Senin, 04 Februari 2013

SEJARAH PEMIKIRAN DAN PERADAAN ISLAM



SEJARAH PEMIKIRAN DAN PERADAAN ISLAM

MASA KHULAURROSYIDIN

Pendahuluan

Khulaurrosyidin bermakna pengganti-pengganti yang cedikiawan, panggilan resmi bagi pejabat kekuasaan tertinggi dalam dunia Islam ketika itu adalah Amirul mu’minin atau dalam literatur barat menyebutnya dengan “Prince Of Believiers” sebagaimana yang lebih populer dan lebih disenangi Umar ibnu khottob . Akan tetapi di dalam kehidupan sehari-hari pada itu lebih populer dengan sebutan khalifah.Dalam aspek imamat, bahwa chalip itu adalah pengganti kedudukannya sepeninggal Rasululah SAW pimpinan kekuasaan duniawi dan ukhrowi, sedangkan dalam risalat, tetap bahwa Rasulullah SAW tidak akan tergantikan, karena fungsi risalah itu adalah rahmatan lil ‘alamin dan merupakan nabi terakhir atau penutup.  {Yusuf Sou’yb: 10}.Semula Abu Bakar terpilih dipanggil dengan khalifatulloh, tetapi ia amat keberatan dengan panggilan itu dan mengubah nya menjadi khlifaturrasul. Semenjak itulah bermula lahir sebutan khalifah yang dalam literur barat disebut Caliph.

BAB I

TERPILIHNYA ABU BAKAR ASSHIDDIQ [11-13 H/632-634 M].

Ketika Nabi Muhammmad SAW wafat pada hari senin 12 Rabi’ul Awal tahun 11 Hijriah bertepatan dengan tanggal 9 Juni 632 masehi, beliau sendiri tidak menetapkan penggantinya maka ketika itu timbullah permasalahan tentang pimpinan tertinggi yang meneruskan perjuangannya {al imamat}.Terdapat perselisihan yang tajam sekali ketika itu antara kaum anshor dan kaum muhajirin, Sa’ad bin Ubadah dan Hubab ibnu Munzir adalah salah satu dari kaum anshor yang keras menentang masalah imamah, disebabkan karena tokoh-tokoh tersebut adalah tokoh yang disegani kaumnya, sedangkan di fihak muhajirin terdapat Umar bin Khottob, Abu Ubaidah ibnu Jarrah, Abu Bakar Asshiddiq, namun Basyir bin Sa’ad dari kalangan Anshor tetap membela kaum muhajirin.  Abu Bakar ketika itu mengajukan dua pilihan yaitu Umar bin Khottob dan Ubaidah Ibnu Jarroh, namun ada saat itu Basyir bin Sa’ad tokoh utama di kalangan Anshor dan abu Ubaidah justru membai’at Abu Bakar disusul oleh Umar kemudian berbondong-bondong kalangan Anshor dan Muhajirin membai’atnya dan mengaraknya menuju masjid nabawi.
Setelah selesai nabi saw di shalatkan dan dimakamkan, menjelang shalat isya, kemudian Abu Bakar mengucapkan khotbah yang pertama dan tercatat dalam sejarah :
“ Hai manusia sekalian, aku diangkat mengepalai kamu, dan aku bukanlah yang terbaik diantara kamu, jika aku berbuat kebaikan, maka dukunglah aku, jika aku membuat kejelekan maka betulkanlah aku,kenaran itu suatu amanat dan kebohongan itu suatu khianat, yang terlemah diantara kamu aku anggap terkuat sampai aku mengambil dan memulangkan haknya, dan yang terkuat diantara kamu aku anggap terlemah sampai aku mengambil hak si lemah dari tangannya, janganlah seorangpun diantara kamu meninggalkan jihad, kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah, patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya, bila aku mendurhakai Allah dan Rasul-Nya tiada kewajiban bagimu untuk mematuhi aku, kini marilah kita menunaikan shalat, semoga Allah merahmati kamu sekalian”.
Khotbah yang amat singkat itu begitu mencerminkan garis dasar yang baru bagi sejarah umat manusia, betapa ketika itu tiada seorang pemimpinpun baik dalam imperium Romawi ataupun khosru-khosru dalam imperium Persi yang mencerminkan dinamika kerakyatan yang pada kenyataanya ketika itu dalam semua kerajaan memiliki kekuasaan yang absolut dan tirani.
Wafatnya Nabi Muhammad SAW dan naiknya Abu Bakar menjadi khlifah yang pertama tidaklah serta merta Abu Bakar mempunyai tugas  yang ringan. Ketika Nabi SAW dalam keadaaan sakit, pasukan yang sudah di persiapkan untuk di berangkatkan yang di pimpin oleh Usamah bin Zaid masih berada sekitar tiga mil dari madinah dan akhirnya memutuskan untuk kembali, setelah Abu Bakr naik menjadi khalifah maka pasukan ini tetap diberangkatkan walaupun pasukan ini hanya bersifat punitive troop, yakni menuntut balas atas  perilaku raja Ghassani yaitu bernama Jabala ibn Aiham yang membunuh utusan yang di kirim oleh Nabi SAW.Pemberangkatan pasukan itu beroleh tantangan dari berbagai fihak mengingat bahwa:
-          Jika pasukan itu diberangkatkan, maka ibukota Madinah akan kosong dan tidak ada kekuatan sama sekali
-          Pasukan itu terdiri dari berbagai tokoh-tokoh tua dan terkemuka dikalangan sahabat Anshor dan Muhajirin yang di pimpin oleh pemuda yang belum perpengalaman dalam medan pertempuran.
Namun pendirian Abu Bakar ra yang begitu kukuh menjalankan keputusan Rasul SAW, menjadikan kaum Muhajirin dan Anshor mematuhi dan melaksanakannya.Jika diteliti lebih jauh alasan pemberangkatan pasukan itu mungkin dapat di simpulkan makna yang tersirat: pertama, kalangan Anshor dan Muhajirin barulah masih terlibat sengketa yang sangat sengit dan tajam dalam masalah imamah, kedua: wafatnya Nabi Muhammad SAW masih menyisakan keharuan yang sangat luar biasa dan dalam di hati kaum muslimin. Jika saja Abu Bakar tidak cepat bertindak dan melakukan suatu kegiatan, niscaya persengketaan dan kesedihan dikalangan muslimin lambat laun akan muncul kembali. Kemestian pemberangkatan pasukan itupun tidak dapat di simpulkan kemestian yang terus berulang kali diucapkan Nabi SAW. Namun Abu Bakar RA adalah seorang negarawan terbesar {The Great Stateman} dengan berbagai kebijakan yang  selalu dijalankannya itu dalam kenyataan sejarah di kemudian hari. Dan yang mengesankan adalah ketika Abu bakar menuntun kuda panglima Usamah yang ketika itu baru berumur dua puluh tahun mengantarkannya menuju Jurfa dan mengatakan: “Demi Allah jangan turun biarkan kakiku ini dipenuhi debu di jalan Allah, setiap langkah pejuang {ghazi} beroleh imbalan tujuh ratus kebaikan, meninggikan martabatnya dan menghapus tujuh ratus kesalahan”. Dan setelah itu memohon kepada panglima yang memang menjadi bawahannya agar Umar tidak berangkat dan tetap menemaninya dalam menjalankan roda pemerintahan. Dan amanatnya kepada para pejuang itu berisikan:
“Jangan berkhianat, jangan berbuat keterlaluan, jangan menganiaya, jangan menggantung, jangan membunuh anak-anak, dan orangtua dan wanita, jangan merusak pohon-pohon dan membakarnya dan jangan menebasnya ketika berbuah, biarkan masyarakat yang melakukan kebaktian dalam rumah-rumah ibadahnya, jangan lupa menyebut nama Allah ketika mencicipi beragam makanan, kini berangkatlah dengan nama Allah”.
Amanat Khalif Abu bakar ini sangat kontras sekali dengan tatacara perang yang dilakukan imperium Roma maupun imperium Parsi yang ketika itu sangat bengis dan kejam sekali yang berupa penghancuran, pemusnahan, pembunuhan terhadap kaum wanita dan anak-anak, dan pembunuhan massal disetiap wilayah yang di duduki. Para Ahli –ahli sejarah kemudian menilai keberhasilan pasukan Islam ini yang sedemikian cepat ke utara, timur dan barat itu berkat dari titik beratnya adalah pada sifat kemanusiaan dan selanjutnya keluwesan kekuasaan Islamterhadap kelompok-kelompok non muslim.
Beberapa puluh abad berikutnyakemudian barulah dunia barat sendiri menemukan prinsip-prinsip perang yang berkemanusiaan melalui salah satunya adalah Deklarasi Paris tahun 1856.

PENUMPASAN PEMBERONTAKAN KAUM RIDDAT 

Kembali ketika tersiar bahwa Nabi SAWsedang sakit dan belum sampai wafatnya, maka muncullah kaum riddat {murtad} di berbagai jazirah Arab. Diantaranya di lingkungan suku besar asad pada bagian tengah Arabia seorang tokoh bernama Thulaihah bin Khuwailid Al asadi {11 H/632 M}, bekas seorang dukun {tukang sihir} sebelum masuk Islam, dan iapun maju di kalangan bangsanya mengaku menjadi nabi. Ia banyak memperoleh pengikut terutama kaum bangsawan yang memang ajarannya menghapuskan kewajiban zakat, menghapuskan kewajban sujud pada setiap shalat, pengikutnya itupun meluas sampai suku besar Thai, Fezara dan suku-suku bagian tengah. Ia menobatkan dirinya menjadi nabi dan mengunjungi Abu Bakr Ra di Madinah Munawarah bersama pengiringnya yang ketika itu masih terjadi kekosongan pasukan karena sedang berada di Syiria, dan minta diakui sebagai nabi dan diakui ajaranya agar dapat hidup berdampingan secara damai, namun abu bakar ra dengan tegas menolaknya. Terjadi perbincangan yang sangat serius diantara para shahabi agar Abu Bakar bersikap lunak terhadap mereka, sebab yang di khawatirkan adalah belum datangnya pasukan yang dipimpin Usamah dari medan pertempuran,  Abu Bakar tetap pada pendiriannya dan akhirnya Thulaihah keluar menuju perbatasan Madinah tanpa kesepakatan,sedangkan disana ia telah mempersiapkan pasukannya. Rencana Abu Bakr menyergap secara tiba-tiba mendapat reaksi dari kalangan shahabi yang mengkhawatirkan keselamatan khalifah sendiri, disamping mengingatkan karena usianya yang telah lanjut namun akhirnya kalangan shahabi itupun menyetujui penyerangan tersebut.
Malam itu jugapenyerangan dilakukan  dengan pasukan yang di pimpin oleh Nukman bin mukarran, Abdullah bin Muqarran dan Suwaid bin Muqarran sampai Abu Bakar sendiri ikut dalam pasukan cadangan. Pasukan Tulaihah sendiri binasa dan sisanya melarikan diri ke daerah Zul-Qisha. Kemenangan ini pada hakekatnya kecil, tetapi mempunyai efek yang sangat besarterhadap golongan riddat, yang selanjutnya menciptakan adem-pauze dalam masyarakat Madinah.
Aswad Al Insa{11 H/632 M} juga mendakwakan menjadi Nabi bersamaan waktunya dengan peristiwa riddat yang dilakukan oleh Thulaihah, sukunya mendiami wilayah Arabia bagian selatan kemudian menyerang kota Najran sampai ke Sana’a daerah Yamanyang ketika itu dikuasai oleh fihak Islam yang di pimpin seorang emir Syahar ibn Bazan.Aswad ini adalah seorang yang berkulit hitam bekas seorang tukang tenung {black magic} yang di takuti dan di kagumi oleh kaumMazhaj, tersebab dia mampu memperlihatkan hal-hal gaib dan tutur bicaranya yang manis menarik perhatian setiap orang. Dia sering dipanggil dengan nama Zul Khimar, yaitu yang mengenakan cadar, karena mukanya ditutupi cadar mirip dengan seorang wanita. Ajaranya membebaskan setiap orang dari kewajiban shalat dan zakat dan mengizinkan perzinahan. Namun kekuasaanya hanya sekitar empat bulan saja, ia dibunuh oleh bekas pengikutnya sendiri ketika sedang berpesta pora dengan para gundiknya.
Kemudian Musailamah Al kazzab{ 11 H/ 632 M } dan istrinya Sajjah binti Al harits yang keduanya mendakwakan menjadi nabi. Musailamah adalah tokoh cendikiawan dalam lingkungan suku besar hanifah, ia mempunyai kekuatan pasukan sebanyak 40.000 orang guna menandingi kekuatan Nabi besar Muhammad SAW.  Ia ikut dalam perutusan dalam rombongan suku besar Hanifah ke Madinah setelah nabi SAW  menaklukkan kota Mekkah,   sekembalinya ia dari Madinah ia langsung mendakwakan dirinya menjadi nabi dan banyak memperoleh pengikut. Adapun Sajjah binti Al harits bin Suwaidbin Aqfan berasal dari jazirah belahan utara Irak dari suku Tighlab. Awalnya Sajjah akan menyerang Musailamah di wilayah Yamamah,  di sebabkan mereka dihadapkan oleh dua pasukan Islam dari Madinah yang di pimpin oleh Ikrimah bin Hisyam dan pasukan cadangan yang dipimpin oleh Syarahbil ibn Hasanah, maka keduanya mengikat perjanjian damai dan keduanya melangsungkan perkawinan dengan ketentuan bagi hasil dari wilayah Yamamah dan penggabungan kekuatan pasukan.Mengetahui besarnya pasukan yang yang dipimpin oleh nabi palsu itu kemudian Abu Bakar mengirim pasukan tambahan yang di pimpin oleh Khalid ibnu Walid, pertempuran dahsyat pun terjadi di daerah yang di sebut wadi al aqraba, pasukan Islam terdesak karena jumlahnya yang lebih sedikit di banding fihak lawan, maka diterapkanlah taktik yang beliau lakukan dalam medan-medan pertempuransebelumnya sehingga menjadikan kemenangan berada di fihak Islam, akhirnya Musailamah di bunuh oleh Wahsyi mawla Jabir ibnu Muth’im.
Allak Alhadhramy dan Bahrain.
Satu kisah yang patut di cermati adalah kisah Allak ibn Al Hadhrami yang diutus oleh Abu Bakar dalam menumpas kaum Riddat di Bahrain yang dimulai oleh suku bani Bakri. Suatu malam Panglima Allak Al Hadhramy dengan seluruh pasukannya berhenti pada gurun pasir yang bernama Al dahnak, terbentuk atas tujuh gunung pasir yang berwarna merah, mendadak seluruh unta dan kendaraan mereka lari karena diterjang topan dan badai, sedangkan mereka belum menurunkan perbekalan dari kendaraan tersebut sehingga timbullah rasa lapar dan keputus asaan dari pasukan tersebut. Setelah badai topa itu reda berkatalah panglima Allak: “Apakah kamu semuanya bukan muslim? Apakah kamu semua tidak percaya kepada Allah? Kamu sekarang ini menunaikan tugas di jalan Allah, membela di jalan Alah teguhkanlah iman mu kembali dan percayalah akan kebesaran Allah”.
Sejarah mencatat setelah sembahyang subuh dan Allak Al Hadhrami memanjatkan doanya, mendadak datanglah air melimpah yang ketika itu dan di tempat itu berabad-abad lamanya sebagai lintasan kafilah tidak terdapat air sedikitpun dan menjelang tengah hari, unta dan kendaraan merekapun datang kembali.
Dan keajaiban lainnya ketika anggota pasukan akan melintasi lautan menuju pulau Manamah {Bahrain}, bahwa mereka berdoa dan menyerahkan diri kepada Allah hingga kaki-kaki unta dan kuda-kuda mereka dapat menyebrangi lautan yang tenggelam hanya sebatas lutut-lututnya, dan akhirnya merekapun dapat menaklukkan kaum Riddat di wilayah Bahrain. Bahkan penyair dari bani Kais Afif Ibnu Munzir mengabadikannya dalam sebuah syairnya.
Laqit bin malik Al Azadi juga mendakwakan menjadi rasul di wilayah Oman. Maka Khalif Abu Bakar memerintahkan kepada pasukan Ikrimah dan Syarahbil untuk berangkat ke daerah Oman menyusuri teluk parsi. Setelah menaklukkan Oman pasukan tersebut bergerak ke Mahra daerah yang termasuk wilayah Oman timur dan Hadramaut. Pasukan itu berolehbantuan dari wilayah-wilayah sekitar yang menyerahkan diri dan membai’at khalif Abu Bakar kembali. Sedangkan Panglima Khuzaifah tetap berada di Oman guna memulihkan keamanan dan ketertiban di wilayah itu.
Kais Ibnu Abi Yaguts adalah bekas panglima dari Aswad Al Insa yang terbunuh ditangannya, maka setelah tewasnya Aswad iapun membelot agama dan melakukan penindasan terhadap kaum al Abnak di wilayah Yaman. Namun ia dan Amru ibnu Ma’dakariba tertangkap oleh pasukan Ikrimah dan Muhajir ibn Abi-Umayah, kemudian dikirim ke Madinah unutuk dipertimbangkan sendiri oleh khalif Abu Bakar ra.

BAB II

Jika di tilik dari sebab-sebab timbulnya nabi-nabi palsu dan kaum riddat ini bermunculan, maka kita dapat telaah dari peristiwa tersebut, pertama:
-          Peristiwa itu terjadi hampir bersamaan ketika Nabi Muhammad SAW sedang dalam keadaan sakit hingga wafatnya, yang berarti bahwa anggapan mereka pemimpin dan kaum muslimin pada waktu itu sedang dalam keadaan lemah, sehingga mereka dapat memanfaatkan situasi yang menguntungkan
-          Kedua: iman yang di anut oleh sebagian besar masyarakat Islam yang murtad yang notabene jauh dari jangkauan kekuasaan Islam {pusat kota} ketika itu masih lemah
-          Ketiga: sifat Ta’ashubiah, yaitu menganggap bahwa kaumnyalah yang lebih mulia, terbukti nabi-nabi palsu itu mendakwakannya di sebagian besar sukunya dan menganggap sukunyalah yang paling mulia. Hal ini dikuatkan dengan pernyataan Uyainah ibn Hishan dari suku beasr Ghatfan mengenai Tulaihah Al Asadi dan berkata: “Seorang nabi dari sekutu kita lebih baik dari pada seorang nabi dari suku Quraisy”.
-          Keempat: banyaknya ketika itu termasuk pada suku quraisy sekalipun, terdapat pemeo bahwa orang-orang yang mempunyai kekuatan magic lebih dihargai dan di takuti ketika itu, begitupun tukang-tukang sya’ir, sehingga banyak yang terbujuk dengan kata-kata dan sya’ir-sya’ir yang menawan hingga beroleh banyak pengikut.
-          Kelima: Nabi-nabi yang menda’wakan diri itu senantiasa memberikan ajaran yang menguntungkan para bangsawan dan orang-orang kaya, semisal tidak perlu mengeluarkan zakat, ataupun di senangi oleh masyarakat awwam semisal meninggalkan shalat, dan terlebih lagi yang mengikuti syahwat seperti menghalalkan perzinahan.
Adapun jika kita telaah kembali mengapa khalif Abu Bakr menghukum kaum murtad itu dengan hukuman yang sangat berat bahkan dengan muharabah/ pembunuhan dan pembasmian. Pembelaan atas alasan-alasan ini di jawab oleh Syeikh Yusuf Qardawi dalam bukunya sistem masyarakat Islam dalam Alqur’an dan sunnah. Pertama: dalil yang mengatakan bahwa Allah berfirman: “katakanlah: “taatilah Allah dan taatilah Rasul itu”. {Annur: 54}. “barangsiapa yang taat kepada Rasul, maka ia taat kepada Allah”. {An Nisa : 80}. Kedua: adanya Ijma’ ulama dan kesepakatan fuqahaul ummah untuk membunuh orang murtad tersebut. Ketiga: sesungguhnya diantara ulama salaf ayat peperangan dalam surat Al Maidah ayat 33 di tujukan untuk kaum yang murtad, yaitu Allah berfirman: “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah dibunuh dan di salib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri {tempat kediamannya}. Yang demikian itu sebagai suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akherat mereka beroleh siksaan yang besar” {Al Maidah : 33}. {Dr. Yusuf Qardhawi : 46}.
Dalam Asbabun Nuzul diterangkan berkenaan dengan ayat ini bahwa Abdul malik bin Marwan menulis suratyang berisi pertanyaan kepada Anas bin Malik,  maka di jawablah bahwa ayat ini berkenaan dengan suku Urainah yang murtad dari agama Islam yang membunuh penggembala unta dan membawa lari untanya.


BAB III

Menghadapi Imperium Parsi dan Romawi

Disamping dalam khilafat Abu Bakar membasmi kaum riddat, kebijakan yang dipandang efektif sekali adalah kemampuannya memalingkan suku-suku arab yang ketika itu  masih carut marut dengan sengketa dan pertumpahan darah serta kesedihan yang masih dirasakan disebabkan oleh wafatnya Nabi Muhammad SAW, kepada tujuan yang besar dan penuh kesungguhan yaitu menghadapi imperium Parsi dan Romawi.
Adalah panglima Khalid bin Walid yang  diperintahkan menuju keutara ke lembah Mesopotamia. Dapat dibayangkan fatalnya jika seluruh kekuatan ketika itu tumpah ruah menghadapi kekuatan besar yang sudah berabad-abad berpengalaman dalam perang dan menguasai belahan dunia serta menguasai senjata-senjata yang dipandang modern ketika itu. Namun khalif Abu Bakar yakin dengan sabda Nabi SAW yang tatkala mengutus ke Ctesipon pada tahun 8 H, kemudian surat itu di koyak-koyak oleh Khosru Parviz, maka Nabi SAW bersabda: “Kerajaannya akan dikoyak-koyak di tanganmu”. Itulah Abu Bakar dan ingat ketika peristiwa isra mi’rajpun beliau langsung mempercayainya, bahkan jika lebih dari itu.
Awal mula menuju lembah Mesopotamia itu adalah ketika panglima Mutsanna ibn Haritsa As Syaibani, seorang panglima muda yang ikut dalam pasukan Allak ibn Hadrami yang berada di Bahrain memohon izin untuk meneruskan ke arah utara menyusuri pesisir teluk Parsi dan permohonannya itu di kabulkan, ia dan pasukannya berhasil menundukkan bandar Al Qatif bersama 8000 pasukannya dan ketika sampai di wilayah Quwait, ia mendapat perlawanan sengit sehingga pasukannya terhenti dan meminta bantuan kepada khalif Abu Bakar ra. Setelah menerima laporan dari Panglima Mutsanna, maka terbesit niat khalifah untuk memalingkan suku-suku Arab yang carut-marut itu untuk bergabung bersama-sama menuju tujuan yang besar. Selain mengirimkan Panglima Khalid ibn Walid yang langsung berangkat dari Yamamah berkekuatan sekitar 10.000 tenaga tempur, khalif Abu Bakar juga mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh panglima Iyyadh menuju kerajaan Hira yang menjadi bagian dari kerajaan Parsi dan ketika bergabung sehingga menjadi 18.000 pasukan.
Perangpun berkecamuk dan panglima Khalid terus mencapai kemenangan demi kemenangan, perang Zat us Salasil yaitu bermakna untaian rantai, karena tawanan perang diikat dengan rantai. Pertempuran di Tsini, pertempuran di Waljah, pertempuran di Allais, sampai menduduki kota Hira, menundukkan kota Anbar,menduduki benteng Ain tamar, pertempuran di AlFiradh, sampai kegemilangan Khalid itu di lukiskan Abu Bakar dalam kalimat yang berbunyi: Ajazat An nisa An yalidna mitsla Khalid:“tiada mampu wanita-wanita lainnya akan melahirkan putra serupa Khalid”.
Suatu kisah danHikmah dari peperangan tersebut ternyata ketika banyak tawanan perang dari fihak non muslim yang melahirkan pejuang-pejuang Islam ataupun putra-putra pejuang Islam di kemudian hari, diantaranya ketika pertempuran di Tsini {wilayah Basrah}, salah satu tawanan perang dari tokoh agama Nasrani yang merupakan ayah dari Hasan Al Basri salah satu ulama terbesar dalam abad ke 2 hijriah. Kemudian setelah pendudukan Ain Tamar ada Abu Zayad calon pendeta Nasrani yang kemudian menjadi pejuang Islam serta Nushoir yang adalah bapak dari Musa ibn Nushair di kemudian hari menaklukkan kerajaan Visigoth di semenanjung Liberia {spanyol dan Potugal} sampai pegunungan Pryrenees tahun 93 H/711 M.
Kemenangan yang gilang gemilang di lembah Mesopotamia itu telah membangkitkan semangat dan bertambahnya keyakinan di kalangan muslimin ketika itu, sehingga banyak para sukarelawan yang datang dari semenanjung Arabia untuk bergabung. Jika ditilik dari kacamata sejarah, bahwa kemenangan tersebut salah satunya adalah karena kepatuhan umat Islam terhadap amanat perang yang di berikan Abu Bakar As Shiddiq, kemudian adalah dari pidato panglima-panglima Islam sendiri sebagai pemicu semangat seperti khalid ibn Walid, Abu Ubaidah ibn Jarrah, Kika ibn Amru  Attamimi, Allak ibn Al Hadramy dan lain-lain. selain dari faktor-faktor sengketa intern kalangan Persi sendiri, seperti masa-masa kemelut dari dynasti Archaemenids sampai dinasty  Sassanids yang terakhir di pimpin oleh panglima besar Rustam dan mengangkat Khosru Yezdegrid III{632-651 M}. namun jika kita lihat dalam kenyataanya ketika itu di masa Nabi Muhammad Saw masih hidup dan tinggal di Mekkah, kemenangan di dominasi Persi atas Romawi selama enam tahun berturut-turut sehingga menjadi bahan ejekan dan cemoohan kaum Quraisy di kota Mekkah, kemudian turunlah surat Arrum ayat 1-5 sebagai penghibur hati Nabi saw dan kaum muslimin yang menyatakan bahwa fihak Roma akan menang kembali dalam waktu singkat, hal itu terbukti ketika Nabi SAW hijrah ke Madinah imperium Roma berhasil merebut kembali wilayah belahan Timur {Asia kecil}.
Menghadapi pasukan Romawi yang berkekuataan 240.000 tenaga tempur dengan disertai peralatan-peralatan perang yang berat dan lengkap, di fihak Islam hanya mempunyai 39.000 tenaga tempur dan itupun di dapat setelah menaklukan wilayah-wilayah dalam perjalanannya menuju Yarmuk serta suku-suku Arab yang mengangkat bai’at kembali kepada khalif Abu Bakar akan tetapi sebagian besar terdiri dari pasukan berkuda dan unta dan membawa peralatan ringan seperti khanjar/ pedang bengkok yang terkenal tajam dan panah. Dan semua pasukan itu di bawah komando Khalid ibn Walid.
 Dalam hal ini sebagai pertanyaan yang singkat mengapa Yarmuk ditetapkan sebagai pemusatan pertahanan dan arena pertempuran, karena Yarmuk telah di kenali betul oleh pemuka-pemuka quraisy yang pada waktu sebelum kedatangan Islam telah banyak kafilah-kafilah dagang dari kota Mekkah berpergian pada musim panas pergi ke belahan utara{ Syam,Mesir, Irak} dan pada musim dingin kebelahan utara {Yaman dan Habsyi}. Hal ini juga yang di abadikan pada surat Quraisy dalam Al qur’an.  Dan peristiwa pertemuan dua pasukan di Yarmuk inilah khalif Abu Bakar Asshiddiq wafat bertepatan pada tanggal 23 jumadil Akhir tahun 13 H / bulan Agustus 634 M dalam usia 63 tahun.

PENUTUP

Masa pemerintahan Abu Bakar hanya 2 tahun 3 bulan dan 13 hari, namun demikian besar jasanya dalam membangun dan membuka peradaban Islam. Beliau juga adalahorang yang pertama kali mengumpulkan naskah-naskah Alqur’an yang berupa catatan-catatan dan lembaran-lembaran perkamen dan dari pelepah-pelepah kurma di simpan di kediaman Hafshah puteri Umar ra, sebab beliau khawatir akan hilangnya mashaf itu karena banyaknya para huffadz {penghafal Alqur’an} yang gugur dalam medan pertempuran.Beliau juga yang mula-mula mengelola dan mengurus perbendaharaan negara yang di sebut Baitul Mal, namun kehidupan sederhana yang beliau jalani dalam masa 2 tahun 3 bulan masa pemerintahannya tersebut beliau hanya mengeluarkan 8000 dirham bagi keperluan keluarganya.
Nama asli dari Abu Bakar sendiri adalah Abdullah nama ayahnya Utsman bin ‘Amir yang bergelar Abu Kuhafah, silsilah keturunannya bertemu dengan Nabi saw pada Murra bin Ka’ab dari bani Taim, yaitu Abu Bakar bin Utsman bin amir bin Umar bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murra bin Ka’ab. Gelar Asshiddiq sendiri di dapat ketika ia membenarkan dengan yakin dan pasti peristiwa Isra dan mi’rajnya nabi saw.Sebelum kedatangan Islam beliau menikah dengan Qatilah binti Sa’ad, mempunyai dua orang anak yaitu Abdullah bin Abi Bakr dan Asma’. Setelah isterinya pertamanya wafat, beliau menikah lagi dengan Ummu Ruman mempunyai satu orang putera dan satu orang puteri yang bernama Abdurrahman dan Aisyah ra. Setelah isterinya wafat, ia menikah lagi dengan janda dari Ja’far bin Abi Tholib yang gugur dalam perng Khaibar, bernama Asma binti ‘Amis dan mempunyai seorang putera bernama Muhammad bin Abu Bakr. Abi Bakr pernah pula mengawini Habibah binti Zaid mempunyai seorang puteri bernama Ummu Kultsum. Namun perkawinan itu tidak berlangsung lama dan cerai dan Habibah itu kemudian di kawin oleh Thulhah bin Ubaidillah. Sedangkan Asma binti ‘Amis sepeninggal Abi Bakr di kawin oleh Ali bin Abi Tholib setelah wafatnya Fathimah Azzahra ra.


Khilafat Umar Bin Khattab [13-23 H/634-644 M].

Khalif Umar bin Khattab adalahsatu-satunya khalifah yang terpilih atas penunjukkan langsung oleh sahabat Abu Bakar yang terlebih dahulu meminta para shahabat-shahabat Rasulullah saw, diantaranya Abdurrahman bin Auf, Tulhah ibn Ubaidillah, dan ditulis amanatnya oleh Utsman bin ‘Affan ketika khalif Abu Bakar tengah terbaring dalam keadaan sakit dan amanat itu berbunyi: “adapun kemudian aku menunjuk Umar bin khattab untuk menggantikanku, dan hal itu untuk kebajikan semuanya”. Tidak ada pertentangan dalam masalah ini dan mereka semua menjawab :”sami’na wa atho’na, kami dengar dan kami patuhi”.
                Kepribadian Umar bin Khattab adalah ketegasannya dalam menjalankan syari’at Islam, ia tidak dapat membiarkan ketidak adilan dan tidak dapat menyaksikan untuk membiarkan ketentuan agama di langgar namun ia memiliki kehidupan yang sederhana sekali. Dan ketika itu pada saat baru saja khalifah Abu Bakar menghembuskan nafasnya yang terakhir ia memerintahkan Hisyam ibn Walid untuk mencambukUmmu Farwat binti Abi kuhafah, saudara Abi Bakr sendiri, karena meratapi kematian Abu Bakr. 
                Pada saat-saat awal Umar masuk Islam, ketika ia akan berhijrahtiada seorangpun yang berani  berterus terang kecuali Umar ibn Khattab, setelah ia tawaf di ka’bah dan shalat dua raka’at, kemudian maju dengan membawa pedang dan busur panah kepada pembesar-pembesar Quraisy seraya memegang dagu mereka satu persatu, lalu berkata: “ Barang siapa yang ingin ibunya meratapi puteranya, dan sang anak menjadi yatim, dan seorang isteri menjadi janda, maka susullah saya ke lembah sana.Pada saat itu tidak ada seorangpun yang berani menyusulnya. Dan iapun berangkat dengan aman.               
                Awal pemerintahannya, Umar memecat Khalid ibn Walid sebagai panglima kepada Abu Ubaidah Ibn Jarrah yang ketika itu sedang menghadapi pasukan besar Roma di Yarmuk, namun pemecatan itu di rahasiakan oleh berbagai panglima agar semangat juang tetap tejaga di kalangan pasukan.Khalif Umar juga merahasiakan wafatnya Abu Bakar guna menghindari lemahnya pasukan kaum muslimin waktu itu,
Alasan pemecatan itu karena, pertama: Khalif Umar khawatir dengan perjuangan yang di lakukan Khalid itu berujung pada pengkultusan individu secara berlebihan sebab berbagai penaklukan yang dipimpinnya dengan kelihayan dan strateginya selalu berhasil dalam setiap perjuangannya, sehingga Khalid di juluki oleh Rasulullah saw dengan Saefulloh atau pedang Allah. Kedua: Panglima Khalid adalah panglima yang dianggap terlalu bernafsu dalam medan pertempuran sehingga tidak menimang nyawanya sendiri, namun semangat Khalid untuk bertempur tidaklah susut, bahkan ia lebih bersemangat lagi, ketika pertempuran usai dan kemenangan berada di fihak Islam sehingga terkuaklah rahasia pemecatan tersebut, orang-orang menanyakannya mengapa ia begitu, iapun menjawab: “aku berjihad bukan karena Umar tapi karena Allah”.
                Pertempuran itu Yarmuk itu sangat dahsyat dan dalam literatur barat menyebutnya dengan penyembelihan besar-besaran terhadap pasukan Roma disebabkan jumlah korban yang teramat besar dari fihak Romawi ketika itu dan kaum muslimin pada akhirnya memperoleh harta rampasan perang yang tidak terkirakan jumlahnya. Kemenangan di Yarmuk itu sangat penting artinya sebab merupakankunci kemenangan yang terus menerus  dalam pertempuran berikutnya di belahan Siria dan Palestina. Dan setelah kemenangan tersebut pasukan Islam bergerak kedaerah Damaskus serta merebutnya setelah pengepungan selama lebih dua bulan lamanya dari tangan King Jabala ibn Aiham Vi.

BAB I

Menguasai Syiria dan Palestina               

Penguasaan Damaskus yang bertepatan pada tahun 14 H /635 M, pada hakikatnya adalah melegakan tokoh-tokoh gereja Siryani yang pada waktu itu berada dalam tekanan dan penderitaan gereja kaum Grik yang menganut aliran Melchites[ keyakinan yang berasal dari Paus Melchiades di Roma/311-314 M yang menyakini bahwa yesus itu punya dua zat, yaitu zat insaniat dan zat ilahiat] di bawah kekuasaan Romawi Timur. Dari gereja Siryani inilah pada masa kemudian banyak jasa besar yang dihasilkan terutama dalam penyalinan naskah-naskah Grik tuayang tumbuh dalam perkembangan dan pemikiran pada peradaban Islam selain itu bangsa Siryani juga bahu membahu dengan bangsa-bangsa Arablainnya dalam menguasai daerah di belahan Romawi Timur.
                Damaskus ketika itu adalah bagian dari imperium Roma dengan rajanya yang bernama King Jabala VI, atau Jabala Ibn Aiham, ia dari suku Ghassani yang ketika awal mulanya suku-suku Ghassani ini mendiami wilayah Yaman di selatan, namun peristiwa jebolnya bendungan raksasa Ma’rib menyebabkan  pengungsian besar-besaran suku-suku Arab termasuk suku Ghassani ini ke wilayah utara {yaitu Syiria dan Palestina yang di kenal dengan sebutan Syam} pada abad satu masehi. Sebelum ibukota Damaskus didirikan,  wilayah Haurankemudian Balka dan kemudian berganti Jillak  merupakan ibukota Syiria dan Palestina. Bangsa –bangsa Arab umumnya ketika itu menganut agama Nasrani beraliran Siryani dan di kenal dengan sebutan gereja Siryani.
Raja yang pertama memerintah di Damaskus adalah King Tsalaba tahun 300 M dibawah kaisar Diocletianus {284-305 M} yang melakukan penyiksaan terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani di seluruh imperium Roma pada masa itu. Tetapi kemudian setelah berkuasanya Kaisar Constantine the Great {306-337 M}  yang menganut agama Nasrani sekaligus pembangun ibu kota Konstatinopel itu mulai di umumkan bahwa Nasrani sebagai agama resmi di wilayah Romawi.
Berita kemenangan pasukan Islam di datarantinggi Syiria dan dataran tinggi Palestina terdengar pula di wilayah pesisir Levantine betapa keluwesan dan sikap toleran yang di perlihatkan pada wilayah kekuasaan Islam terlebih lagi jaminan kebebasan menjalankan keyakinannya sendiri serta jaminan hak milik dan nyawa dipandang sebagai rasa simpatik dan sangat menyentuh penduduk sekitar bandar-bandar wilayah Levantine,yang merupakan bandar yang makmur ketika itu. Dan hasilnya sangat cepat masyarakat yang berbondong-bondong dan memeluk agama Islam. Wilayah Levantine ini sangat penting dan strategis untuk menguasai dan menangkal serangan Romawi dari laut. Terhadap berbagai kota yang di duduki, pasukan Islam hanya mengajukan salah satu tuntutan dari tiga opsi yang ditawarkan. Pertama: memeluk Agama Islam dan kewajiban membayar zakat, kedua: menyatakan tunduk pada kekuasaan Islam dan dikenakan kewajiban jizyah yakni sejenis pajak yang jauh lebih ringan dari beban pajak yang di pungut oleh fihak Romawi, ketiga: adalah pilihan terakhir jika tuntutan itu tidak di penuhi, yaitu perang dan menanggung segala yang diakibatkannya.
Setelah menundukkan Levantine dan sekitarnya pasukan Islam bergerak ke Emesia atau yang di kenal dengan Homs, wilayah itu adalah merupakan wilayah yang terluas di Syiria dan merupakan titik pertahanan yang sangat penting agar tidak diserang oleh pasukan Romawi dari arah belakang. Pasukan Islam yang masih di pimpin oleh panglima besar Abu Ubaidah ibn Jarrah dan Khalid tersebut merebut Antiokia kota yang terbesar dan dan terpenting di Syiria. Kota ini juga adalah kota yang di bangun kaisar Konstantin the Great dan menjadi ibu kota Romawi Timur sebelum akhirnya di pindahkan ke Konstantinopel. Di kota ini terdapat benteng yang terkenal tangguh dan kukuh yaitu benteng Allepo. Penyerbuan kota ini juga sangat penting artinya bagi penguasaan Romawi Timur, sebab dengan jatuhnya benteng ini, maka runtuhlah kekuasaan Romawi Timur di wilayah Syiria.
Sejarah Antiokia sendiri tidak terlepas dari Alexander The Great {356-323 SM} dari Makedonia yang menaklukkannya dan mendudukinya, setelah itu dua setengah abad lamanya di kuasai oleh dinasti Seleucids {305-67 SM}. Dan sewaktu di rebut oleh panglima Pompey {100-44 SM], maka Antokia adalah tempat kedudukan penguasa-penguasa Romawi di belahan timur. Di kota itu pula umat kristen menganggap penting akan sejarah antiokia dikarenakan diutusnya Rasul Barnabas oleh kedua belas murid Yesus yang menjalankan misinya bersama Saul, tokoh yang beriman kepada Yesus dan konon tidak pernah bertemu dengan Yesus dan tokoh tersebut di panggil dengan Rasul Paulus. Kedua orang ini menjalankan misinya yang senantiasa menyatakan bahwa Yesus itu Christos, yang bermakna Almasih. Dari kota itulah masyarakat pengikutnya dipanggil dengan Christians {orang-orang kristen}, sedangkan di Palestina pada masa sebelumnya pengikut-pengikut Yesus itu oleh orang-orang Yahudi dipanggil dengan Nazarenes [pengikut-pengikut orang Nazareth/ Yesus}. Dan dari situlah awal mula panggilan nama Nasrani, yang terjadi pada abad pertama Masehi.
Selain penundukkan kerajaan Romawi di masa umar terjadi pula peperangan yang di dilakukan terhadap kerajaan Persi, hal ini disebabkan karena penyerangan balasan yang di lakukan Persi terhadap wilayah-wilayah yang telah di duduki kaum muslimin. Pasukan balasan ini dipimpin oleh panglima Rustam yang di kenal dengan hereditary of Khorasan {panglima warisan dari Khurasan} atau sebutan lain adalah Crown General {panglima bermahkota} berasal dari daerah khurasan {Iran}. Ia termasuk turunan raja-raja Sassanids generasi terakhir putera Ferrukhzad yang terus dilanda kemelut dan pertumpahan darah. Ia diperintahkan oleh Khosru Yezdegrid III untuk mengambil alih kerajaan Hira yang ketika di masa Abu Bakar di rebut oleh panglima Mutsanna ibn Haritsa Assyaibani.

Pembukaan Yerusalem

                Sejarah Yerusalem sendiri adalah tidak terlepas dari perebutan para imperium dan dinasti-dinasti Roma dan Persi yang silih berganti menguasainya. tempat bersejarah tiga agama yaitu kristen, Islam dan Yahudi. Jika kita melihat sejarah yang telah terjadi , di tempat itu terdapat kuil Sulaiman {Solomon’s Temple}yang dalam Alkitab {Holy Bible}disebut bait Allah pada dataran bukit zion yang di hancurkan oleh Nebuchadnezar{605-561 SM] dari Babilonia atas penaklukannya terhadap King Of Judea {933-586 SM} di tahun 586 SM. Bait Allah tersebut di bangun kembali pada masa Nabi Nehemia dan Nabi Ezra atas bantuan Cyrus the Great {550-530 SM] dari dinasti Archaemenids /imperium Persi {600-330 SM} setelah penaklukannya atas  Babilonia dan Palestina. Pada masa Maccabeus {168-63 SM} tahun 63 SM Yerusalem di taklukan oleh oleh herod the Great{37-4 SM} yang merupakan raja yahudi atas pengangkatan imperium Romawi, Bait ullah itu dimegahkan kembali. Namun pada tahun 70 Masehi, terjadilah pemberontakan yang di lakukan oleh bangsa Yahudi, dan ketika itu, panglima Titus {65-75 M}  berhasil merebut dan menduduki Yerusalem dan iapun menghancurkan dan mendatarkan bait Allah yang terkenal megah dan agung itu, sejak itulah bait Allah yang terletak di dataran bukit Zion menjadi lapangan terbuka sampai saat ini. Selanjutnya iapun mengusir bangsa Yahudi dari wilayah Palestina, dan terjadilah apa yang disebut Great Diaspora [menyebar tanpa tanah air} dalam sejarah bangsa Yahudi.Ketika Kaisar Constantine the Great {306-337 M} menguasai Yerusalem {kaisar pertama dari Romawi yang memeluk agama Nasrani}, maka di bangunlah sebuah gereja yang terpandang suci bagi umat kristen. Empat abad kemudian Khosru Parvis {589-628} dari Persia merebut Yerusalem dari tangan romawi dan menghancurkan gereja yang di bangun Constantine, kemudian berganti pada masa Heraklius {610-641 M} yang menguasai dan mengalahkan Persi hingga ke pinggirsungai Tigris, maka iapun membangun kembali gereja itu dengan yang lebih megah disampingmakam suci bagi umat kristen.
Pada dataran tinggi lapangan terbuka itu terdapat batu karang {the Rock} yang konon ketika kuil Sulaiman masih berdiri berada pada ruangan paling suci {Holy Of Holies}, disitulah Nabi Ya’kub pertama kali menerima wahyu, kemudian beberapa abad kemudian Nabi Muhammad saw mengerjakan shalat dua raka’at sewaktu berlangsungnya peristiwa isra dan mi’raj.
Perjalanan menuju pembebasan kota suci Yerusalem di Palestina tidaklah begitu mudah di capai. Panglima Amru bin Ash dan panglima Syarahbil bin Hasanah adalah dua panglima yang di tugaskan untuk membuka dan menguasai Yerusalem. Sebelumnya pasukan itu harus menaklukkan beberapa kota, yang ketika itu jumlahnya sangat kecil berjumlah 9000 orang karena pasukan itu telah di bagi-bagi dan sebagian untuk mempertahankan wilayah-wilayah yang telah di kuasai Islam. Tercatat pertempuran pecah di beberapa tempat: Afulla, Ain Harod, Jenin, Arruba dan Burqa. Pasukan Islam ketika itu harus berhadapan dengan pasukan yang di kirim oleh Heraklius, yaitu panglima Artavon yang merupakan putera dari Heraklius sendiri dan bertahan di Caesrea, Palestina. Pasukan itu berjumlah 70.000 orang.
                 Pasukan Islam di bantu oleh pasukan Yazid ibn Abi Sofyan yang telah berhasil merebut Haifadi pesisir lalu melintasi pegunungan karmil {Mount Carmel}, lalu bergabung di wilayah Galilia dan bergerak menuju Samaria lalu mengepung benteng Agnadine yang terkenal kukuh, terletak antara Ramla dan kota suci Yerusalem tahun 637 M dan berhasil menguasainya dengan susahpayah karena pada waktu itu juga bertepatan dengan musim dingin. Sebelum pengepungan dan penguasaan benteng tersebut, ada dua kota yang di pandang punya arti sejarah antara kristen dan yahudi serta Islam yaitu kota Nazareth yang merupakan kediaman nabi Isa sebelum menjalankan misinya, dan kota Hebron yang merupakan tempat kediaman nabi Ibrahim, Ishak dan Ya’kub.
Syiria utara yang sudah di kuasai oleh pasukan Islam di bawah komando Abu Ubaidah dan Khalid ibn Walid diperintahkan oleh Umar ra agar bergabung memperkuat pasukan Amru ibn Ash. Gabungan pasukan itu menyebabkan membuat pasukan Heraklius putus asa akhirnya menyingkir menuju konstantinople dan menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada para pembesar di Yerusalem. Akhirnya Uskup Agung Sophronius bersedia menyerahkan kota suci Yerusalem dengan syarat-syarat yang di ajukan. Pertama : adanya gencatan senjata, kedua: kota suci Yerusalem hanya akan di serahkan oleh penguasa tertinggi fihak Islam {dalam hal ini harus di lakukan oleh Umar sendiri}, ketiga: sisa pasukan Roma di izinkanberangkat dengan damai menuju Mesir.
Setelah fihak-fihak Islam berunding, maka akhirnya umar sendiri yang bersedia berangkat menuju Yerusalem. Awalnya di kalangan Shahabi berkeberatan tentang keharusan amirul mu’minin untuk berangkat bagi penyerahan kota suci tersebut, pertama di khawatirkan timbul akibat-akibat yang tak terduga, kedua khawatir khalif Umar memindahan ibukota Madinah ke kota Yerusalem. Namun sahabat Ali ibn Abi Thalib mendukung pendapat Umar setelah Umar menjelaskan tidak akan memindahkan ibu kota Madinah ke Yerusalem. Umarpun bertolak ke Yerusalem hanya dengan mawlanya yang sudah di merdekakan setelah menolak iringan dari beberapa Shahabat, dengan hanya membawa seekor unta merah, sekantung gandum, sekantung kurma, sebuah piring kayu dan sekantong air dan wadah kulit serta sebuah tikar sembahyang. 
 Betapa sejarah mencatat dengan amat mengesankan begitu sederhananya seorang pemimpin yang tertinggi dari sebuah pemerintahan yang sangat luas menguasai sebagian besar wilayah Romawi dan Persi dimana dua kerajaan tersebut telah memiliki peradaban dan pengalaman yang sangat lama. Namun Umar menyaksikan para panglimanya yang notabene menjadi bawahannya memakai pakaian yang mewah dan kuda-kuda yang bagus serta beragam sutera. Ia lalu menggenggam pasir dan melemparkannya kepada petinggi-petinggi pasukan Islam tersebut tersebab perubahan sikap hidup mereka. Abu Ubaidahpun menjelaskan tentang gengsi pasukan Islam guna mengimbangi martabat di kalangan bangsa-bangsa Romawi.
Setelah penyerahan secara damai dan aman itu lalu Umar mengunjungidataran bukit Zion dan pada batu karang yang dianggap suci itu Umar membangun masjid di sebelah gereja yang di sucikan umat kristiani dan sampai saat ini di kenal dengan masjid Umar yang kemudian hari di sempurnakan dengan megah bangunannya oleh Khalif Abdul Malik {65 H-86 H/685-705 M} dari daulah Umayyah yang di kenal dengan bangunan cembung {Dome Of Rock}.
Sekembalinya Umar dari Yerusalem, tahun 368 Masehi, pasukan Roma kembali melancaran serangan dari arah laut menuju pelabuhan Tripoli dan Tyrus yang terdiri dari 40 buah kapal berasal dari semenanjung Grik, namun kapal-kapal itu dapat dikuasai fihak Muslim di bawah komando Muawiyyah ibn Abi Sufyan. Dari Asia kecil, Heraklius menggerakan pasukannya dengan tujuan mengambil kembali wilayah Syiria dan Palestina dan perlawanan itu dapat di patahkan oleh Khalid ibn Walid yang ketika itu masih berkedudukan di Homs. Bahkan agresi yang dilancarkan fihak Roma tersebut menyebabkan fihak Roma lebih banyak lagi kehilangan wilayahnya di Asia Kecil, seperti wilayah Kilikia dan bandar Tarsus, Cappadocia dan berbagai benteng yaitu Harran, Eddesa dan Amida {Diar-Bekr}.
Penaklukkan Mesir
                Pada tahun 18 H/639 M pasukan Islam yang hanya berkekuatan 3000 orang di bawah pimpinan Panglima Amru Ibn Ash maju ke wilayah Mesir dan di penghujung tahun 21 H/641 M kekuasaan Roma terusir seluruhnya, pada tahun itulah Kaisar Heraklius meninggal dengan duka cita yang mendalam karena hanya menikmati kemenangan sesaat setelah penaklukannya dengan susah payah atas imperium Persi.
                Mengapa pasukan Islam begitu mudah menaklukkan Mesir? Pertanyaan yang mungkin di jawab dalam hal ini adalah: secara histori bangsa-bangsa kopti atau penduduk asli Mesir adalah bangsa yang tertindas oleh imperium-imperium yang menguasainya, baik itu bangsa Roma ataupun Persi. Banyaknya penindasan dan pemaksaan serta pungutan pajak yang terlalu tinggi, menyebabkan resist {penolakan} dan tidak bersimpati  terhadap mereka. ketika Islam datang, apa yang di sebut dengan kebebasan rohani dan sikap toleransi Islam di Syiria dan Palestina yang tidak di kenal dari bangsa-bangsa sebelumnya merupakan hal yang di nanti-nantikan dan di dambakan oleh bangsa kopti tersebut. Terbukti secara diam-diam jema’at-jema’at dari dari aliran Jacobite [aliran yang di kembangkan oleh uskup Jacob Baraday wafat thn 578 M, yang meyakini satu zat/Monophysite, ajarannya meyakini bahwa yesus itu hanya mempunyai satu zat, yaitu zat ilahiyat] mengundang panglima Amru bin Ash untuk datang ke tanah Mesir. Bahkan pada masa-masa sebelumnya, ketika Nabi saw masih hidup pernah mengirimkan utusan pada tahun 6 h/628 M di bawah pimpinan Hatib bin Abi balta yang di sambut dengan baik oleh raja Mukaukis yang walaupun ia tidak masuk Islam akan tetapi ia mengirimkan dua sahaya yang jelita Maria Al qibthiyyah dan Sirin Al qibthiyyah.
Penduduk pribumi amat merindukan kebinasaan kaum penganiaya tersebut mereka itu tidak tanggung-tanggung dalam kesungguhannya memberikan bantuan kepada Panglima Amru bin Ash, baik materil maupun kemiliteran seperti membantu dalam penyebrangan-penyebrangan pada cabang- anak sungai nil dan membantu bersama –samapasukan Islam untuk menumbangkan imperium Romawi.
Penderitaan-penderitaan yang dialami oleh jema’at-jema’at kopti {copitc Chuch} ketika di kuasai oleh imperium Roma yang menganut paham paganism [kepercayaan terhadap dewa-dewa] seperti Caligula, Claudius, Nero, Titus, Domitianus, Trajanus, Hadrianus, sampai Deolectianus yang menganggap dirinya adalah titisan dewata [son of God] dan melakukan pembasmian terhadap bangsa kopti yang tidak mau mengakui bahwa dirinya adalah titisan dewata sampai pada kaisar Constantinethe Great[306-337 M] yang memeluk agama Nasrani sama bengis dan kejamnya. Bahkan sampai ajaran uskup agung Patriarch Arius [335 M] di ibu kota Konstaninopel yang ajarannya berasal dari Paul Samosata [Antiokia]  satu-satunya ajaran yang meyakini bahwa Isa Al masih itu merupakan manusia biasa  dan bunda Maria tidak layak di panggil sebagai Tuhan [mother of God] dan kelompok ini dipanggil denganearly Christians[kristen yang mula-mula] merupakan kelompok kecil dalam lingkungan orang-orang Yahudi  palestina itu akhirnya musnah seiring dengan pembasmian orang-orang Yahudi di palestina.Kaisar Costantine sendiri pada akhirnya  mengakui ajaran Arius ini, namun ketika kaisar Julianus naik tahta[361-363 M] ia menghidupkan kembali ajaran Paganism dan melakukan tekanan dan penindasan  pada agama nasrani dan Yahudi di Mesir. Setelah dikuasai oleh Theodosius[379-395 M] ia menganut ajaran kristen dan mengumumkan ajaran kristen pada masa pemerintahannya  sampai pada masa Kaisar Justianus [518-527 M] melakukan pembantaian besar-besaran dan pengejaran serta merampas hak milik bangsa kopti yang berkelanjutan. Pada saat tanah Egypt [Mesir] di rebut oleh Persi yang di pimpin oleh panglima Shaharbraz tahun 616 M, bangsa kopti berdiri dibelakang Persi dan memberikan bantuannya, maka dikukuhkanlah kedudukan Mukaukis sebagai penguasa setempat. Namun hal itu tidak berlangsung lama, Kaisar Heraklius [610-641 M], merebutnya kembali dan melakukan pengejaran terhadap pengikut jacobite itu. Hal inilah yang menyebabkan secara diam-diam bangsa kopti meminta bantuan kepada fihak Islam [Amru ibn Ash] di Yerusalem.
               
                               
PENUTUP 

                Masa umar adalah masa penaklukkan dua kerajaan besar sekaligus dalam waktu yang hampir bersamaan yaitu keajaan Rommawi Timur dan kerajaan Persi
               
                               
               
                Masa pemerintahan Umar berlangsung selama 10 tahun 6 bulan13 H/634 M – 23 H/ 644 M yang wafat karena dibunuh oleh Firuz, dengan menggunakan pisau yang telah di bubuhi racun, yang di kenal dengan Abu Lu’lu seorang hamba tawanan di Nawahind dan di merdekakan oleh Mughirah bin Syu’bah sebab itu ia dipanggil dengan mawla Mughirah bin Syu’ba dan tragedi itu merupakan pembunuhan politik pertama dalam Islam. Keterangan atas sebab-sebab pembunuhan itu belum begitu jelas terangkat dalam literatur sejarah Islam, ada yang mengatakan bahwa Abu Lu’lu itu terganggu jiwanya/ miring otaknya, hal ini di bantah dengan bukti bahwa ia mempersiapkan segala sesuatunya berupa pisau yang bermata tajam depan dan belakang dan membubuhinya dengan racun serta waktu yang ia persiapkan begitu tepat yaitu ketika semua orang melakukan shalat berjama’ah. Keterangan lain, menyatakan bahwa ia tidak setuju dengan upah yang di berikan tuannya yaitu Mughirah ibn Syu’bah lantas ia mengadukannya kepada khalif Umar ibn Khattab dan umar tidak memenuhi tuntutannya,yang setelah di selidiki ternyata pengaduannya itu tidak benar, maka ini tidak masuk akal karena penolakan pengaduan tersebut di anggap terlalu kecil dalam upayanya membunuh pemimpin tertinggi di dunia Islam masa itu, apalagi Abu Lu’lu dikenal dengan tukang pandai yang mahir yang jelas ia akan mempertimbangkan sesuatu yang teliti di setiap kerjanya. Keterangan lainnya  mengatakan bahwa ia adalah seorang Zimmi, yaitu seseorang yang belum Islam tetapi mengakui kekuasaan Islam, kenyataanya bahwa ia adalah sahaya dari Mughirah yang dapat mewarisi secara timbal balik jika tuannya itu tidak mempunyai keturunan. Keterangan lain bahwa ada komplotan rahasia dalam pembunuhan Umar yang didalangi oleh bekas tawanan Persia seperti Homuzan dan Jafina, ternyata di kalangan shahabi ketika itu diterima dengan baik dan tidak reaksi apapun dari penduduk Madinah dan seterusnya para bekas tawanan Persia menjadi muslim yang baik.
                Hal yang mendekati kebenaran dan logis adalah perasaan syu’ubiyat/ cauvinic nationalism yang terlampau mengakar di hati sanubari Abu Lu’lu. Nama Firuz bukanlah orang dari kalangan bawah akan tetapi merupakan petinggi dan kalangan elitbangsa Persi sendiri yang menganggap bangsanya adalah bangsa yang mempunyai sejarah dan peradaban yang tinggi dan ketika ia melihat kenyataanya di tundukkan oleh bangsa yang baru dan belum memiliki peradaban seperti Persi ataupun Romawi sampai ketika ia menyaksikan kemudian bangsa Arab penguasai sepenuhnya imperium Persi hal itu sangat menyayat-nyayat hatinya, walaupun ia sudah menjadi seorang muslim hal itu belum berurat dan berakar dalam jiwanya.
Pada masa pemerintahannya itulah ia menyelenggarakan shalat tarawih berjama’ah, membentuk al Dawawin, yaitu lembaga berbagai departemen. Satu departemen mempunyai diwan sendiri yang di pimpin oleh seorang al katib {sekretaris yang bertugas mengurus surat-menyurat. Baitul Mal mempunyai pejabat sendiri yang disebut  Al hajib yaitu pejabat perbendaharaan. Umar menggariskan pula pendapatan tetap {arrawatib} bagi para pejabat, di samping itu juga ada tunjangan {al ‘ithak} dan membuat Anggaran penerimaan dan anggaran pengeluaran {budget}. Umar juga mengatur cara pengeluaran dari peneriman al jizyah dan alkharaj. Begitupun terhadap dirinya sendiri dengan pengaturan yang begitu ketat sesuai dengan sikap hidupnya yang sederhana sehingga sering ia melakukan pinjaman dari Baitul Mal yang nanti dipotong dari pendapatan tetapnya.
               
               
   Sumber pustaka:
-          Alqur’anul Karim dan terjemahannya, Depag RI, Syamil Cipta Media, Jakarta.
-          Dr. Yusuf Qardhawi, sistim masyarakat Islam dalam Alqur’an dan Sunnah, Citra Islami Press, Solo.
-          Josoef Sou’yb, Daulat Khulafaur Rosyidin.Bulan Bintang, Jakarta.
-          KH. Qamaruddin  Saleh, HAA Dahlan, Prof. Dr. M.D Dahlan, Asbabun Nuzul, C.V Diponegoro, Bandung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar