Selasa, 05 Februari 2013

KH Muhammad Cholil Bisri





KH Muhammad Cholil Bisri (1942-2004)
 
Meninggal dalam Suasana Damai
 
Kiai Haji Cholil Bisri (62), Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, meninggal dunia dalam usia 62 tahun Senin 23 Agustus 2004 pukul 20.40 di rumahnya di Kampung Leteh, Kota Rembang, Jawa Tengah. Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, itu meninggalkan, seorang istri Hj Muhsinah, delapan anak, dan sejumlah cucu. Dimakamkan Selasa siang di Pemakaman Keluarga Bisri Mustofa di Kota Rembang.
Wakil Ketua Dewan Syuro DPP PKB itu meninggal dalam suasana tenang, damai, bagai seorang yang tengah tidur nyenyak. Dia meninggal akibat sakit kanker hati yang diderita sejak lama. Kakak kandung KH Mustofa Bisri, sejak Mei dirawat di Rumah Sakit Umum Karyadi, Semarang. Kemudian dirawat di Rumah Sakit MMC, Jakarta, tetapi kondisinya tidak bertambah baik dan malahan minta dirawat di rumah saja.
Jumat pagi sekitar pukul 10.15, dia tiba di Stadion Krida (Rembang) dengan pesawat helikopter, lalu dengan mobil ambulans diangkut ke rumah pribadinya.
Saat detik-detik mengembuskan napas terakhir, Cholil Bisri selain didampingi Dr Sugeng Ibrahim, juga didampingi kedua anaknya, Gus Tutut dan Gus Ipul, yang masing-masing didampingi istri.
Kyai yang Membidani Kelahiran PKB
Sesungguhnya KH Cholil Bisri lebih patut disebut sebagai deklarator PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) ketimbang Gus Dur. Sebab dialah yang memimpin sebuah tim membidani pendirian partai sebagai wadah aspirasi politik warga Nahdlatul Ulama (NU) atas desakan para kyai. Sementara Gus Dur selaku Ketua Umum NU ketika itu malah menolak pendirian partai. Maka pada mulanya, ada 72 deklarator PKB, tidak termasuk Gus Dur. Namun ketika deklarasi pendirian PKB itu disampaikan kepada PB NU, nama-nama deklarator itu pun dicoret dan berobah menjadi hanya lima orang.
Sebenarnya dari sejarah PKB, yang harus muncul sebagai deklarator adalah Kyai Iliyas Ruhyat. Tapi, menurut KH Cholil Bisri, Kyai Iliyas Ruhyat orangnya lugu, tak mau tampil-tampil seperti itu. Itulah sebabnya ia mengatakan, sejarah perlu diluruskan. Yang benar sebagai penggagas pertama terbentuknya PKB adalah para kyai, pada tanggal 11 Mei 1998 bersamaan dengan rapat meminta Soeharto lengser. Gagasan pertama dimulai di Rembang bukan di PB NU atau Ciganjur.
Sehubungan dengan itu, ditegaskan adalah salah jika ada orang mengatakan bahwa yang mendirikan PKB adalah Gus Dur. Bukan! Gus Dur malah pada mulanya menolak pendirian PKB. Ketika itu, KH Cholil Bisri mengajukan rapat atas adanya desakan para kyai agar NU membentuk partai, PBNU malah mengeluarkan surat resmi bahwa NU tidak perlu membuat partai. Pada saat itu Ketua Umum PBNU adalah Gus Dur.
Kisah pendirian PKB dimulai pada 11 Mei 1998. Ketika para kyai sesepuh di Langitan mengadakan pertemuan. Mereka membicarakan situasi terakhir yang menuntut perlu diadakan perubahan untuk menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran. Saat itu para kyai membuat surat resmi kepada Pak Harto yang isinya meminta agar beliau turun atau lengser dari jabatan presiden. Pertemuan itu mengutus Kyai Mu’hid Mujadid dari Jember dan Gus Yusuf Muhammad menghadap Pak Harto untuk menyampaikan surat itu. Mereka berangkat ke Jakarta, meminta waktu tetapi belum dapat jadwal. Sehingga sebelum surat itu diterima, Pak Harto sudah mengundurkan diri terlebih dahulu, tanggal 23 Mei 1998.
Setelah itu, pada tanggal 30 Mei 1998, diadakan istiqosah akbar di Jawa Timur. Lalu semua kyai berkumpul di kantor PBNU Jatim. Para kyai itu mendesak KH Cholil Bisri supaya menggagas dan membidani pendirian partai bagi wadah aspirasi politik NU. “Tapi saya mengatakan, jangan saya,” kata KH Cholil Bisri. Sebab ia merasa sudah capek jadi orang politik. Ia merasa lebih baik di pesantren saja. Tetapi para kyai terus mendorongnya karena dinilai lebih berpengalaman dalam hal politik. Ketika itu Gus Dur belum ikut. Makanya ia terus dipaksa.
Kemudian, tanggal 6 Juni 1998, ia mengundang 20 kyai untuk membicarakan hal tersebut. Undangan hanya lewat telepon. Tetapi pada hari H-nya yang datang lebih 200 kyai. Sehingga rumahnya sebagai tempat pertemuan penuh. Dalam pertemuan itu terbentuklah sebuah panitia yang disebut dengan Tim “Lajenah” karena terdiri dari 11 orang. Ia sendiri menjadi ketua. Sekretarisnya Gus Yus. Panitia ini bekerja secara maraton untuk menyusun platform dan komponen-komponen partai. Selain itu terbentuk juga Tim Asistensi Lajenah terdiri dari 14 orang yang diketuai oleh Matori Abdul Djalil dan sekretarisnya Asnan Mulatif.
Pada tanggal 18 Juni 1998, panitia mengadakan pertemuan dengan PBNU. Dilanjutkan audiensi dengan tokoh-tokoh politik (NU) yang ada di Golkar, PDI dan PPP. Panitia menawarkan untuk bergabung, tanpa paksaan. PBNU sendiri menolak pendirian partai. Setelah itu, pada tanggal 4 Juli 1998, Tim ‘Lajenah’ beserta Tim dari NU mengadakan semacam konfrensi besar di Bandung dengan mengundang seluruh PW NU se-Indonesia. 27 perwakilan datang semua.
Hari itu diputuskan nama partai. Usulan nama adalah Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Kebangitan Ummat dan Partai Nahdlatul Ummat. Akhirnya hasil musyawarah memilih nama PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Lalu ditentukan siapa-siapa yang menjadi deklarator partai. Disepakati 72 deklarator, sesuai dengan usia NU ketika itu. Jumlah itu terdiri dari Tim Lajenah (11), Tim Asistensi Lajenah (14), Tim NU (5), Tim Asistensi NU (7), Perwakilan Wilayah (27 x 2), Ketua–ketua Event Organisasi NU, tokoh-tokoh Pesantren dan tokoh-tokoh masyarakat. Semua deklarator membubuhkan tandatangan dilengkapi naskah deklarasi. Lalu diserahkan ke PBNU untuk mencari “kapten” partai ini.
Ketika masuk ke PBNU, dinyatakan bahwa yang menjadi deklaratornya 5 orang saja, bukan 72 orang. Kelima orang itu yakni Kyai Munasir Allahilham, Kyai Eliyas Ruhyat, Kyai Muhid Mujadid dan Mustofa Bisri dan ditambah Abddurahman Wahid sebagai ketua PBNU. Nama 72 deklarator dari Tim Lajenah itu dicoreti semua oleh PBNU. “Ya terima saja. Sebab saya berpikir untuk dapat berjuang bukanlah harus ada di dalam struktur,” ujar KH Cholil Bisri, ketika Wartawan Tokoh Indonesia mengonfirmasi hal ini dalam percakapan dengannya di ruang kerjanya di Gedung MPR-RI (22/10/02).
Setelah itu, semua terus berjalan hingga muktamar pertama. Banyak orang menghendaki Gus Dur. “Iya sudahlah, saya jadi orang kedua saja,” kata KH Cholil Bisri pasrah. Dalam Pemilu 1999, PKB berhasil meraih posisi ketiga dalam perolehan suara, setelah PDIP dan Golkar. Tapi menjadi posisi keempat dalam perolehan kursi, setelah PDIP, Golkar dan PPP. Namun demikian, PKB berhasil mengantarkan KH Abdurrahman Wahid menjadi presiden pada Sidang Umum MPR 1999.
Dalam Mukernas PKB yang pertama, sebenarnya telah diputuskan bahwa PKB akan mendukung siapa saja pemenang Pemilu untuk menjadi Presiden, tanpa menyebutkan nama dan jender. Sementara pada waktu itu juga sedang bergulir berbagai pendapat tentang presiden wanita. Tetapi, PKB akan mendukung pemenang Pemilu menjadi presiden, siapa pun orangnya, apakah wanita ataupun pria. Sementara, di lain pihak, para kyai berkeinginan agar PKB mencalonkan presiden yang berasal dari PKB bukan dari partai lain.
Setelah itu KH Cholil Bisri, Gus Yus dan Muhaimin Iskandar menemui Mbak Mega. Mereka menyampaikan apa yang menjadi keputusan Mukernas PKB, serta keinginan para kyai untuk mencalonkan orang PKB menjadi pesiden. Jadi mereka mohon ‘ijin’ untuk tidak mencalonkan presiden dari PDI-P tetapi Gus Dur. Lalu Mbak Mega mengatakan, “Nggak apa-apa. Memang seharusnya PKB mencalonkan Gus Dur. Kalau PKB punya calon, calonkan saja pilihannya jangan orang lain.”
Setelah itu mereka melapor kepada para kyai. Putusan akhirnya, PKB mencalonkan Gus Dur. Gus Dur pun menang dalam pemilihan Presiden RI. Setelah Gus Dur terpilih jadi presiden, mereka bertemu lagi dengan Mbak Mega. Mereka menyatakan PKB siap mendukung Mbak Mega untuk maju sebagai calon Wakil Presiden. Dan demi memudahkan jalannya Megawati, mereka juga mengadakan pendekatan dengan para calon dan partai lain. Tetapi Hamzah Haz tetap bertahan. Sebab banyak pendukungnya mengatakan Hamzah Haz harus tetap maju, karena ini amanah ummat. Namun akhirnya Megawati terpilih menjadi Wakil Presiden.
Semenjak itu, praktis ia tidak pernah lagi ketemu dengan Gus Dur atau Ibu Megawati. Hanya sekali ia ke istana bersama 15 kyai untuk bertemu dengan Gus Dur. Ketika itu, para kyai menyampaikan nasehat kepada Gus Dur. Tetapi Gus Dur tetap dalam pendiriannya. Para kyai itu pun tak mau ngotot.
Mengenai jabatannya sebagai Wakil Ketua MPR dari PKB menggantikan Matori Abdul Djalil, ia mengatakan bahwa sejak semula kawan-kawan sudah memintanya berada dalam pimpinan MPR atau DPR. Tetapi ia sendiri yang tak mau. Sebab ia masih berpikir ke pesantren yang mulai berkembang. Maka, ia juga yang mengusulkan pertama kali untuk memajukan Matori sebagai calon ketua MPR, yang akhirnya menjadi wakil ketua.
Karena perhatiannya yang lebih banyak ke pesantren, ia sebagai anggota DPR/MPR jarang sekali mengikuti sidang. Sehingga ia sempat berpikir untuk mundur saja. Bahkan ia sudah bikin surat pengunduran diri dengan materai. Tapi teman-temannya malah merobek-robek surat itu.
Malah ia diajukan menjadi Wakil Ketua MPR mewakili PKB. Karena selama delapan bulan perwakilan PKB dalam pimpinan MPR kosong. Semenjak Matori diangkat menjadi Menteri Pertahanan. Setelah sebelumnya Matori dipecat dari jabatan Ketua Umum PKB karena menghadiri SI-MPR yang memberhentikan Gus Dur dari jabatan presiden. Lalu PKB pecah dua. PKB pimpinan Matori dan PKB pimpinan Alwi Sihab.
Matori menginginkan dari pihaknya yang harus mengisi pimpinan MPR itu. Di lain pihak, PKB Alwi-Gus Dur menginginkan yang lain. Dalam pertikaian seperti itu, KH Cholil Bisri didorong untuk bersedia mengisi kekosongan itu dari kubu PKB Alwi Sihab. “Waktu itu, Matori sempat tetap ngotot. Tapi ketika ia tahu saya yang dicalonkan, dia jadi tidak berani. Karena yang menggiring Matori selama ini dari Jawa Tengah ya saya,” kata KH Cholil Bisri. Menurutnya, diberhentikannya Matori dari Ketua Umum PKB adalah tidak terlepas dari pihak ketiga yang memprovokasi agar PKB terganggu.
Belajar dari berbagai pengalaman hidup, ia melihat bahwa ada tiga orang yang patut dikasihani dalam dunia. Pertama, orang kaya yang jatuh melarat. Kedua, orang yang terhormat yang jatuh hina. Dan, ketiga, orang yang pintar yang dipermainkan oleh orang-orang bodoh.
Sementara pandangannya tentang demokrasi, ia melihat masih perlu didefinisikan di Indonesia. Demokrasi itu bukan berarti kebebasan tanpa batas. Bahkan di sebuah negara seperti Amerika saja tidak selamanya murni, masih bercampur dengan otoriter. Sementara dalam Al-quran atau Hadis tidak ada tertulis kata demokrasi. Yang ada adalah kesetaraan berbicara atau sering disebut sebagai musyawarah. Jadi sebenarnya inti demokrasi adalah musyawarah.
Mengenai reformasi, menurutnya, agar reformasi terus berjalan, setiap orang harus mau melangkah bersama. Jangan membawa dan menempatkan kepentingan pribadi atau kelompok di atas segalanya. Nanti akan menjadi sirik dan Tuhan pasti akan menghukum bangsa ini. Ia mengimbau agar setiap orang mawas diri dan selalu melihat apa yang telah diperbuat untuk bangsa dan negeri ini, di mana ia makan dan hidup.
Dalam menjalani hidup ini, salah satu cara pandang yang ia pegang adalah ‘jika orang lain bisa, mengapa saya tidak bisa’. Hal inilah yang selalu mendorongnya selalu berusaha melakukan yang terbaik. Namun, ia juga percaya kepada takdir. “Kalau itu adalah bagian kamu, pasti kamu akan memperolehnya, tetapi kalau itu bukan milikmu, biar dikerjakan juga pasti sia-sia.”
Cara berpikir lelaki kelahiran Rembang 12 Agustus 1942, ini sangat banyak dipengaruhi oleh didikan orangtua, terutama ayahnya. Ayahnya seorang yang sangat berdisiplin kepada anak-anaknya. Ayahnya sering berpesan agar tidak pernah berhenti belajar dan jangan pernah berhenti mengaji. Ayahnya juga selalu mengajarkan agar selalu mengahormati ‘orang kecil’. Ia juga selalu diingatkan bahwa manusia ditempatkan di dunia ini untuk berbuat, dan insyaallah akan menuainya di surga.
Ayahnya seorang pendiri pesantren yang terkenal sesudah Kyai Cholil Bangkalan, Kyai Tremas dan Kyai Hasyim Asy’ari Tebuireng. Pada saat itu Kyai Cholil dibantu oleh dua kyai yaitu Kyai Mas’ud dan Kyai Mastur, mbahnya. Ketika mbahnya wafat, mereka pindah ke desa Leteh, masih di sekitar Rembang juga. Sampai sekarang ia masih tinggal di situ.
Ia tamat Sekolah Rakyat 6 Kartioso, hanya 5 tahun. Sebab ia langsung diterima di kelas dua, karena ia tidak mau satu kelas dengan adiknya (Mustofa), yang pada saat bersamaan masuk kelas satu.
Ketika itu terjadi peristiwa PKI di Madiun 1948. Ayahnya termasuk orang yang diburu oleh PKI saat itu. Sehingga mereka harus mengungsi ke arah timur, tepatnya ke Pare, sekitar Kediri. Pada masa pegungsian itu, ayahnya punya usaha kecil, membuat kertas daur ulang. Dari kertas bekas koran diolah menjadi bubur, dibentuk dan dijemur menjadi kertas. Kemudian dipotong untuk dibuat kertas buku-buku catatan kecil (notes). Lalu dijual. Cholil Bisri sendiri sering ikut menjualnya. Di sini jiwa wirausahanya mulai terbangun.
Setahun setelah itu, ketika keamanan sudah pulih, mereka kembali lagi ke Rembang. Tahun 1950 ia melanjutkan sekolah SR dan tamat tahun 1954. Tahun 1956 ia diminta ayahnya pergi ke Krapyak, Yokyakarta, tinggal di Pesantren Ali Mas’shum. Selama satu tahun tinggal di Krapyak, ia merasakan betapa demokratisnya Kyai Ali Mas’shum. Ia pun merasa cukup dimanjakan oleh Kyai Ali. Kemudian, ia kembali ke Rembang, bertepatan kedatangan Kyai Mahrus yang masih satu generasi dengan ayahnya. Teman ngaji ayahnya ketika masih kecil. Kyai Ma’rus berbicara dengan ayahnya dan meminta agar ia ikut bersamanya ke Kediri. Akhirnya 1957 ia berangkat ke Kediri. Tapi hanya satu tahun. Kemudian ia kembali lagi dibawa oleh Kyai Ali ke Krapyak.
Sekembalinya ke Krapyak, Kyai Ali memperlakukannya sangat disiplin. Ia tidak lagi dimanjakan seperti pertama kali. Setiap membuat kesalahan, ia diberi ganjaran. Salah satu ganjarannya, disuruh untuk menulis kitab tertentu 2 kuras berserta dengan artinya. Terkadang ia sampai dirantai agar tidak boleh keluar berkeliaran.
Ketika usianya mencapai 19 tahun (tahun 1961), ia mengutarakan kepada ayahnya keinginan tinggal di Makkah. Ayahnya mengabulkan lalu menitipkannya kepada 3 orang kyai dari Lasem untuk berangkat ke Makkah. Selama 2 tahun ia tinggal di Makkah . Namun kemudian ia disuruh kembali ke tanah air, karena jika terlalu lama hormat terhadap Ka’bah itu kurang. Tiga-empat hari setibanya di tanah air, ia bertemu dengan Kyai Ali. Ia ditanya apakah sudah mau kawin atau belum? Ia ketawa lalu menjawab, belum.
Sekitar 1963 ia kembali lagi ke Krapyak. Di sana dibuka sekolah persiapan IAIN, setingkat Ahliyah. Setelah mengikuti ujian, ia lulus dan diterima masuk IAIN itu. Lokasi sekolah ini berada di Demangan, jaraknya ± 8 kilometer dari Krapyak. Krapyak wilayah paling selatan sedangkan Demangan di wilayah paling utara Yokyakarta. Pada waktu itu satu-satunya transportasi yang memadai hanya sepeda. Sehingga hampir setiap hari ia harus mengayuh sepeda 8 km. Akibatnya setelah 3 bulan ia harus mengganti celana, karena sudah robek.
Pada tiga bulan pertama, ia merasa tidak kuat jika begitu terus. Lalu ia pun meminta kepada Kyai Ali untuk mencarikan sebuah kost di sekitar kampus. Tetapi Kyai Ali malah menjawab: “Ora!, Ora ridho aku!” Maka ia terpaksa menurut saja. Tetapi kemudian ia punya ide lain. Ia berbicara dengan ayahnya agar sepedanya dipasangkan mesin (mobilet). Ayahnya mengabulkan. Tetapi masalah belum berakhir, mesin motor itu perlu bensin. Sementara uang bensin sering ia pakai untuk membeli rokok. Akhirnya ia terkadang mengayuh sepeda lagi. Dengan memiliki mobilet, ia bergaya dan mulai mengenal perempuan. Tidak heran karena memang mobilet pada waktu itu cukup bergengsi. Pada waktu itu orang yang punya mobilet sangat jarang, mungkin di sekolahnya cuma dia.
Tetapi perubahan terjadi. Ia tidak begitu lama di IAIN. Selain karena jaraknya yang begitu jauh, juga keahliannya dalam bahasa Arab sangat dibutuhkan oleh pesantren. Bisa membantu Kyai Ali mengajar bahasa Arab. Sehingga hanya dalam satu semester lebih dua bulan, ia terpaksa mengundurkan diri dari IAIN dan lebih berfokus kepada kegiatan pendidikan pesantren.
Kemudian sekitar tahun 1963, ia juga banyak berjuang di dalam gerakan-gerakan organisasi kepemudaan Islam. Termasuk di antaranya, sebagai salah satu pendiri PMII (Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia) di IAIN Yokya. Selain itu, ia juga sangat senang dalam banyak kegiatan yang berhubungan dengan olahraga dan seni. Ia suka bermain badminton. Suka juga menulis puisi. Sejak kecil ia paling suka menulis dan merenung.
Beberapa karya tulisnya ketika itu antara lain: “Kami bukan Kuda Tunggang” dan “Ketika Biru Langit”. Sebagian besar karya tulisnya bertemakan keadaan sosial dan politik kontemporer. Dimana sering kali rakyat dimafaatkan oleh penguasa.
Kesukaan terhadap seni itu juga yang mempertemukannya dengan isterinya. Kejadiannya terjadi ketika ia mengikuti perlombaan karya seni dan puisi yang diselenggarakan oleh IPNU. Kebetulan ia menjadi juara pertama. Saat menerima piala, ia melihat seorang gadis yang amat menawan hatinya. Gadis itu bernama Muchsinah, puteri Kyai Sa’muri. Dalam hati ia berkata, “Saya mau ia menjadi isteriku.” Lalu, keinginan itu diutarakan kepada ayahnya.
Waktu terus berjalan, hingga tanggal 17 Oktober 1964. Saat itu ia sedang mengajar di pesantren. Tiba-tiba ayahnya mengajak ke rumah Kyai Sa’muri, untuk melamar gadis idamannya itu. Dua hari setelah itu, tepatnya tanggal 19 Oktober 1964, mereka menikah. Sedangkan resepsinya diadakan tanggal 25 Juli 1965.
Setelah menikah, ia memutuskan untuk berhenti dari kegiatan mengajar di pesantren dan sekolah lain. Ia menyerahkan semuanya kepada Kyai Ali dengan alasan karena sudah menikah, ia mau kembali ke kampung. Setelah kembali ke Rembang, kegiatannya masih sangat banyak di lingkungan pemuda. Baik itu olahraga maupun musik dan teater. Ia memimpin sebuah band, walaupun orang banyak berpikir, anak kyai koq seperti itu. Tapi ia tidak banyak ambil pusing. Ayahnya sendiri tidak pernah mempersoalkan.
Keadaan setelah G30/S/PKI, sangat ramai gerakan pemberantasan anggota PKI. Saat itu ia aktif sebagai Ketua Anshor. Sementara isterinya saat itu sedang hamil. Jadi entah suara nurani atau apa, ia melarang kawan-kawannya menganiaya orang-orang PKI. Ia sendiri tidak mau melakukannya. Sebab orang-orang tua mengatakan: “Sing ati-ati loh, bojomu meteng, itu harus kamu inget”. Nuraninya juga tidak merasa tega. Karena mereka juga adalah kawan-kawan bermainnya.
“Saya ini seorang olahragawan, sedangkan olahragawan berkawan dengan siapa saja. Jadi saya tidak mau menggangu mereka. Memang mereka berbeda dalam ideologi, tetapi mereka juga adalah tetangga saya, bahkan tetangga dekat yang hanya dipisahkan oleh sekat dinding,” katanya mengingat suasana ketika itu. Ia memang bertetangga dengan ketua PKI cabang Rembang yang isterinya juga ketua Gerwani.
GP Anshor waktu itu ikut membantu RPKAD memberantas PKI. Tetapi ia meminta kepada komandan pasukan untuk tidak menganiaya mereka. Kalaupun mereka salah, lebih baik mereka dihukuman sesuai dengan hukum yang berlaku. Tetangganya yang ketua PKI itu akhirnya tertangkap. Rumah dan segala kepemilikannnya disita oleh ABRI. Sehingga waktu itu pesantren punya tetangga baru, yaitu ABRI.
Pada tahun 1967 anaknya lahir, sehingga kebutuhan keluarga bertambah. Untuk mengatasi kebutuhan itu, ia membuat usaha kecil-kecilan. Ketika itu ia berpikir, tak masalah mengerjakan apa saja, yang penting ada kerjaan. Ia pun meminjam modal dari ayahnya. Kendati ia tahu ayahnya bukan orang yang banyak uang. Tapi ayahnya memberinya kesempatan menjualkan kitab-kitab di pesantren-pesantren. Lalu hasil penjualannnya dikumpulkan untuk membuat usaha baru.
Waktu itu ia mulai dengan menjual minyak wangi dari Arab. Ia bersama isteri mengelolanya bersama-sama. Malam hari mengolah, mencampurkan bahan-bahannya dan mengisi bolol bersama isteri. Pagi harinya ia sendiri berangkat menjual. Sore hari pulang. Setiap hasil yang ia dapat dicatat. Ia kerjakan itu, pulang pergi Semarang-Rembang. Terkumpulah uang sedikit-sedikit. Ia pun menghemat. Kalau sebelumnya biasanya beli rokok, tetapi waktu itu ia “melinting” saja.
Pernah juga terpikir untuk mencari rumah sendiri, berpisah dari orang tua. Tapi ayahnya melarang. Karena ayahnya merasa bahwa rumahnya masih sangat cukup untuk tinggal bersama. Ia bahkan berkata “Aku ora butuh ombo-ombo aku satu kamar saja cukup”. Barulah setelah anaknya yang kedua lahir tahun 1969, ia dijinkan mandiri. Tetapi tidak keluar Rembang. Ia diberi tempat tinggal di sekitar komplek pesantren, para santri di situ dipindahkan. Jadi mulailah ia mandiri tahun 1970.
Pada masa itu banyak usaha yang ia kerjakan. Menjadi makelar radio, sepeda dan segala macam. Hampir terlihat serabutan. Pernah ia mau melamar jadi pegawai negeri. Tapi tidak bisa karena tidak punya ijazah. Maka sejak saat itulah, sekitar tahun 1971, ia mulai masuk ke partai. Karena ada ikatan dengan Kyai Bisri, ia diangkat menjadi Wakil Ketua Partai NU Cabang Rembang.
Saat Pemilu dimulai, terjadi “gegeran” dengan tentara sehingga banyak kawan-kawan yang mengungsi ke rumahnya, karena takut mengalami tekanan dan kesulitan. Keadaan ini terjadi karena anggota-anggota NU diminta masuk Golkar. Situasi ketika itu menjadi sangat tegang. Nuansa saling mencurigai sangat tinggi. Bahkan sampai-sampai jika ada aparat pemerintah desa yang tak mau bergabung dengan Golkar akan dipecat.
Sehingga tugasnya waktu itu banyak berurusan dengan Kodim untuk membebaskan kawan-kawannya yang ditangkap tanpa proses hukum yang jelas. Ia dibantu juga oleh beberapa polisi. Karena banyak dari anggota polisi di daerah itu adalah kawannya satu sekolah. Bahkan ada seorang polisi diturunkan pangkatnya karena ketahuan pernah mengawalnya. Padahal waktu itu ia adalah anggota DPRD tingkat II dari Partai NU.
Kemudian, pada tahun 1973 lahirlah keputusan Presiden Soehato menetapkan hanya 3 partai yang boleh mengikuti Pemilu, yakni PPP, PDI dan Golkar. Sehingga NU harus bergabung dalam PPP. Akhirnya, ia pun ikut menggalang munculnya PPP. Ia menjadi Ketua PPP pertama di Rembang.
Menjelang Pemilu 1977, seminggu sebelum kegiatan masa kampanye, ayahnya wafat, tepatnya tanggal 27 Febuari 1977. Pada masa kampanye itu, ia masih dalam keadaan berkabung. Bukan hanya itu, ia juga diberi peninggalan pesantren dari ayahnya. Sementara, saat itu bisnisnya mulai berkembang. Salah satu usahanya waktu itu adalah mengembangkan pemeliharaan perternakan kambing dan memasok ke pasar-pasar (Cobong Gamping). Saat itu ia sudah memiliki 6 Cobong Gamping, yang hampir setiap satu jam ada transaksi jual-beli. Bahkan ia sudah memiliki truk dan mampu membeli motor.
Sepeninggal ayahnya, ia sempat menyuruh semua santri pulang ke rumahnya masing-masing. Tapi tidak ada yang mau pulang. Mereka baru mau pulang jika pelajaran Al-quran yang selama ini diajarkan sudah rampung. Hal itu ia bicarakan kepada adiknya, Mustofa. Ia meminta agar adiknya saja yang menjadi kyai pesantren. Karena ia mau menjadi pengusaha. Tetapi adiknya tidak mau, malah memilih menjadi seniman.
Ketika itu posisinya dalam usaha dan politik mulai membaik. Dalam politik ia menjadi wakil ketua DPRD Tingkat II. Tetapi karena ia anak tertua, maka ia berkewajiban mengambil amanah itu untuk menjadi kyai pesantren. Akhirnya ia menjadi kyai, mengasuh para santri. Usahanya ditinggalkan sehingga tutup. Tetapi jabatan wakil ketua DPRD II dipertahankan.
Pada Pemilu 1982, ia diminta untuk menjadi anggota DPRD tingkat I. Tetapi ia tolak. Karena ia mempuyai pesantren yang harus diurus. Waktu itu ia hanya mau di DPRD tingkat II, seumur hidup. Tawaran menjadi anggota DPRD Tingkat I itu diserahkan kepada adiknya, Mustofa. Adiknya menerima tawaran itu setelah didorong dengan berbagai penjelasan.
Sedangkan adiknya yang satu lagi adalah seorang PNS, mengajar di PGA lalu dipindahkan ke SMA di Rembang. Oleh pimpinan sekolahnya dipaksa masuk Golkar. Adiknya datang kepadanya, bertanya apa yang harus dilakukan? Ia hanya mengatakan, lakukan saja apa yang patut kamu lakukan dan jangan ragu. Akhirnya adiknya pergi ke makam ayah mereka. Setelah itu, adiknya menceritakan bahwa ia bertemu dengan ayah, dan memberi wangsit supaya tidak masuk ke Golkar. Besok paginya adiknya menyerahkan surat-surat formulir dan lainnya ke pimpinan sekolah dan pergi begitu saja. Adiknya memilih lebih baik berhenti dari pegawai negeri daripada masuk Golkar.
Anak-anak muridnya tidak mau ditinggalkan, karena ia adalah guru teladan dengan pembawaan dan sikap yang menyenangkan dan juga ganteng. Tapi setelah keluar sebagai guru, adiknya malah mendapat pekerjaan baru yang lebih baik, menerjemahkan buku-buku, penghasilannya lebih baik sampai mampu menyekolahkan anak ke UGM.
Pada tahun 1984 ia telah berada di lingkungan tokoh-tokoh NU tingkat Nasional. Ia juga tergabung dalam penyusunan konsep Khitoh NU di rumahnya. Pada tahun 1987 diangkat menjadi Ketua MPW (Majelis Pertimbangan Wilayah). Sedangkan Mustofa, adiknya, sudah tak mau lagi jadi anggota DPRD Tingkat I. Mustofa mau memfokuskan diri pada bidang budaya. Sementara ia sendiri belum mau untuk naik ke DPRD tingkat I. Posisinya di Rembang masih Wakil Ketua DPRD Tingkat II. “Waktu itu tunjangan sudah membaik, tetapi masih banyak teman di DPRD yang cari-cari proyek. Tapi saya tidak mau karena tanggung jawabnya kepada Tuhan,” katanya. Sebab ia sudah merasa cukup koq. Ia memang selalu berpendirian tidak mau “dipoyoi” orang.
Pada tahun 1992, ia mulai merasa jenuh di DPRD tingkat II. Sementara ia ditawarkan oleh ketua wilayah untuk masuk ke tingkat I. Tapi ia malah berpikir untuk masuk ke DPR RI. Dan pada tahun itu ia menjadi anggota DPR RI dari PPP.
Pada Muktamar PPP 1992, ia mulai berpikir bahwa PPP ini besar karena dukungan warga NU. Tetapi mengapa ketuanya bukan orang NU? Sehingga pada tahun 1994, ia mulai mengadakan gerakan di PPP, yang akhirnya dikenal dengan nama ‘Gerakan Kelompok Rembang’. Ia dengan teman-teman berusaha keras untuk bisa menggolkan orang NU menjadi Ketua Umum PPP. Tetapi ada wartawan yang menanyakan kepadanya, apakah tidak lebih baik minta restu dari Pak Harto? Entah kenapa ia menjawab: “Saya tak butuh Pak Harto, Tapi saya hanya butuh Tuhan!”
Jawaban itu menjadi berita dan ramai dibicarakan. Koq Cholil berani ngomong begitu? Akibatnya, gagallah upaya menempatkan seorang figur NU menjadi Ketua Umum PPP. Hanya diberikan kesempatan menduduki Sekjen. Untuk jabatan Sekjen, orang pilihan yang ia sodorkan waktu itu ialah Matori. Tetapi ditolak oleh Pak Ismael Hasan. Figur tandingannya adalah Tosari. “Saya merasa kalah total, sebab setiap saya menyodorkan orang-orang NU, setiap kali juga ditampik dengan menyodorkan orang-orang NU juga. Jadi orang-orang saya semuanya ditolak,” kenang Cholil Bisri.
Kemudian menjelang Pemilu 1997, ia dicalonkan dari Jawa tengah dalam urutan 10 besar. Tetapi setibanya di Jakarta, karena ada pengaruh Pak Harto, ia ditempatkan menjadi nomor 53. Sehingga tidak jadi anggota DPR. Setelah itu, walaupun kecewa, ia kembali bertekun di pesantren. Ia pun banyak menulis. Ia benar-benar menjadi orang desa, tetapi masih aktif di partai sebagai MPW. Saat itu, ia pernah diajukan oleh partai supaya ke MPP. Tetapi ditolak oleh Pak Ismael Hasan. Walaupun demikian ia tetap diangkat menjadi anggota MPR RI dalam Badan Pekerja sebagai wakil utusan daerah, bukan dari partai.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar