Jelas , pengetahuan yang superbeings berkenan untuk mengirimkan kepada earthlings dianggap jauh lebih berharga daripada yang mungkin berasal dari dunia ini. Jadi, ketika diyakini bahwa pengetahuan tersebut telah dikomunikasikan, itu sangat berharga, dan hati-hati diambil untuk memastikan pelestarian untuk generasi mendatang.
Kebangkitan agama-agama monoteistik meningkatkan status dua tempat woridly lain dan penduduk utamanya. Ibrani khususnya mengembangkan konsep surga sebagai realitas terakhir dan sempurna dan konsep satu Tuhan sebagai semua tahu, semua kuat, dan semua yang baik Maha tinggi. Tidaklah mengherankan, kemudian, bahwa pengetahuan tentang Allah yang baik dan pengetahuan itu akan dianggap satu dan sama oleh Ibrani (Thut 1957, hal. 74, 76).




Allah menyatakan kehendak-Nya Surat Ibrani selama periode waktu yang agak besar. Ia berkomunikasi dengan Adam dan Hawa, Abraham, Ishak, Nuh, Yusuf, Musa, para nabi, dan lainnya dipilih khusus agen. Account tertulis dari komunikasi ini, tentu saja, adalah apa yang merupakan Perjanjian Lama. Substansial ini mengungkapkan pengetahuan adalah apa yang orang-orang Yahudi umumnya datang menganggap sebagai kata penuh dan final Allah. Dan sementara ia percaya bahwa Allah memelihara minat aktif dalam umat-Nya (bantuan-Nya masih diperlukan dalam menghadapi kelemahan manusia dan tuntutan kehidupan sehari-hari), pengetahuan yang mendalam tentang kehendak Allah adalah tetap dianggap jalan pasti menuju kehidupan yang baik .
Pada prinsipnya, tradisi Kristen pada dasarnya sama dengan Yahudi. Bahkan, orang Kristen siap menerima Perjanjian Lama, tetapi bukan sebagai kata penuh dan final Allah. Mereka percaya bahwa Yesus, nabi sejati terakhir dan Anak Allah, diutus oleh Allah untuk mengungkapkan pengetahuan tambahan, tanpa kehidupan yang baik yang tidak mungkin. Tambahan pengetahuan ini, tentu saja, dicatat dalam Perjanjian Baru, yang seperti Lama, yang akan diterima pada iman sebagai pedoman saja pastikan untuk keselamatan. Sebagai Thut (1975, hal 80) menunjukkan, validitas ini mengungkapkan tubuh pengetahuan bukanlah untuk dipertanyakan. Itu "dijamin oleh penulis sumbernya adalah Allah di surga, Baik Semua, Semua Mahakuasa, Mengetahui Semua"
Karena tradisi Kristen, dari semua Tuhan berpusat tradisi, adalah salah satu yang paling mempengaruhi kurikulum dunia Barat, kita akan fokus ussion kering kami pada konsekuensi kurikulumnya. Kita harus menyadari, bagaimanapun, bahwa meskipun perbedaan doktrinal spesifik tentang pengetahuan mengungkapkan bahwa ada di antara orang Yahudi, Kristen, Islam, "orang-orang kafir," dll, dalam semua perjanjian kasus dia di sumber pengetahuan nyata (dunia lain Allah (s)) dan metode yang benar untuk memperolehnya (wahyu).
Dengan perkembangan gereja Kristen, peningkatan jumlah doktrin adalah mengumpulkan. Tidak hanya catatan dari ajaran Yesus, tapi surat dari para Rasul dan tulisan-tulisan para bapak gereja datang dianggap sebagai diilhamkan Allah pengetahuan tentang kebaikan.
isi Kurikulum terdiri dari serangkaian pertanyaan dan jawaban yang berkaitan dengan iman articels utama Chrtistian, dan kurikulum kegiatan pembelajaran dibatasi untuk kurikulum terdiri dari katekismus, dan metode katekese adalah sarana untuk belajar itu.
Pada saat seperti itu, jelas, keputusan-keputusan penting yang mempengaruhi masyarakat tidak dilakukan secara demokratis oleh rakyat, melainkan oleh para pemimpin gereja dan penguasa seculer. Itu grup ini pilih yang paling dibutuhkan pengetahuan tentang yang baik, karena merekalah yang ditahbiskan keputusan y ilahi untuk memimpin masyarakat menuju kehidupan yang baik. Sangat mudah untuk melihat bagaimana asumsi duniawi lainnya sumber kebenaran (pengetahuan absolut) dapat dengan mudah (meski tidak harus) berakibat dalam pengembangan kelas sosial elite. Account dari pelatihan formal yang diperlukan untuk keanggotaan sedemikian kelas, kemudian, tidak hanya menjadi penjelasan tentang kebenaran yang diterima dari dunia lain Allah, tetapi account dari kurikulum untuk mendidik elite.
TRIVIUM ATAS. Pada hari-hari awal gereja hampir seluruh firman diwahyukan Allah telah ditulis dalam bahasa Latin. Akibatnya, ini bahasa kuno (yang oleh asosiasi dengan "tertinggi dari semua pengetahuan" dalam waktu memperoleh status khusus sendiri) menjadi aspek penting dalam kurikulum. Karena sebagian besar ulama propective anak laki-laki tua dan laki-laki, tampaknya alami dan wajar untuk mengajar bahasa Latin gramatikal, yaitu, sesuai
dengan aturan dan ajaran infleksi dan syntax.
Dengan demikian, cabang ini pertama trivium datang untuk tata bahasa disebut.
Setelah dasar-dasar tata bahasa Latin telah menguasai, membaca dari berbagai segmen literatur Kristen ortodoks diperkenalkan. Ini cabang dari trivium sastra ini ditunjuk retorika.
Pada tingkat yang lebih maju, murid yang ketat dilakukan di prinsip teologi ortodoks. Itu adalah kelas istimewa, setelah semua, yang didakwa dengan pelestarian doktrin chruch dalam bentuk yang paling murni dan yang tanggung jawab itu adalah untuk melindunginya dari kesalahan dan bidah. Ini cabang ketiga dari trivium ini disebut dialektika.
Meskipun unsur-unsur subyek seperti aritmatika, geometri, astrinomy, dan musik (yang quadrivium dari kurikulum Platonis) bisa dimasukkan dengan cara kecil dalam pendidikan clearic, maka trivium tata bahasa, retorika, dan dialektika merupakan hampir seluruh kurikulum .
KURIKULUM KONTEMPORER APLIKASI. trivium tersebut merupakan contoh yang sangat baik dari kurikulum yang didasarkan pada asumsi bahwa pengetahuan diturunkan dari sumber duniawi lainn ya, dan dari situ kita dapat menggeneralisasi karakteristik berdasarkan kurikulum sehingga, apa pun ortodoksi kontemporer tertentu yang mereka wakili. Di tempat pertama, kurikulum tersebut cenderung untuk memusatkan perhatian pada mengungkapkan atau "lebih tinggi" pengetahuan karena pengetahuan didasarkan pada pengalaman dunia ini umumnya dianggap sebagai tidak dapat dipercaya atau paling rendah. Dan geografi fisika, misalnya, untuk tidak mengatakan pendidikan pengemudi dan ekonomi rumah bisa diperkecil, jika tidak seluruhnya hadir, dalam kurikulum berbasis pada ontologi duniawi lain.
Kedua, pengetahuan karena mengungkapkan biasanya dipelihara dalam bentuk tertulis, kurikulum berbasis worldy lain pasti mengambil jelas kasta sastra, biasanya dengan penekanan berat pada bahasa asing atau kuno, khususnya di mana kata mengungkapkan dipertahankan. Tubuh mengungkapkan pengetahuan, serta komentar-komentar ulama di atasnya, dibaca, dipelajari, dibahas, dan menulis tentang. Kata-kata sebagai simbol menjadi pusat proses pendidikan, seperti yang jelas setan strated dalam bahasa asli.


dari sumber lain-duniapwi, dan dari situ kita dapat menggeneralisasi karakteristik berdasarkan kurikulum sehingga, apa pun ortodoksi kontemporer khusus mereka mewakili dikirim. Di tempat pertama. kurikulum seperti cend untuk memusatkan perhatian pada diwahyukan Atau "'tinggi" pengetahuan karena pengetahuan didasarkan pada pengalaman dunia ini gen secara lisan dianggap sebagai tidak dapat dipercaya atau paling rendah. Fisika dan geografi, misalnya, untuk. mengatakan apa-apa tentang pendidikan pengemudi dan ekonomi rumah bisa diperkecil. jika tidak seluruhnya hadir, dalam kurikulum berbasis pada duniawi lain-ro
Kedua, KNM sejak mengungkapkan "birai biasanya dipelihara dalam bentuk tertulis, kurikulum lain-duniawi berbasis pasti mengambil sebuah kasta jelas sastra, usuallv dengan penekanan yang berat di atas bahasa asing atau kuno, khususnya yang 'i kata terungkap diawetkan Tubuh mengungkapkan pengetahuan, juga: komentar-komentar ulama ls 'di atasnya, dibaca, dipelajari. dibahas dan menulis tentang V, bangsawan sebagai simbol menjadi pusat proses pendidikan, seperti clearly demon strated di trivium. Hal ini terutama berlaku dari kurikulum dimaksudkan untuk kelas imam, karena mereka secara khusus memiliki kebutuhan untuk mengetahui kebenaran seperti yang termaktub dalam bahasa asli Ketiga (dan itu patut diulangi di sini),
sekarang ricula berdasarkan pengetahuan mengungkapkan hampir selalu memerlukan sistem dual pendidikan dengan kurikulum dual-satu untuk mal keputusan:
ers (para pemimpin dan imam) 1arged ay-itlt pelestarian dan interprecation dari kata mengungkapkan dan satu untuk massa. (pengikut dan lavrnen).

Karena doktrin pemisahan gereja dan negara, kurikulum
kontemporer sekolah publik Amerika tidak nyata inRue.nce Allah berpusat filosofi sebagai jelas seperti yang dilakukan orang-orang yang paling sektarian, pribadi sup ¬ purted Alkitab. paroki. dan agama sekolah. Namun demikian, Tuhan - tradisi cemered yang bekerja di halus banyak (dan beberapa tidak begitu halus) cara. Di banyak sekolah dan atheisim ruang kelas, baik secara eksplisit dan sindiran, adalah menjelek-jelekkan sebagai OTosslv jahat. Selanjutnya, kepedulian terhadap "nilai-nilai spiritual" dan varietas tertentu

"'Karakter development adalah fitur yang menonjol dari kurikulum banyak sekolah umum.
Memang, kurikulum ini sering menarik berat atas literatur mengungkapkan dari SI J Ch udeo-tradisi ristian untuk kadar mereka, serta UE val bahwa mereka ad "ocate. signifikan, itu: 'menyatakan keaslian materi ini dengan mengacu kepada sumbernya lain-duniawi 1 1any komunitas sekolah, meskipun keputusan Mahkamah Agung tc Sebaliknya, masih termasuk doa dan membaca Alkitab dalam skr riculum , Akhirnya, CRE berlangsung Hion-evolusi sengketa disebutkan,. dalam 4 bagian pra-vious menyediakan eX3mple yang sangat baik dari kuasa yang lain-filsafat duniawi masih latihan selama kurikulum.
Sejak peradaban Barat telah begitu sangat terpengaruh oleh filsafat yang didasarkan pada Allah: enrered ontologi. tidak mengherankan untuk menemukan bahwa pendidikan (dan skr konstruksi riculum ¬) sampai sangat kali belakangan ini hampir exclusivelv sebuah
fungsi gerejawi. Kami sangat berterima kasih kepada berbagai reIigio denominasi
untuk banyak pengembangan pendidikan yang telah diambil plac 'selama bertahun-tahun. Tapi kecuali beberapa sekte Protestan Chris, tianity (misalnya, Puntan L-Amerika kolonial), kecenderungan sedikit yang telah ditunjukkan oleh otoritas gereja
keaksaraan angkat di antara massa. Hal ini sebagian besar merupakan konvergensi teologi ¬ protes t3nt dan kemajuan teknologi yang telah menghasilkan kurikulum untuk pendidikan seperti yang kita kenal sekarang.
TIfE LAIN-WORLD OF IDEAS
..
filsuf tunggal mungkin tidak memiliki efeka. mo luas dan abadi
pada kurikulum dari world item W d (suatu: - telah Plato (filsuf Creek, abad keempat SM). Di Republik ini. pernyataan sepenuhnya dikembangkan pertama tentang peran pendidikan dalam masyarakat. Plato mantra keluar epistemolog basis ontologis dan filsafat ical dan rincian kurikulum yang berasal dari asumsi nya. Jadi berpengaruh adalah pemikir pra-Kristen yang Katolik maupun Protestan dimasukkan unsur-unsur otoritas signihc2nt teorinya ke dalam kurikulum agama mereka. dan bahkan hari ini filsafat idealisme
(lebih tepatnya "ide-isme"). yang bersandar pada metafisika Platonis,
banyak mempengaruhi kurikulum con praktek sementara.
Mengamati materialisme kasar yang berlaku di Athena pada zamannya, Plato mengecam gaya hidup dan motivasi apa yang disebutnya "Beny orang Dia mengusulkan bahwa masyarakat benar-benar hebat dan baik tidak dapat dibangun oleh orang-orang yang perhatian terbesar adalah. Mereka sendiri kesejahteraan materi, tetapi hanya oleh mereka yang bercita-cita ke persaingan tinggi "abstraksi" seperti keadilan. kebajikan. dan kebenaran-. entitas (atau gagasan) yang hanya ada di suatu dunia yang yang melampaui akal. Jadi, Plato menyatakan bahwa dunia nyata bukan satu dihuni oleh tubuh fisik kita, tetapi domain nonmateri di mana
berbagai barang yang-ada sebagai gagasan, sempurna dalam setiap detail dan tidak berubah untuk semua kali. Ide-ide ini memiliki reJ: keberadaan Li. Mereka adalah "hal," meskipun mereka tidak dapat dilihat oleh mencoba "e atau diselenggarakan di tangan mereka adalah hal yang sempurna hanya yang ada aP1ywhere (Thut 1957, hal 46)..
Untuk iJIu.strate gagasan tentang hierarki realitas dan nilai, Plato menggunakan contoh tempat tidur. Sebuah tempat tidur, katanya. memiliki tiga modus eksistensi: Pertama. itu ada di fonn nonmateri dalam dunia ide di luar indera kita. Ini adalah paling sempurna dan benar-benar keadaan sesungguhnya menjadi. Kedua. tempat tidur ada dalam bentuk material, misalnya. obyek kayu dibuat oleh tukang kayu.
Tempat tidur kayu. jelas. hanyalah tiruan dari konsepsi tukang kayu tempat tidur ide. dan akibatnya lebih rendah dalam kesempurnaan dan realitas. Akhirnya. tempat tidur dapat eksis sebagai gambar yang dilukis oleh seniman. Negara ini menjadi tempat tidur yang paling rendah
dari semua,. karena hanya tiruan dari tempat tidur. yaitu, sebuah imitntion
daritiruan.


. Plato memperluas alur penalaran untuk semua ide-ide, apakah mereka meniru di dunia ini berbentuk kayu, batu, kain, kepribadian, sifat, mengatur sosial
2. Sebuah paralel luar biasa antara Athe kuno: ls dan modem Amerika banyak pengamat hy dari adegan e6ptemporary.
mencs. hukum, atau lembaga-lembaga.
Dengan demikian, ia menyatakan bahwa tidur Ely nyata dan sempurna tidak hanya ~theabsol, tapi keberanian benar-benar nyata dan sempurna, sekolah, guru, sistem politik, manusia, dan masyarakat dalam bentuk ide yang ada di dunia-lain. Jelas, kemudian, orang itu akan bodoh untuk melihat ke tJds dunia untuk pengetahuan tentang kebaikan. Di sini, ia akan nnd hanya imitasi, rendah diri, dan ketidaksempurnaan pertimbangan dan Con. ceptions yang mengarah pada kesalahan dan kemalangan, untuk tidak mengatakan kejahatan dan kejahatan. Pengetahuan (qua kesempurnaan immaterial), jelas, tidak dapat disesuaikan melalui indra fisik. Sebaliknya, kita harus melihat ke dunia-oker ide untuk penge ¬ tepi yang baik, karena hanya ada dia HND pengetahuan diberi balasan yang sempurna untuk keputusan yang jead untuk melakukan kebaikan dan kehidupan • baik. Memang, bagi Plato. pengetahuan dan kebajikan sangat terkait erat thac dia siap untuk menulis: "Anda sadar bahwa [sebagian besar orang] tidak bisa menjelaskan apa yang dimaksud dengan pengetahuan, tetapi setelah semua wajib untuk mengatakan pengetahuan tentang yang baik?"
(Plato, Republik I, di Jowett 1899, hal 255.).
Plato hypothesjzed bahwa setiap manusia dikaruniai dengan sebuah jiwa kekal immaterial (jiwa atau pikiran) .3 pikiran ini, sebelum implantasi dalam tubuh fisik saat lahir, telah menghabiskan berbagai periode waktu di dunia-oker nonmateri langsung terpapar dengan kecemerlangan dan kesempurnaan ide absolut. Pengetahuan tentang ide-ide ini dipertahankan oleh pikiran, namun sayangnya. pada meninggalkan dunia gagasan, mereka Jost untuk kesadaran. Tnus, masalah pendidikan, menurut Plato, hanya mendapatkan pikiran untuk mengingat pengetahuan yang memiliki presendy jt. Proses, dan konten yang diperlukan untuk mencapainya, con stitute kurikulum Relmhlic Plato.
PL \ KURIKULUM di atas :.Menurut Plato, ada tiga proses yang (dia pikiran iate: pengetahuan tt bisa dibawa ke kesadaran, Pertama, dapat kita ingat secara kebetulan rangsangan indra. Ini jelas bukan kemungkinan yang sangat bisa diandalkan atau menjanjikan. Kedua. dapat diingat oleh seorang guru bertanya menyelidik gueseions terampil. teknik ini adalah apa yang merupakan m Sokrates terkenal thodv pertanyaan yang begitu sangat dianggap sebagai suatu teknik pedagogis guru man 'bahkan tod3v.
Bahkan metode ini memiliki keterbatasan, namun.

karena pengetahuan akan diingat dibatasi untuk yang sudah dalam kepemilikan
guru. Vhile metode Sokrates mungkin merupakan perangkat ped3gogical berguna, itu jelas jatuh shorr sebagai pembangkit pengetahuan baru.
Namun Pbro mengusulkan metode ketiga. cOlllemlilation, dimana the'mind bisa mencapai ke irs subconsci sendiri, OUs dan pengetahuan ingat tentang kebaikan. Meskipun contemplarion adalah effecti 'e untuk mengingat-ic baru pengetahuan, pengetahuan pernah ingat-itu adalah 3ctivity yang membutuhkan "dibebaskan" pikiran. Untuk membawa pikiran
3. T Greeic. pS) "CM” (mear.ing" jiwa-) tidak noc: ada co agama SI thac tersebut. Ord akhir yang diperoleh selama era Qnisrian. Gteek itu. "Jiwa" mewakili s4mething mendekati pikiran convcv bv ~arti "kata kami."
keadaan pembebasan, sebuah negara yang kondusif untuk kontemplasi.
merupakan tujuan utama curriculum. 1ito'S persiapan.
Plato. persiapan kurikulum co.nsists empat. bidang studi: aritmatika,
geometri, astronomi, dan musik. Sebutan ini tidak selalu berarti studi yang sama kita kaitkan dengan mereka hari ini. Aritmatika (ilmu num bers) itu harus dipelajari dalam bentuk yang paling abscract untuk memaksa pikiran untuk menggunakan "kecerdasan murni" untuk melihat natl ini! Ulang nomor di negara mereka yang paling sempurna sebagai (Thut 1957 hal 63). Setiap ical: (bahan) koneksi menjadi tween dan angka, misalnya, conscrucrio3 atau perdagangan, harus ketat dihindari, karena keprihatinan keasyikan dengan dunia ini berubah pikiran dari kekhawatiran murni kebenaran. Geometri, baik pesawat dan solid, adalah dasarnya dipelajari untuk alasan yang sama. Sama seperti nomor murni tidak ada di alam, sehingga titik, garis, sudut, lingkaran, dan jadi: 1.Ue tempat untuk. dapat ditemukan. Geome uy, oleh karena itu, membuat pikiran jauh dari sempurna dan objek rasa inferior terhadap ide-ide murni sedang. Jelas, aspek-aspek kontemplatif aritmatika dan geometri dirancang untuk mengembangkan perasaan harmoni dan cinta akan kebenaran murni.
Astronomi. ketiga subyek kurikulum Plato adalah untuk dipelajari bukan untuk perusahaan ue va di navigasi atau pengukuran waktu. tetapi lebih sebagai pola untuk membantu dalam pengertian tentang pengetahuan kuowledge lebih tinggi dari mo benar tions dari kecepatan mutlak dan kelambatan mutlak, yang kita gunakan relatif terhadap setiap oker,
dan membawa dengan mereka bahwa yang terkandung di dalamnya. di kebenaran
nomor dan di setiap tokoh benar lato? Republik. VII. di Jowett 1899,
hal 287). Astronomi. kemudian. meskipun dimulai dengan indra, harus dipelajari dengan mata ke kontemplasi keselarasan dan kesempurnaan gerak murni.
Dengan termasuk musik di curricubm tersebut. Plato tidak berniat murid-muridnya untuk datang profesional duduk: ians., Dalam pendapatnya. bahwa profesi WtiS hanya cocok untuk budak dan orang-orang inferior lainnya. Sebaliknya, dia berharap bahwa musik (atau lebih baik, harmoni) akan dipelajari Pada pesawat intelektual sehingga pikiran bisa menangkap "harmoni alam nomor, atau reHect mengapa bersama beberapa yang harmonis dan lain-lain tidak '(Plato, The bljc Rept, VII, di Jowett 1899, hal 290). Singkatnya, subjek musik dalam kurikulum Plato dekat akan paralel program modem dalam teori harmonis.
Keempat subyek, lalu, merupakan Plato apa yang disebut sebagai "ilmu" yang mempersiapkan untuk (tapi jangan langsung angkat) kontemplasi ide murni, yaitu, pengetahuan tentang kebaikan. Pengetahuan tentang kebaikan. dia memegang, hanya dapat dicapai melalui kajian sistematis dari "dialektika filsafat" atau. Jadi, Plato tidak hanya dilihat filsafat sebagai ratu dari semua ilmu, tetapi sebagai riculum-skr seluruh educ lebih tinggi: ltion.

Hanya beberapa pilih, Plato percaya. yang pikirannya (dalam keberadaan yang lain) telah HAC! Ia beneht dari signihcam: eksposur ke dunia ide-lain, yang dapat keuntungan dari pendidikan lebih tinggi.
Tapi itu masih lebih sedikit orang oflly yang mampu menyelesaikan pendidikan tinggi yang mampu dialektika diterapkan, yaitu,

5. Hal ini dalam pengertian ini bahwa kurikulum presentlv kita tahu sebagai "liberal am" curticuuzn disusun.
delibec: kontemplasi TTE untuk reca pengetahuan. Elit kecil ini merupakan kelompok yang PI: percaya harus tuntuk aturan-negara "orang-orang dari emas" yang pikirannya telah memandang kepada yang baik, tnle tersebut., Yang beauciful.
Elit ini kecil, dalam jangka pendek, terdiri filsuf Plato merayakan raja.
KONTEMPORER APLIKASI kurikuler. Sistem Platonis telah under_ pergi modifikasi substansial seperti yang telah diintegrasikan ke dalam philOS hari terakhir (). phies ontologi yang beristirahat di dunia lain-ide. Meskipun kita tidak dapat masuk ke rincian modifikasi ini di sini, itu adalah penting untuk dicatat bahwa pengaruh Plato tetap mahal jelas dalam semua dari mereka, sebagai idealisme istilah nama dengan mana kelompok ini dikenal filosofi. cukup memberi kesaksian. Meskipun inRuence dari aplikasi idealism akan semakin berkurang di Amerika saat ini. asumsi idealis masih terlihat di banyak predilections kurikuler kami saat ini. Sebuah contoh yang baik dari ini adalah disposisi com Amerika yang paling kontemporer munities ( melihat subyek cf kurikulum dalam hirarki, Dengan ide " subyek (seperti sejarah dan bahasa Inggris) dianggap jauh lebih penting yang anggap. Yang "praktis "subyek (seperti pembukuan dan montir mobil). Memang, persiapan kuliah" "ide subyek genel'311y terus dianggap penting untuk kelas elite pemimpin yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi, sementara" praktis "Atau" kejuruan subjek deemeG "cukup baik" untuk muda kelas pekerja.
arus diingat bahwa idealis tidak menganjurkan studi tentang ide-ide abstrak semata-mata demi latihan intelektual atau kemajuan sosial-ekonomi. Apa yang mereka: IRE setelah. akhirnya (dan apa yang akan mendorong keputusan yang mengarah ke mati lira baik), adalah dalam menangkap gagasan manusia dalam alam semesta. Dalam bahasa idealis. mighc kita mengatakan bahwa tujuannya adalah rasa trilnscendent dari existe kosmik-manusia: 1ce. thac adalah, pemahaman pada tingkat yang paling mendalam dari gagasan alam semesta dan arti eksistensi manusia. (Jika hal ini terdengar entah bagaimana kuasi-mysric: ll, mengatakan tidak ada permintaan maaf idealis perlu dibuat; kebenaran.
Bagaimanapun, harus ditemukan dalam bentuk gagasan dalam dunia transenden-lain.)
Untuk mencapai pemahaman gagasan-kosmik manusia. Idealis advokat kurikulum yang berpusat pada materi yang berhubungan dengan masalah khas manusia. Yaitu tidak mengejutkan, kemudian, bahwa sejarah memegang posicion unggul di sekolah mereka. Ini adalah subjek ini. Daim yang idealis. yang terbaik siswa dengan memberikan rasa pria Tole di alam semesta. Mahasiswa, tentu saja. nlust melampaui fakta-fakta belaka dan tanggal sejarah dan upaya untuk di dalamnya kecenderungan dan arus gerakan historis., karena di sini terletak jawaban atas quesrion makna.
Tapi mahasiswa 3S mulai memahami makna sejarah, mereka untuk menembus teka-teki kosmis perusahaan manusia.

Penting sebagai sejarah. meskipun, cant make up seluruh kurikulum.
Ada beberapa lain "berpusat pada manusia" subjek ide, idealis mengatakan. yang membantu kita merasakan arti dari keberadaan kita di alam semesta. Di antara lebih penting ini adalah sastra, topik yang membahas emotions meragukan kekal hidup dan memberikan wawasan ke dalam kondisi manusia kita. Itlis ini concem dengan ide-ide abadi manusia "menjadi" yang membuat Dante, Shakespeare, dan Ilton, misalnya, sebagai cgnd menerangi hari bermakna karena mereka pernah ada
Tambahan aspek keberadaan yang diturunkan kepada siswa ketika mereka mempelajari ~ ubjects lain dari kurikulum idealis: seni, musik, filsafat, teologi, dan lain-lain mata pelajaran, seperti sejarah dan literaturc, dinilai THC ide-ide yang mereka sampaikan. Harus jelas sekarang bahwa kelompok mata pelajaran yang merupakan inti samar dari kurikulum idealis adalah mereka-yang biasa kita mengklasifikasikan sebagai humattities; dan meskipun idealis tentu tidak memiliki monopoli atas mereka,
mereka adalah subyek yang paling sering diasosiasikan Vith dunia lain ide.
Untuk menangani dengan lembaga lainnya dunia ide-ide dalam t; dunia lis, idealis dipaksa untuk mempekerjakan symbol : yaitu, wordLand-nomor. Sebagai hasilnya, mereka menempatkan premi (seperti yang banyak kita publik sekolah) pada kurikulum simbol-meresap: buku membaca, menulis komposisi, berdebat ion
proposi konjugasi kata kerja.. dan memecahkan persamaan. penekanan pada simbol ini sama sekali tidak mengejutkan bila kita menganggap bahwa simbol, untuk idealisme menengah melalui yang w0rks pikiran, "2 maka," adalah kunci untuk kebenaran dan realitas "Cl'vlorris 1961.
Hal182-183

Kurikulum idealis tidak akan (seperti yang dilakukan beberapa kurikulum sekolah negeri kita) membuat ketentuan-ketentuan untuk belajar dengan pengalaman langsung pada kunjungan ke taman. bank, toko, kantor, pabrik, dan sebagainya.
Sebaliknya, ia akan berpusat pada mengganti svmbol-
kegiatan perpustakaan dan ruang kelas, dipandang sebagai sanctua des untuk ide-ide (seperti
adalah situasi di banyak sekolah saat ini kami). Juga adalah kudus "istilah" pilihan yang sakit-dianggap kata-kata. Sebagai idealis melihatnya. hanya i., retret dihapus dari gangguan dan kebingungan eksistensi materi sehari-hari bahwa seseorang dapat merenungkan ide-ide nonmateri yang merupakan kehidupan yang baik.
Tapi ini membuat sebuah universitas 'menara gading' kita mengeluh. "Tepat apa yang harus yang balas idealis.

keasyikan yang idealis dengan simbol tidak boleh salah untuk acy advoc dari penyerapan mekanistik tentang fakta-fakta dan informasi. Seperti kita catat sebelumnya, ia mengejar luas. pemahaman terdalam eksistensi kosmik-manusia mungkin Untuk mencapai adalah pemahaman diri dalam hubungannya dengan manusia dan alam semesta. ia tidak harus hanya curam sendiri di humaniora. tetapi juga "identjfy"-yaitu, membangun hubungan dengan masyarakat yang lebih besar dari pikiran. Dengan kondisi ini, topi jelas iklim psikologis sekolah mengambil con-siderable pentingnya. Kurikulum harus diberikan sedemikian rupa sehingga siswa "merespon" satu sama lain dan guru dalam hal komunitarian. sekolah A, maka, bukan hanya perpustakaan. ruang kelas, dan buku; itu adalah semangat yang mengikat siswa dan guru to.gether sebagai komunitas "cendekiawan." Etos partic komunitarian ular dipelihara dalam idealis dasarnya "sekolah umum" Inggris-merupakan contoh: seperti esprit. Apakah atau tidak kita menerima nilai-nilai yang melekat dalam tipe . communicy kita tidak dapat memberhentikan sebagai bermegah kosong mengklaim bahwa "pertempuran Britania. Dimenangkan di lapangan bermain dari Eton." Benar owledge untuk idealis memang urusan spiritual,
Singkatnya, ini bagian: di philosophi lain-duniawi s menunjukkan bahwa-apakah lain- orld realitas dipandang sebagai dunia dewa atau ide. selalu regan.led sebagai wilayah al nonmate yang baik mutlak. Dengan demikian, pengetahuan yang dikandungnya adalah super atural dan; benar-benar baik dan benar. Selanjutnya. ini non-
bahan alam terpisah dari orld rasa 'oleh jurang begitu besar yang hanya dapat dijembatani dengan bantuan proses supranatural. Yang terbaik th orang biasa bisa lakukan untuk mencapai pengetahuan tentang yang baik adalah untuk mempersiapkan themselv oleh disiplin yang sesuai (pendidikan) untuk menerima pengetahuan yang other mungkin memberikan kekuatan duniawi mereka. persiapan tersebut dapat mencakup Curriculum doa, studi tentang 'kata, ealed atau latihan intelektual Dengan ide4s murni, dalam hal apapun,
3S Namun, perhatian pada data dunia temporal dihindari menghalangi untuk penerimaan yang benar (yaitu,spiritual) pengetahuan.

Selain mempersiapkan individu mendapatkan pengetahuan dari yang lain. dunia, kurikulum lain-duniawi biasanya melayani fungsi selektif, karena sebagaimana telah kita lihat pada bagian sebelumnya, hanya kelas khusus diberkahi orang mampu persekutuan dengan alam supranatural. Ini adalah grup pilih, dilengkapi dengan pelatihan untuk memperoleh pengetahuan dari dunia-lain. yang dibebankan dengan membuat keputusan untuk semua.


Hanya dengan mengikuti jejak grup ini erudit dapat yang hidup god dicapai.
ia Sifat Pengetahuan: Bumi-Centered Filsafat
Filsafat dibahas dalam bagian sebelumnya dikatakan dualis karena mereka dalil dua bidang menjadi: yang nonmateri, gaib, tapi nyata dunia.temporal fisik. tapi palsu dunia. Bumi filsafat masuk. Sebaliknya. sering diklasifikasikan sebagai filsafat monistis karena mereka hanya tertarik pada ini umverse fisik sebagai objek penelitian.Al meskipun tertentu "mlteriaHstic" earch filosofi yang dimasukkan, berdasarkan monisme mereka, berdasarkan posisi ateistik. banyak orang lain tidak:USU sekutu ini terakhir berpendapat bahwa Allah adalah penulis alam semesta dan bahwa Dia akan membuat-Nya dikenal manusia melalui kerja dunia fisik (filsafat agama Deisme adalah contoh terbaik dari Chis posisi). Dengan demikian. apakah filsafat teistik atau ateistik, eanh-ccntcred menemukan realitas diuniversitas fisik terus bahwa pengetahuan sejati yang baik adalah indw Iling atau imanen di dalamnya. Jelas, kemudian, jika manusia untuk membuat jenis-jenis keputusan yang mengarah ke kehidupan yang baik. ia merasa lebih baik melihat sekelilingnya, ia merasa lebih baik menggunakan indra dan alasan untuk d: scover pengetahuan yang hoids realitas fisik ini. Berbeda dengan k-lain philosopher. yang menganggap dunia ini masuk akal sebagai imitasi tidak sempurna hanya layak kecurigaan dan ketidakpercayaan.

para filsuf berpusat earch-gambar itu" tempat yang ramah. tempat yang bernilai mengetahui dan budidaya untuk kita sendiri baik "(udik 1957, hal 160).
Meskipun tidak setua Allah: tradisi masuk,: filosofi entercd jauh dari pendatang baru pada adegan filosofis. Mereka menelusuri asal mereka TQ Athena kuno dan teori-teori Aristoteles (philqsopher Yunani, keempat cen tury BC). Plato yang paling dirayakan siswa.
Vhereas Plat mengajarkan bahwa alam semesta fisik ini hanyalah tiruan, realitas (hanya 35, sebuah tempat tidur OFA gambar
adalah tiruan dari yang asli) ,Aristoteles percaya bahwa dunia ini merupakan wilayah asli eksistensi.
Aristoteles berpendapat bahwa alam ini terdiri dari dua bahan dasar:.Iltter-primer. tapi berbentuk substansi, dan (ann-prinsip yang memberikan tujuan dan arti penting. Kedua bahan dasar, materi dan bentuk, digabungkan dalam berbagai cara untuk "entitas produc.yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari udara, air., Dan Sahd example, merupakan kombinasi dari materi dan bentuk yang mengandung hanya sedikit jejak yang terakhir Di sisi lain.. dengan penambahan bentuk yang lebih, materi dapat mengasumsikan av riety dari properti dan menjadi sangat tujuan ketika diperlukan bentuk kertas. buku, pohon. rumah, dan bahkan laki-laki Karena sifat dunia yang kita alami de pends atas prinsip fonn.. maka bentuk yang adalah atribut berdiamnya masing-masing dan setiap entitas fisik.
Karena bentuk memberikan menning dan tujuan untuk Maher terbentuk, hal itu merupakan prinsip yang di atasnya nacure didasarkan realitas. Dengan demikian. untuk Aristoteles. pengetahuan fonn setara dengan pengetahuan yang nyata, dan karenanya pengetahuan tentang kebaikan. Selanjutnya, seperti telah kita lihat, jejak bentuk menembus semua aspek alam semesta PHY ical maka, dengan demikian, bahwa pencarian pengetahuan tentang pusat harus baik pada objek khusus dan bentuk yang menghuni dunia ini.
Dengan yayasan ini, pencarian pengetahuan. jelas, menjadi satu induktif. Ini dimulai dengan indra dan pengamatan khusus, dan hasil dengan menggunakan alasan untuk penemuan generalisasi. gen ini eralizations, kita harus segera mengatakan, tidak boleh consrrued sebagai hipotesis atau konstruk diciptakan oleh intelek. Sebaliknya, mereka terdiri dari apropriasi yang intel sadar lectual dari sifat reapry-yaitu, konsepsi bentuk murni. Dalam memuncak proses penemuan, kemudian, intelek dikatakan telah menangkap dan pengetahuan yang benar mutlak. Ini, dari bumi: filsuf titik masuk pandang, adalah balasan yang aktif, penyelidikan terus-menerus, dan merupakan satu-satunya dasar tertentu untuk membuat keputusan suara.
Simpli6ed dan tidak lengkap sebagai account sebelumnya telah. itu mengungkapkan utang yang ilmu pengetahuan modern berhutang to_Aristotelian pikir. Tentu saja, dengan munculnya zaman kegelapan, Aristoteles, dan dalam hal ini. semua Greco-Romawi, pikir entah hilang atau ditekan, dan selama berabad-abad ontologi lain-duniawi dari churt Kristen; pemikiran filosofis h didominasi. Akhirnya. Namun demikian, Aristoteles ditemukan kembali, dan ketika Renaissance tiba, bumi berpusat philosopht 'muncul di. pertama kabar burung dari apa yang menjadi salah satu prestasi besar "manusia: revolusi scientihc. Dari fOlWard DME, sebagai scier:Ce berulang kali menunjukkan keuntungan. Pertanyaan nya-duniawi, filosofi lain-duniawi semakin dipaksa untuk terus bertahan.
Pada akhirnya, h6wever, dalam apa yang sebagian sarjana melihat sebagai tindakan yang sempurna dari kepongahan, ilmu mengklaim kekuasaan atas jawaban benar teka-teki yang ada-
"6 Sains,. Terutama: apa yang kita ketahui saat ini. 8 hemirtry 2 fisik , dikenal sebagai filsafat alam abad sampai kesembilanbelas.
Hal ini menegaskan bahwa hanya penyelidikan ilmiah sifat yang. membawa dunia untuk tepi dari apa adalah.. ada. ilmu pengetahuan & Itu yang baik. Dan itu hanya berusaha kepada tenaga kerja dalam upaya ilmiah mampu menemukan kebenaran tertanam,
Aku
Dengan munculnya manusia oncologies masuk dalam kedua puluh persen banyak ilmuwan meninggalkan sikap absolut untuk positio lebih relativistik Tapi itu adalah cerita lain dan akan dibahas dalam bagian berikut. Untuk saat ini September kita makan tertarik pada cabang tw'o dari bumi memasuki thac philOsoph memiliki dampak yang signifikan terhadap kurikulum sekolah.
Yang pertama devei ot oped ini sebelumnya dan dalil-dalil sebagai alam semesta fisik kedua cabang, yang tidak jatuh tempo sampai abad kesembilan belas,
pandangan sebagai alam semesta fisik berkembang.
ALAM SEMESTA statis
Pada awal cen ketiga belas Masehi Ury, Roger Bacon. seorang biarawan Inggris dan filsuf, berdebat bahwa dalam banyak hal pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman pribadi dan obsen'ation harus didasarkan pada otoritas th3n lebih berat konon didirikan pada sumber lain-duniawi (Thut 1957 hal 209.). Tapi sampai abad ketujuh belas dan penemuan ilmuwan Leonardo da Vinci Cfifteenth-abad), Copernicus icolaus (stron entury keenambelas orner) Galilco Galilei (se astronom enlury enteenth ), dan Isaac Newton (ilmuwan ketujuh belas cencury) melakukan sistem pemikiran filsafat didasarkan pada realitas omological tentang alam semesta fisik berubah mencapai penuh mengembangkan menL seperti pada saat ini bahwa Newton, atas dasar karya ilmiah dalam astronomi , hipotesis bahwa alam ini terdiri dari menit, indestruct;: Bloch bangunan Jble atau atom sifat tetap dan dapat diidentifikasi atom ini.. dia dipertahankan. tergabung dalam kombinasi berbeda untuk membentuk zat,,-arious yang membentuk sical massa yang dari alam semesta. Newton percaya bahwa massa atom (dan kombinasi mereka) adalah inert. sehingga pembentukan dan pembongkaran struktur massa cf (thac adalah, molekul-molekul kimia com pon), sebagai gerakan massa itu sendiri, lre hasil inRuence dari
kekuatan (misalnya, oxid: Hion fermentasi berdasarkan CTC.).
Ne'INton mempelajari: 1 ariet dari fenomena fisika dan umum yang regu larities pengamatan dalam hal formula matematika.. Ini formula. Ekspresi dilihat ton I. sebagai yang imanen dan tidak berubah "hukum alam, sebelum s3id untuk d juru tulis ( efek" operasi gaya pada massa "dalam batas-batas kalinya dan ruang" (Thut 1957, hal 218). ini s [Udies. tentu saja, menghasilkan persamaan matematika yang kita sekarang tahu sebagai Newton terkenal
"Prinsip Motion"
Kesimpulan bahwa Newton menarik dari fnvestigations scientihc adalah bahwa alam semesta adalah mesin besar yang kerja busur cor / dikendalikan oleh prinsip mekanis atau Lebih lanjut. pikirnya orang itu, menjadi pare mesin. tunduk pada hukum yang beroperasi. doktrin seperti itu, tentu saja, mengangkat kekacauan di antara
speculdting henti pada "arti" dari suatu gerakan sejarah Atau ke "Ide mengontrol" di belakang pertanyaan moral, sedangkan ilmuwan adalah establishin e dengan presisi hukum yang mengatur beberapa fenomena alam yang spesifik Kam ~ ketika mahasiswa belajar ilmu. mereka memperoleh pengetahuan tertentu dari apa yang ada. penge: tepi incontrovertibly yang telah ditetapkan sebagai benar. Hal ini cukup masuk akal kemudian. untuk guru berikut kurikulum yang berpusat eanh mengharapkan pejantan mereka: Ent untuk "mengetahui fakta-fakta": hukum Boyle. Hukum Ohm. atau struktur molekul gula. misalnya, tidak masalah pendapat atau subjek untuk diskusi, yang "positif f; Jcts yang baik diketahui atau tidak diketahui ..
Matematika selalu memainkan peran penting dalam ilmu pengetahuan, dan sehingga alam hayati yang memainkan peran penting dalam kurikulum yang berpusat pada bumi ~ nti6c sci. Tetapi sedangkan idealis mungkin menggunakan studi ini simbolis untuk kepentingan diri sendiri sebagai manifestasi dari ide murni::!, Yang realis melihatnya sebagai vehide untuk. Rendering esensi mutlak realitas fisik ke tepat, bentuk kuantitatif, simbolis. Dengan demikian. seperti mata pelajaran seperti berhitung, aljabar. trigonometri, dan kalkulus sangat dihargai dalam kurikulum yang berpusat pada bumi sebagai subjek alat dasar,
dan sering merupakan prasyarat untuk mempelajari ilmu-ilmu fisik.
Ini kegemaran untuk matematika dan ilmu pengetahuan dalam kurikulum mencerminkan pandangan bahwa pengukuran realitas adalah kunci untuk pengetahuan. Posisi seperti itu ringkas diungkapkan oleh psikolog pendidikan E. L Thorndike ketika dia! "Hafalan. ada dalam jumlah sedikit." Komentar itu dibuat untuk membela usahanya mengukur kecerdasan (kualitas pikiran yang idealis Gard sebagai sebuah nonmatew. Aku, dan karenanya, realitas). Nomor yang kita biasa digunakan untuk mengacu kepada individu IQ, karena itu, dalam arti merupakan suatu saripati bumi mengadakan Mengingat knowledge.
Paragraf sebelumnya menunjukkan keyakinan bahwa anggota masyarakat tertentu berkualitas dibandingkan orang lain untuk menemukan pengetahuan tentang yang baik dan dengan demikian keputusan kebijakan 3nt yang akan mengarahkan masyarakat menuju kehidupan yang baik. Indced. ini adalah pemikiran yang paling rcalist empiris!:. Ini adalah perusahaan mereka bahwa hanya orang-orang dianugerahi oleh alam dengan supel sangat terlatih dalam ilmu dan tedmiqtles penemuan ilmiah yang suirf'f1 untuk membuat keputusan yang tepat bagi masyarakat. Seperti sebuah attituae muncul dalam mana disarankan ke: ltu keputusan kebijakan penting tentang tujuan pendidikan dilakukan oleh para ilmuwan yang terlatih dalam method penyelidikan empiris.
Sebuah kurikulum berbasis pada. asumsi dari lrth,
statis masuk realitas generally akan mengambil posicion keras-Linc pada keterampilan, konten. dan pengetahuan. Itulah. yaitu akan bersikeras bahwa ada hal-hal positif untuk diketahui dan bahwa tugas siswa di sekolah adalah untuk le: nn thcm. Selama nilai awal THC ketika studen memperoleh keterampilan dalam mata kuliah alat membaca dan matematika, kurikulum akan memberikan resep membaca, Icctures, dan kegiatan simbolis lain yang efisien mendapatkan konten ke siswa. Perawatan, tentu saja, akan takell untuk memelihara bctwee nection con keterampilan yang learI simbolis: 1ed dan kembali) dunia; tidak seperti idealis realis tidak menemukan nilai dalam bertujuan mengetahui dari svmbols untuk \mereka ke. Sebagai siswa maju melalui sekolah dan mulai-studi rious dari fisikilmu.
Mereka akan menghabiskan meningkatnya jumlah waktu di laboratorium atau pengaturan dalam bidang contnct langsung dengan nyata. physicnl dunia. Perpustakaan dankelas; adalah sumber daya penting,. tentu saja, untuk transfer efisien, besar rnounts dari infonnation bahwa siswa perlu le rn, tapi kontak indra signifikan dengan realitas adalah penting jika murid untuk mendapatkan luar dunia kata-kata simbolik.
Ini kecenderungan untuk realitas (atau alat bantu audiovisual ketika nyata
hal yang tidak tersedia) berlawanan dengan c1usively simbolis orientasi;)
kurikulum idealis.

Akhirnya, kita dapat menunjukkan bahwa bahwa semangat yang idealis berharap untuk menghasilkan antara siswa dan guru di sekolah mereka biasanya ditolak sebagai foolishnes rohani! I oleh kembali Masing-masing adalah sendiri, dan kami h3 di tangan kita alat yang diperlukan untuk menentukan, presisi engan relatif yang tahu dan yang tidak. ALAM SEMESTA berkembang
Asumsi dari pandangan statis, bumi realitas menyiratkan masuk sepenuhnya deterministik kehidupan. Memang benar asumsi bahwa informasi yang memadai : dan alat yang diperlukan, maka pada prinsipnya mungkin untuk merekonstruksi' keseluruhan masa lalu dan untuk memprediksi totalitas masa depan. Memang, pada satu waktu,
prestasi monumental ini dianggap sebagai tujuan akhir dari ilmu pengetahuan.
Tetapi selama nir itu, eteenth abad penemuan tertentu dibuat bahwa seri menerus mengikis kepercayaan dalam konsep sebuah tatanan dunia berubah. Jean de Monet, Chevalier de Lamarck (kesembilan belas zoologi entury), Thomas Robert Malthus (ekonom politik abad kesembilan belas), dan akhirnya Charles (menang (naturalis abad kesembilan belas) buku yang diterbitkan th: lt baik disarankan atau pro berpose perjuangan untuk eksistensi yang selamat onl oleh mereka organisme: lhle untuk beradaptasi dengan kondisi immedi: 1te lingkungan. DJrwin khususnya mengembangkan teori «evolusi" yang ia dikaitkan begitu erat saat ini.
Sebagai akibatnya, teori ini menyatakan bahwa:
banyak individu setiap spesies yang lahir dari mungkin dapat bertahan hidup akibatnya, adalah sering recl (RRI lg stntggle untuk 'eksistensi apapun, karena jika sakit sedikit namun bervariasi r) (1 meja untuk dirinya sendiri, tender genteng, dan 1i1etimes conditiolls berbagai kehidupan, akan memiliki hette , kesempatan survit'ing. dan tht S menjadi naturall ~' dipilih Dari prinsip yang kuat in11eriumce, apapun yang dipilih ariet: v akan cenderung untuk menyebarkan perusahaan AUA lCW bentuk yang dimodifikasi (Darwitl 1915 jilid 1, hal. 5).
Publikasi teori Dan vin, tentu saja,Ovoked sebuah pusaran dari con. troversy. Bahkan saat ini, itu terus menjadi target serangan berulang at.suppression pahit dan upaya. Namun demikian, substansi teori telah incor. porated ke Weltansc aung dari civiliz.
ation Barat dan diterima oleh orang-orang terpelajar yang paling
Aku Unfortun: ttely. Tidak memiliki ruang di sini untuk sesuai theorv Darwin adalah
diskusi diperpanjang layak dan hanya dapat mengomentari beberapa implikasi yang paling signifikan untuk th thpught kurikulum. Mungkin yang paling i: cant ini adalah bahwa hidup menjadi kriteria yang kita hakim Apakah ini berarti bahwa
fonns dan pengaturan dapat dinilai baik atau buruk hanya dalam kaitannya dengan kondisi lingkungan, baik pJlysicol dan sosial, dalam "Whid mereka harus u.sed. Secara singkat.

yang baik tidak lagi menjadi considercd sebagai mutlak tetapi hanya sebagai conditiOJls yang relatif terhadap alam menyediakan (Thut 1957, hal 258).
Sebuah implikasi penting kedua dari teori evolusi kurikulum FOT bahwa alam menentukan apa yang baik. Seperti realis empiris bagian previol, evolusionis mempertahankan bahwa manusia dapat mengalami kehidupan yang baik di: sepanjang ia sesuai dengan kondisi bahwa alam prescribes. Confonnill untuk Natur kebutuhan untuk evolusionis ini sangat mirip confotming untuk Natur;) agar realis.
Akhirnya, kita harus mencatat 0,11::) [itu Dan vinians teori 'evolusi adopto oleh banyak ilmuwan sosial. yang secara kolektif mengembangkan whid filsafat politik telah menjadi KNO . vn sebagai Darwinisme sosial. Ini adaptasi dari teori evolusi mempertahankan ol chatting sociery manusia itu sendiri merupakan: Aku bentuk perjuangan hidup fOl dan bahwa institusi sosial kita saat ini adalah manifes SI dari strug thai. Dengan demikian, kondisi sosial berevolusi. mereka individu31s paling cocok untuk mengatasi mereka akan berhasil di masyarakat,
sementara mereka yang kurang cocok akan gagal
Prinsip yang paling penting yang akan berasal dari doktrin sosial Dai "'Winism adalah rr.at manusia tidak memiliki po er untuk membentuk kondisi sosial sesuai dengan-Nya (sewenang-wenang) . ishes; untuk mencobanya. adalah untuk mengundang bencana. Sebaliknya,. dia harus menerima L) kebutuhan alam dan menyelaraskan perilakunya dengan dorongan evolusi ini. incidend.:.adalah asas filosofis yang mendasari laissez-faire ec (nomics doktrin bahwa hukum 11Gcural penawaran dan permintaan mengatur auromatically kekuatan pasar yang mengakibatkan tingkat produksi yang optimal, harga.dan konsumsi
(perhatikan penjajaran alam dan baik).
Suatu prinsip penting kedua diturunkan dari Darwinisme sosial adalah bahwa sifat sosial individu dan kelompok yang "successfu" ia Ones alam yang telah jelas memilih untuk hadiah
Ir follo1. . Kemudian,.lt mereka. alues dan praktek adalah orang-orang bahwa masyarakat harus berusaha untuk perpetute.
Tv ini.prinsip-prinsip dalam paIticular memiliki dampak yang signifikan terhadap kurikulum iklan by berdedikasi sosial 'olucionists.
meskipun realis empiris AOD evolusionis berbeda pada sifat realitas bumi-ccntered, mereka berada dalam perjanjian sehubungan dengan teori bahwa realitas imanen atau berdiam di ini fisikunive .
11. Biasanya Sukses interpr-eted berarti 'kekayaan materi, St4tus sosial, dan pengaruh rsona. atau kekuasaan.


APLIKASI PORARY kurikuler.

Kita harus berharap untuk menemukan banyak kesamaan antara kurikulum yang dianjurkan oleh. yang realis empiris dan bahwa evolusionis karena keduanya didirikan dalam : ontologi masuk.
Ada beberapa perbedaan dalam penekanan, Namun, yang
Weil perlu diperhatikan.
Dalam menemukan pengetahuan otth.c: baik yang harus diajarkan kepada kaum muda. evolusionis akan, tentu saja, melihat ke the'Iaws alam, tetapi ia akan espe cially dijual untuk melihat orang-orang e hukum olutionary "yang memanifestasikan dirinya dalam pola sukses individu: perilaku sosial md. Jadi konten kurikulum akan. berpusat pada keterampilan: pengetahuan md bahwa penelitian statistik telah ditemukan untuk "hasil" dalam sebenarnya "orld dari (evolusi) urusan. Pembenaran untuk metode penentuan isi kurikulum adalah berpendapat dalam sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 1918 oleh Charles Judd salah satu advoc lebih menonjol:
ltcs evolusi sosial.. Dalam sebuah divisi bab yang berjudul
"Studi Sistematik sebagai Device untuk Memfasilitasi Evolusi Kurikulum," dia menulis:
Kurikulum ini harus, moaifid IUta ditingkatkan,
"Dengan setiap akses baru dari kno'Wledge ¬ Sion dan" Wit, setiap 1R evolusi baru dalam kehidupan
The rpose pt ilmiah stuaic di sini.
Dengan demikian. kurikulum dasar dari evolusionis emphasiz.es latihan membaca dan ejaan berdasarkan kata ditunjukkan dengan penelitian statistik yang akan digunakan saat ini oleh orang dewasa yang sukses; masalah aritmatika appiied untuk aspek-aspek praktis uc kehidupan sehari-hari essful, dan berbicara dan menulis instruksi yang "benar" bentuk dipekerjakan oleh citiz.ens pertama masyarakat. Hadir menyodorkan terhadap "pendidikan karir" di tahun-tahun dasar awal yang dirancang untuk membantu menemukan anak-anak 'niche yang sesuai mereka sesuai urutan berkembang sosial adalah manifest tasi pada dasarnya asumsi evolusionis.
Pada tingkat sekunder. WHL kurikulum yang juga menekankan "praktis" dalam hal survival evolusi dalam masyarakat. Praktis Bahasa Inggris, matematika bisnis, montir mobil, stenografi, ma kantor: "lagement baik groomir anggaran pribadi. Kehidupan keluarga, dan sejenisnya yang ditawarkan bagi mereka yang" bilities alam "sesuai untuk mereka FOT kelangsungan hidup di bawah dan menengah, sosial peran Helon Bagi mereka yang menunjukkan potensi bakat kepemimpinan, kurikulum sekunder menawarkan pelatihan preprofessional diperlukan untuk bertahan hidup di atas Toles sosial Helon.. The "Matahari-; panik val" dipicu oleh Soviet 'berhasil peluncuran Sputnik pada tahun 1957 terwujud dalam reformasi kurikulum yang mengikuti garis-garis ini cIoselv evolusionis klasik ... Ilmiah dan bakat teknologi 'dipandang sebagai kunci keberhasilan dalam evolv tersebut ini perjuangan untuk bertahan hidup nasional; akibatnya, awal 1960-an melihat devel ngunan puluhan curriculau ilmiah khusus dirancang untuk memberikan berbakat. sedikit dengan pengetahuan dan keterampilan elit Amerika diperlukan untuk memastikan
12. Sebagai contoh, S SG. PSSC. BSCS. Kimia, dll Lihat''Desain Disiplin "dalam Bab 17 Untuk penjelasan diperpanjang . e disiplin desain kurikulum.
(Sebuah sidang ), bicara, computati, pertanyaan bertanya.
merumuskan masalah, mengumpulkan da.ta, seleksi data, menarik kesimpulan, dll
Dalam banyak kasus, masalah yang harus dipelajari akan 'tidak ditentukan di muka.
Sebaliknya, mereka akan ditentukan oleh siswa sendiri. Artinya, problem memiliki kualifikasi, sesuai dengan asumsi epistemologis pragmatis,
akan tumbuh dari pengalaman (yaitu, realitas) dari kelompok tertentu untuk dididik.
Sementara ilmu-ilmu sosial constitutesth, inti kurikulum. ilmu pengetahuan juga merupakan subjek penting bagi pragmatis. Memang. itu dipandang sebagai 3 sumber daya yang penting untuk studi masalah sosial banyak (misalnya, Pencemaran nacural ekologi, krisis energi, prioritas ruang, dll). Namun keyakinan bahwa semua pengetahuan adalah tentatif mengarah pragmatis untuk mencegah mengajar "fakta" sains kebenaran yang ditetapkan (lihat, misalnya, realis dalam hal ini), dan untuk menekankan proses con nyusun pengetahuan ilmiah.
Seni dan musik juga termasuk dalam kurikulum pragmatis Sejalan dengan asumsi epistemologis mereka. mereka tidak hanya menekankan: ence lesthetic pengalaman yang bisa diperoleh dari mata pelajaran, tetapi ditayangkan umum kualitas yang pengalaman dalam kepentingan, mendirikan, dengan konsensus demokratis, alasan kanon mampu selera. Kronologis sejarah, Latin, aljabar abstrak. dan lain "mati" subyek umumnya dihilangkan dari kurikulum pragmatis kecuali re'luested oleh siswa yang mereka mungkin menarik tertentu.
Dalam ringkasan. kita dapat mengatakan bahwa kurikulum pragmatis adalah "pembelajar cen terdaftar," berorientasi proses, dan emphasiz.es kegiatan mahasiswa dalam bidang inti sosial: tudies. Perihal ma ter ~ biasanya dipilih pada kriteria (1) kapasitas siswa untuk makna dari itu (yaitu, memasukkan ke dalam pengalaman mereka), dan (2) kegunaannya dalam proyek-proyek masalah-soJving. Akhirnya kurikulum pragmatis adalah kendaraan yang meningkatkan pertumbuhan mahasiswa dalam kecerdasan--gence yaitu, kemampuan untuk membangun pengetahuan tentang yang baik untuk membuat keputusan yang bijaksana dalam hidup.
EXISTENTIALISI \
Pentingnya eksistensialisme untuk kurikulum adalah problematis, pertama karena sangat baru-baru ini sebuah kedatangan pada adegan filosofis, dan kedua karena ini terutama berkaitan dengan individu, sementara i'i pendidikan dasarnya proses sOdal. Selain itu, ia telah menyarankan bahwa, berbicara secara ketat. eksistensialisme bahkan tidak memenuhi syarat sebagai filsafat, tetapi bukan semata-mata merupakan sikap "terhadap hidup." Doktrin eksistensialisme Namun, tidak kurang menarik untuk alasan hese, dan kita akan menemukan asumsi-asumsi dasar yang sangat sugestif radicaHy arah baru dalam konstruksi kurikulum.
filosofi tradisional selama berabad-abad telah berhubungan dengan meragukan SI Apakah sifat manusia?" Mencari jawaban atas pertanyaan pria itu. esensi jelas akan menumpahkan banyak cahaya pada apa yang benar merupakan kehidupan yang baik .Tapi bagi eksistensialis itu, nya adalah pertanyaan yang salah untuk bertanya. Jika Descartes (tujuh filsuf rasionalis eenth-abad) yang didasarkan pada filosofi
1ife, nything pergi iklim di sekolah, eksistensialis yang ketat akan mengklaim chatting dengan konsekuensi dari pilihan-bebas tanggung jawab moral-akan, jika bersikeras atas;
Pilihan yang melibatkan diri, tentu saja, adalah pilihan yang melibatkan kehidupan nyata. Hal berikut. kemudian, bahwa kurikulum eksistensialis akan mencoba untuk melibatkan siswa dalam situasi nyata pilihan hidup . terutama yang berkaitan dengan aspek-aspek moral dari keberadaan. Selain itu, karena existentia! Pilihan yang intuitif, pilihan berdasarkan analisis situasi cational akan putus asa demi pilihan berdasarkan mempengaruhi atau perasaan. Tentu saja, sebagai mahasiswa membuat pilihan nya dia terlibat dalam proses mendefinisikan dirinya sendiri, yaitu, sifat menentukan sendiri sebagai seorang manusia. Sebuah tipikal "melibatkan" kurikulum eksistensial mungkin termasuk studi tentang tanggung jawab masing-masing individu untuk kondisi seperti: pengeluaran untuk persenjataan militer biIiions sementara jutaan orang mati kelaparan harfiah;
. mendukung rezim korup neofascist pada pembenaran politik yang menghambat penyebaran komunisme, sedangkan penodaan jutaan hektar oleh pertambangan strip untuk "kemajuan industri"; dan menghabiskan miliaran pada kosmetik, deodoran, dan elec gadget trical , sedangkan sekolah. perpustakaan, museum. dan seni pertunjukan ada
dalam kemiskinan dan mengelola hanya kelangsungan hidup yang paling berbahaya. .
Perlu dicatat bahwa dubur rasional topik ini sering mengarah ke condu "praktis" yang diametricaJIy cpposed pada kesimpulan yang didasarkan pada intuisi atau emosi. Bagi eksistensialis, tentang cou itu adalah laner "Kesimpulan yang bisa dipercaya, karena merupakan salah satu yang didasarkan pada pengetahuan tentang kebaikan. Ini sebuah pengamatan terakhir yang sesuai dengan yang untuk menutup bagian ini pada orang filosofi masuk, untuk itu mahal menunjukkan viction con bahwa keputusan berdasarkan nowledge dibangun.
oleh individu adalah orang-orang bijaksana yang akhirnya mengarah pada kehidupan yang baik.


Referensi

Darwin, Charles. 1915. Asal Usul specie. New York: Appleton Century rofts. Driscoll, Francis. 1972. -R [t'3nscend Tal] M (editation) sebagai ject Sub Sekolah Menengah.
"PhiDelta (Desember)
Friedenberg. Edgar Z. 1959. Adolescent Vanishing, New York: Dell Publishing. Perusahaan
. Jowett. B. trans. 1899. The Wor1ts Plato. New York: Dial Press
Judd, Charles Hubbard. 1918: Saya ntroducticn untuk du Sdentific S Rud] dari Educaiion.
Boston: Ginn & Perusahaan. , Kneller, George F. 1958. Ana eksistensialisme Pendidikan. New York: John Wiley &.
..
Morris Van Oeve. 1961. Filsafat dan Sekolah Amcican. Boston: Houghton
MiSlin Company.
Spencer, Herbert. 1885. Pendidikan: IntdJectw, MoraZ. Dan fisik. New York:
JohnB. Alden PubllS nya '

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar