Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Kamis, 05 September 2013
Puisi untuk Negeri
Alam pun Bersaksi
Dahulu ada kehidupan yang tak dapat dipungkiri
Lalu dari waktu ke waktu zaman pun telah tersakiti
Gelora juang seorang pendiri hanya jadi kisah di laci memori
Kisah sepenggal kehidupan di pesisir cinta sejati
Kenangan indah telah terpatri
Di alam yang turut bersaksi
Kiranya history telah hidup kembali
Pasti para pengabdi bersuka hati
Kisah ternyata hanyalah sebuah cerita yang dibumbui
Oleh secercah sejumput harapan yang tak pasti
Padahal alam pun telah bersaksi
Untuk menjadi pelajaran hidup yang penuh arti
Itulah kehidupan yang tak pernah berbohong diri
Kisah sang ksatria sejati ditelikung oleh lika-liku penuh duri
Dunia pesisir cinta sejati andil melahirkan sejuta misteri
Dan Ilahi pun tak pernah ingkar janji
Alam turut bersaksi bahwa hidup penuh histeri
Gelora hati tuk tak tersakiti dikebiri saudara sendiri
Ingin mengabdi digoda oleh kelalaian diri
Cinta di pesisir jadi tak lagi sejati
Dermayu, 8/2/2013
Pikirannya Tak Secerdas Hatinya
Jagalah hati kau pasti berbakti
Akalnya hanya diminta untuk mengerti
Dunia sungguh tercipta dengan kehendak Ilahi
Azab-Nya pasti mengikuti
Berbekal kecerdasan saja sungguh tak cukup mendalami
Cerdas akal seharusnya hatinya juga melebihi
Akal dan hati bukan saling memusuhi
Diperintahkan untuk saling berinteraksi
Pikirannya tak secerdas hatinya duhai para pengabdi
Ada Dia Yang Maha Suci di dalam hati
Bukan kebanggaan diri Allah bersemayam di hati
Hanya Dia-lah yang patut dipuji
Bercerita tentang hidup di negeri sendiri
Dahaga terasa jika tak mengenali
Asmara pada ibu pertiwi harus sampai di kedalaman hati
Sebagai tanda bukti cinta sejati
Memanjakan dunia di negeri sendiri takkan bisa abadi
Pada hati yang cinta Ilahi akan hadir senyum berseri
Pikirannya tak secerdas hatinya duhai pemuja Ilahi
Adakah dapat dimengerti?
Dermayu, 9/2/2013
Sejarah Pesisir Cinta Sejati
Kulihat dalam tatapan nun jauh dari pandangan
Terdengar berita yang menjelaskan penuh makna
Perihal pesisir cinta sejati di keharibaan
Sulit untuk dibuktikan tapi jelas dalam suka cita
Derai air mata sang duka dalam pengabdian
Sosok kesucian dalam keheningan derita
Dihamparkan bukti akan adab dan kesopanan
Bukan lahir dari angan yang hampa
Perhatian terhadap keluhuran dan kesucian
Sandaran dinamika dalam kehidupan alam yang nyata
Bukti sejarah yang menyulitkan
Bila dihampiri dengan bisikan sang durjana
Aku pun tersadar dalam bungkus kebahagiaan
Bahwa kelak lahir bumi pesisir dalam hamparan cinta
Terikat kuat dalam kebahagiaan dan kemuliaan
Sejak lahir kemurnian cinta yang membahana
Sejarah pesisir cinta sejati bukan hayalan
Bukan pula karena keinginan yang merana
Telah terurai dalam untaian kitab yang dirahasiakan
Di luar dunia yang tertangkap tatapan mata
Dermayu, 10/2/2013
Asmara dalam Duka
Seolah tak kumengerti
Ada duri dalam diri
Kelu lidah tuk mengakhiri
Sayatan sembilu dari kampung sendiri
Banyak cerita yang kualami
Dalam hidup di dunia sang pemimpi
Sudah lama kutersakiti
Dari seorang yang tak tahu diri
Sehat sejahtera ada dalam sanubari
Padahal hidup di negeri sang pendiri
Bukan takut tuk menghadapi
Lebih baik tak menghampiri
Asmara dalam duka begitulah yang dialami
Seribu kata tak berarti
Di masa kumenanti seorang pengabdi
Dalam rindu yang tak terobati
Berdoalah duhai putera sejati
Allah pasti kan menemani
Dunia bukanlah ladang tuk meratapi
Setiap wujud yang tak ada harga diri
Asmara dalam duka begitulah hidup di dunia mimpi
Cukup sudah tuk tersakiti
Dekapan cinta yang dinanti
Senyum luka tetap berseri
Dermayu, 10/2/2013
Belaian Sang Ilahi
Apalah arti hidup saat dikejar tak pernah berhenti
Detak jantung pun takut mengomentari
Bilakah hidup terus berlari
Jika hanya mimpi menguasai materi?
Celaka oh celaka bila itu yang terjadi
Sadarlah para sang pemimpi
Ada cinta yang harus dicari
Damai hidup dengan belaian Sang Ilahi
Negeri ini diliputi penuh misteri
Ada banyak harta yang bermateri
Tidak juga dapat mencukupi
Derita lama tak pernah berhenti
Adakah yang mau mengabdi
Berbekal cinta tanpa menyakiti
Inilah yang dicari
Allah pun ridho menghampiri
Wahai anak negeri
Kita butuh belaian Sang Ilahi
Agar hidup menjadi semakin berarti
Bahkan negeri mengamini sendiri
Mustahilkah dapat terjadi
Ataukah itu hanya dongeng dalam mimpi
Belaian Sang Ilahi bukan tak pasti
Terukur dari cara kita mendekati
Negeri yang bermateri menjadi misteri
Jika didekati tanpa menghayati
Kejarlah belaian Sang Ilahi
Hidup pun di negeri ini tak lagi bermimpi
Dermayu, 11/2/2013
Menuju Kemakmuran
Mungkin ada baiknya tuk mencoba
Adakah sebuah perubahan dimulai
Ah itu boleh jadi merupakan suatu usaha
Hidup memang harus silih berganti
Jika diam mustahil perubahan ada
Gayung bersambut diiringi niat suci
Derita lahirkan manusia binasa
Bila berganti maka ada sesuatu yang pasti
Dunia bukanlah panggung sandiwara
Petikan cinta dalam sanubari
Ada kata yang terlupa
Bahwa hidup hanya untuk mengabdi
Alam ingin disantuni belaian cinta
Kemakmuran pun bukan tak pasti
Walau sedikit tangan menggoda
Ada Ilahi yang selalu mengawasi
Wahai insan yang hidup penuh derita
Buka mata dengarkan hati
Salam sejahtera nun jauh di sana
Ada berita suka cita yang dinanti
Menuju kemakmuran hidup di dunia
Ajal menanti tak tahu pasti
Jangan biarkan hidup merana
Sambutlah mentari di pagi hari
Sudah lama kita berjumpa
Tak juga bersimpuh silaturahmi
Walau hanya sementara
Banyak makna yang dapat dicari
Menuju kemakmuran penuh bahagia
Ada di dalam kebijaksanaan Ilahi
Kejar hidup bertambah merana
Bila berlari tak setulus hati
Menuju kemakmuran sumpah setia
Tak boleh ada ingkar janji
Walau sedikit harta menggoda
Bakti setia dibawa mati
Ada duka ada suka cita
Tak perlu ada iri dan dengki
Allah sedang mencoba
Siapakah yang sungguh mengabdi
Dermayu, 13/2/2013
Ladang Dunia di Pesisir Cinta Sejati
Kuhargai kekayaan negeri
Alam berlimpah tak habis tuk dimengerti
Ladang dunia di pesisir cinta sejati
Lumbung padi yang beraneka materi
Melampaui kilau dunia bagi sang pemimpi
Ada banyak di negeri ini
Ladang dunia di pesisir cinta sejati
Aset pengabdi sampai ke luar negeri
Banyak orang menghargai
Kilau dunia yang dinanti
Ladang dunia di pesisir cinta sejati
Ada itu dan ini masih terselimuti
Tuhan selalu menepati janji
Jika negeri tidak dikhianati
Ladang dunia di pesisir cinta sejati
Pesona indah bagi para pengabdi
Semburan ombak rahasia Ilahi
Seribu pulau penuh misteri
Ladang dunia di pesisir cinta sejati
Kekayaan alam yang tak tertandingi
Tidakkah kau mau mengerti
Seru alam tak pernah berhenti
Ladang dunia di pesisir cinta sejati
Sudah siap untuk dinikmati
Cukup sudah tuk mendustai
Alam pun pasti senyum berseri
Ladang dunia di pesisir cinta sejati
Tawarkan hidup penuh berarti
Perlukah hidup dalam bingkai mimpi
Sakit pun tak terobati
Ladang dunia di pesisir cinta sejati
Bahagiakan insan yang tahu diri
Jagad raya milik Tuhan Yang Maha Suci
Tak perlu hidup jika mati di lumbung sendiri
Ladang dunia di pesisir cinta sejati
Dipersiapkan untuk para pengabdi
Dermayu, 16/2/2013
Satu Kata Dalam Hati
Gemuruh ombak diterjang badai
Denyut nadi tak terurai
Sedikit kata banyak arti
Meski orang tak banyak mengerti
Lagu cinta di dalam hati
Seru alam bagi pengabdi
Siapa yang tak tahu diri
Akan mati terasa disakiti
Satu kata dalam hati
Menjadi obat yang abadi
Teringat Allah sampai mati
Pasti tak ada yang mengelabui
Sudah hampa tak berarti
Tak ada pula kata dalam hati
Meski hidup laksana mimpi
Tidak juga ada yang abadi
Tapi hidup bukanlah mimpi
Selembar kain tuk menutupi
Jika hidup menjadi berarti
Allah pun rido mendekati
Beribu kata dapat dicari
Sulit juga tuk dimengerti
Satu kata dalam hati
Buka tirai yang menyelimuti
Satu kata dalam hati
Hanya Allah yang dinanti
Biar hidup tak lama lagi
Agungkan ILahi tak boleh berhenti
Dermayu, 16/2/2013
Pada-Mu Kumengabdi
Sejuta dajjal selewengkan diri
Ada iblis bergegas lari
Petir pun berhamburan menghancuri
Segalanya takkan abadi kecuali Dia Sang Ilahi
Merajut cinta di dalam hati
Sujud tersungkur menangisi diri
Apalah arti bertinggi hati
Jikalah mati dikerubuti iblis berduri
Pada-Mu kumengabdi
Jelas sudah keagungan-Mu ya Ilahi
Takkan ada yang menghalangi
Apa pun yang Kau kehendaki
Pada-Mu kumengabdi
Dihamparkan kemuliaan diri
Biarlah orang tak memahami
Bagiku hanya Engkau di hati
Alangkah indahnya penduduk suatu negeri
Abdikan diri untuk menjadi saksi
Pada-Mu kumengabdi
Begitulah seharusnya terjadi
Dermayu, 16/2/2013
Salam Sejahtera Untuk Penduduk Negeri
Dari kebahagiaan abadi
Disampaikan salam sejahtera dari pendiri
Untuk penduduk negeri yang berbakti
Janganlah duka bersedih hati
Tuhan kan terus merahmati
Kebahagiaan yang sudah pasti
Untuk penduduk negeri yang menjaga hati
Jangan lupakan bahagianmu kenikmatan duniawi
Salam sejahtera bukanlah basa basi
Untuk penduduk negeri yang cinta sejati
Kelak Allah kan menepati janji
Hidup makmur loh jinawi
Dari Dia Yang Maha Suci
Salam telah disampaikan melalui hati
Janganlah berbangga diri
Apalagi sampai menyakiti
Salam sejahtera untuk para pengabdi
Yang telah hadir di negeri sendiri
Teruslah dengan sepenuh hati berbakti
Allah pasti kan memenuhi
Dermayu, 16/2/2013
Senin, 26 Agustus 2013
Puisi Yohanto A Nugraha
Yohanto A Nugraha
Biografi :
Yohanto A nugraha alias Gatot alias Abuk alias Lie Keng Hoek kelahiran blok pecinan, desa Karanganyar Indramayu 18 februari 1955, menulis puisi sejak tahun 1974 pernah dimuat media daerah dan pusat, membentuk komunitas sastra KREASI tahun ’80 dan menyelenggarakan lomba-lomba dan diskusi sastra menggarap beberapa naskah drama dan monolog, pernah mengasuh ruang sastra di radio cindelaras, RSPD kabupaten indramayu, pernah menjabat sebagai ketua umum dewan kesenian indramayu periode 2004-2007 ,tapi hanya satu tahun dia menjalaninya ……. dan kumpulan puisinya “resonansi sepanjang usia” [komunitas bantaran, 2009] “Aku Akan Pergi Ke banyak Peristiwa”, [Antologi 9 penyair jawa barat oleh budpar jabar, 2005], “orasi sunyi” [Formasi, 2005], lagu matahari bersama Kijun [DKI, 2004], Resital puisi 11 penyair indramayu [Dewan Kesenian Indramayu, 2001] JURANG bersama H, Ope Mustofa [Formasi, 1999, “kiser pesisiran” [Forum Masyarakat sastra Indramayu, 1994] tanah garam [Kreasi, 1992] sekarang sedang merintis antologi penulis puisi tunggalnya “ lirik airmata alias puisi sms ” dan mendirikan komunitas seni“bantaran” di blok; talang tembaga gg. Cempaka Rt,23 Rw,01 Lemahabang Indramayu, Jawa Barat. mobile 085314921581 dan beristrikan seorang wanita bernama jumiatin dan berputra ; samsul, lukman, mustika wijaya dan adi adhari a nugraha dan bercucu farah annisah haya, bayu dan hafiz dan sekarang bergiat di forum masyarakat sastra indramayu atawa formasi.
RITUS PENGANTIN
- kepada jumiatin
memandang hujan pada matamu seribu lukisan
tergantung mengirimkan pesan kemarau
lewat telepon yang berdering di kamar
menggenapkan kekalahan atas kesunyian waktu
terlalu lama kita berdusta pada musim
mengetuk percakapandi beranda
hujan mengabutkan airmata dan mengisyaratkan
gerhana. hari memberat menggantungkan impian
masa kanak-kanak dan kau jadi batu
pada kediamanku seperti setiawati
bagi narasoma membuka padang-padang
tertusuk ilalang terluka kubasuh sepanjang
kelengangan dan airmata terus mengguncang
hatimu penuh genderang kuru setra
dalam cawan darah
kulangkahkan mahar
atas ritus ini
Indramayu, 1991
ZIARAH API
: bagi sp. hidayat
- 17 mei angin membawamu dalam hening wisik
dan kau pun mengukur usia sejarah berlari
menjaring mitos perempuan
runtuh kebalik ranjang pengantin
tapi kau tersenyum atas limbah pabrik inikah
kutuk yang dijanjikan ki tinggil atas ranah moyangku
kau pun ngembara ke kota-kota bersama mimpi wiralodra
dalam undakan dan lipatan romantisme nyi ending dan senja pun
lindap bersama kesakralan sambil bercumbu bau leher
san gairah cinta bak gurun sahara sakramen ini
harus kita sudahi kita pun saling bertukar piala
seperti bangsawan dan pangeran abad-abad silam lihatlah
aku pun telanjang membiarkan tubuh mempersimpit jarak
bukankah ini yang dilakukan bapak adam
dan ibu hawa mengajarkan kita tak takut-takut untuk saling
melukai dan ingin kuceritakan kepadamu tentang retorika
kisah purba - jayaprana-layonsari - jaka tarub - rama-sinta
romeo-yuliet atau kesetiaan yang sia-sia oidepus - cleopatra
bandung bandawasa diantara nugraha yang tergusur atas prasangka buruk
dialirkan jantung jiwa bukankah prasasti itu tak kalah penting
dengan cerita asmara ala yasunari Kawabata - tolstoy
atau tarian mabuk para darwis jaman rummi
- 17 mei bulan mengantarmu di lirik bidadari-bidadari
Menebar kasmaran dan sebutir bintang dalam pelukan
bersama gerimispada loncatan detik dan kau pun berbisik
tuntaskan tangis sejarah dan angina senantiasa menyebarkan
aroma kemenyan mencari memedi sawah
berlarian sepanjang galengan dan bentangan cimanuk
pada kanvas menterjemahkan mitos kijang
yang membuat sarang pada tumpukan gabah. basah
rambutmu mengobarkan birahi berapa harga kesetiaan
cinta pun jatuh seperti bola api selebihnya lenyap
di telan plaza diskotek dan semerbak diodoran
bagi nasib seorang pemabuk tanpa kartu pengenal
dan yang kurindu adalah gaga semangka
tanpa harus membakar pesawahan aku takut
pada keluguan batapa auranya akan mengalirkan limbah
pabrik - polusi dan orang-orang saling memperkosa
tanpa tangis lalu mereka berlomba di tengah
peradaban gelombang perang dengan pelana abad
lupa diri hingga teratai di kolammu gemetar
yat kemana kau sembunyikan wajah kami
pondok cabe, 2006
HUJAN SORE HARI
- wr dalam catatan
dalam hujan sore hari dan dingin
sudut-sudut kamar yang bersijingkat
mencari mata pisau sungguh aku lupa
siapa yang memindahkan wajahmu
memaksaku merabah seluruh tubuh
menarik kepusaran yang paling jauh
dan asing kukira engkaulah peri penggoda
matamu memancarkan seribu telenovela
berenang mengarungi lautan bercampur limbah
yang kian mengubah wajahmu sebab aku hanya
daun terbawa arus atau kumasuki mimpi
wiralodra yang kasmaran menanti nyi endang
mandi besar setelah perang tanding yang membuncah
diantara bantaran. sebagai tanda bahwa disini
telah ada bencana dihamparan baro-baro yang luka
dan amis darah pinangeran mengubur kesombongan
selendangmu tak sekedar berkibar tapi terbang
membawa kunang-kunang yang gemerlap
meski padepokan itu harus kau hancurkan
tapi jangan kau seret aku dalam peristiwa aku hanya
sayap kata-kata dan perkenankan puisiku melingkari
persetubuhan sebab aku sulit membedakan
malam dan siang meski ricik airmu menjelma
lembayung dan kukira aku telah melukai
dengan kata-kata pilihlah dimana akan kau tancapkan
cakramu agar melengkapi kesempurnaan hidup
dan terbebas dari dendam masa silam
seperti engkau usung prasasti negeri ini sebab birahiku
membias diantara jalan-jalan yang menghubungkan
jambangan bunga dan menawarkan kenyamanan
meski arusmu tersumbat merekalah milikmu
wajah api yang membakar pesawahan
dalam hujan sore hari
Indramayu; revisi 1999
[ atas bundanya anakku ]
REQUIM
- atas bunda
- ada sisa percakapan di sini
mengering perih kembang soka luruh
bertahan dari bisik waktu yang di-kristal-kan
menggeliatkan kenangan senja kelam
dan gerimis pun mengucur begitu dingin malam
mengantarkan benih yang tak sempat di-sema-ikan
dari kebekuan hati dan angan-angan yang terserak
mengusik ketenangan romantisme pasir pantai
sementara angin pun semakin lelah
mendorong perahu ke muara-
( - lie kiem hwa )
Indramayu, 081992
LIRIK AIRMATA
- kepada farah anisa haya
sudah terlalu lama suaramu kumimpikan
bersama gerimis hingga kedinginan. subuh
mencairkan gema adzan terkubur diantara
lorong-lorong jiwa yang luruh menterjemahkan
keperihan hati di tawarkan airamata orang-oranga
berdoa begitu suntuk bagi burung-burung
melintasi rawa-rawa sebelum fajar meninggalkan
nyanyian berlebih hurup jadi bagian kehidupan
selalu kau tolak masa silam mengantarkan aroma
melati berloncatan sepanjang rakaat bagi sujud
dan tangisan membentang rindu di tuliskan cuaca
menjarah kesejukanmu annisa ingin keteriakan
retorika kehidupan yang tak habis-bahisnya
membongkar kengerian diendapkan bianglala
mengirim bulan atas hati yang koyak disini
ingin kugulung semua impian bagi peradaban
yang ditawarkan berjuta virus
Talang tembaga revisi, 2001
DISINI ADA KENANGAN YANG MEMBIAS
DIANTARA GEMETAR HUJAN
diantara bantaran kita pun bisu kemana puisi yang gemetar dan engkau pun bersijingkat menawarkan arus yang tersumbat melukiskan aliran sungai sampai muara yang membentang sebab esok akan datang lamaran arya wiralodra kasmaran menterjemahkan lontar terbakar birahi kesumat membunuh segala romantisme disini ada kelahiran yang sungsang bagi kanak-kanak tumbuh dan besar bersama limbah tapi dimanakah janji ratu adil yang kau corongkan siang dan malam atas tepian sungai sepanjang tahun yang akan mengencangkan tubuh aku pun lindap dalam gemuruh pabrik dan ribuan pohon tumbang bersama angin puyuh membawa mimpi orang-orang atas tahun lalu jadi kering karena musim telah mengasingkan segala cuaca kau pun berkerut wajah menguraikan segala rindu yang mengeram kesunyian telah menjadi aneh dan kita pun mengaji diantara hiruk pikuk reruntuan kota-kota bagi perjamuan kemana kau simpan wangsit yang dulu mempertemuakan ki tinggil dengan seekor kijang tersungkur di hamparan suket teki biarlah semuanya menjadi ricik air dan nista sejarah yang menggelinding dan menyelinap diantara tapak-tapak ranah moyangku meratakan mimpi kanak-kanak berulang kuwartakan cinta ini dengan airmata para penziarah mengusung prasasti wiralodra yang kehilangan cinta abadi telah lama kutampung kutuk ini dan kemana sirnanya amarah yang membakar ‘gandulane ati’ cintamu sempit menjelaga sungguh ia serupa lembayung sambil kulafalkan lagi mantra yang kau ajarkan di malam-malam sehabis gerimis tuntaskan nyanyian para pendusta ini serupa candu masa silam dan angkara melibatkan kejumudan dan jangan sebut ibu di tanah ini yang telah membunuh artefak moyangnya dengan siapa akan kumaknai pelancongan ini dan seekor kijang melintas kau pun jatuh cinta di bawah tekanan mimpi memeras keringat orang-orang yang mengusung ajal tak ada siapa pun disana dan namamu bagai fatamorgana semua cermin membayangkan senyum hingga kau dapat menemukanku disini diantara debur ombak yang kian menepi seumpama angin berpusar sebagai riwayat yang menyalalakan mata angin dan kau pun bersikeras mewartakan kembali tentang pangeran selawe gugur sebelum waktunya lalu kau pun melupakan tapak-tapak sejarah yang menyelipkan surat bagi kanak-kanak yang kita lahirkan bersama seperti bantaran yang tak memberiku makna perjumpaan dan membiarkan kenangan indah bagi seekor kijang jadi prasasti dan puisi telah memberiku kesepian bersama kelengangan sebab arusmu terbendung dengan segala gelombang seperti ingin menanggalkan tubuh jadi santapan para penziarah inilah kado kelahiran muncul dari sumur bidadari dan bayangkanlah bulan sepotong memberi warna cahaya diantara tepian sungai bersama cericit burung merayayakan kemurnian pohon-pohon sepanjang bantaran menyuapi orang-orang bukankah engkau mendengar desir angin hingga kelopak matamu nanar menghujam bagai panah pesopati milik penengah pendawa bukan cerita sejarah membuat kita disini mencermati hamparan ilalang lalu kutemukan irama hidup yang sekarat menahan limbah dan matamu masih saja sembab begitu banyak harapan dan impian yang tergambar pada lingkaran alis mata penuh pesona engkau pun menjelma kupu-kupu dalam rongga masa silamku serupa gelepar jiwa dan sekali waktu perasaanku memeras doa-doa kupejam mata mendengar erangan bantaran di kepung seribu bulldozer atas udara kecut berselimut aroma solar baiklah kujalani kutuk ini untuk menyediakan ruang bagi bayang-bayang kekinian sebagaimana aku harus mengenangmu dan tak bisa kulukis wajahmu yang selalu menutupi perjumpaan selalu melilitkan persetubuan dan mereka tuangkan pada sawah ladang yang kian gersang karma cerobong pabrik inilah potret kemajuan yang kau impikan disini adakah gemericik air hujan membasah kita pun mandi besar dalam darah orang-orang melawan arus kebijakan dan keangkuhan telah jadi racun yang mereka wariskan sepanjang malam membayang wajah pesisirmu di balik lentera jalanan seperti kenduri nenek moyangku yang bersemi dalam laku lampa menebar aroma garam mengucurkan doa bagi langit membuka rahasia dan kita tuai rasa perih kanak-kanak mengedepankan segala keinginan dan kerinduan serupa muara menampung tekanan mimpi siang hari dari lapar jiwa setiap detik mengeja ajal sekarat menahan limbah dan dengan siapa transformasi ini melindapkan penyeberangan aku mabuk melangutkan segala mimpi sungguh aku luput menangkap larutan dan membuatmu murung pada usia yang memar seperti jantungku penuh dendam menahan cinta dan angin selalu menerbangkan satu teriakan tiba-tiba seekor kijang tersesat di super market mencari wewangian dan engkau pun beringsut bersama debu-bedu yang menebal pada kaca tapi kemana embun yang menyebarkan dingin subuh meruap diantara para pelancong membuka tubuhnya seperti cahaya menyelisik menyingkap gelap malam bersama desir angin dan rumah baru yang suwung seperti yang kita impikan di malam-malam ketika gerimis turun perlahan pada dahan mati sayang engkau tak paham meski senyummu di menolak mengabarkan percintaan ranjang pengantin disini aku mewarisi kegamangan rindu batang khuldi kemana kanak-kanak kau ungsikan atas kandungan sungai yang kau kuras bersama deru buldozer sebagaimana hidup di bangun dengan keangkuhan meruntuhkan malam diantara kuburan dan engkaulah peri penggoda di remang sunyi yang tiba-tiba menghembusan angin lembut dari arwah yang berlabuh menahan debur ombak sepanjang pantai aku jadi ingat wanita yang menyimpan segala misteri untuk terus saling tidak percaya aku akan tetap membuat sajak jauh kedalam tanah tapi nasib berkata lain inikah kutuk itu sampai tak tau jalan pulang seperti ikan-ikan mabuk dan sejarah selalu berulang bagi asmara sebatas beton lantai lembab dan kegagalan adalah formula tuk membangun impian masa remaja yang gemilang sementara kini aku hanya membias menyimpan pantulan wajahmu demikialah hidup berawal menyadap ajal dan dan membakar ladang-ladang yang dinistakan orang-orang dan kubaca arah angin kemudian kubangun impian dengan nalar atas gairah cinta yang terus bergumam aku mabuk sepanjang bantaran dan tapak-tapak sejarah telah kehilangan aroma padahal pahlawan sudah lama gugur engkaukah yang sembunyikan primbon atas ribuan wajah datang dan pergi terlanjur menyatu dengan riak sungai yang kehilangan aromanya atau rumah tanpa jendela lantas apa yang akan kukabarkan bagi penantian ini aku pun berdoa atas orang-orang mendenguskan kematian di jalan-jalan yang tiba-tiba seperti sebaris sajak chairil menuju pelabuhan demi pelabuhan menggenangkan arwah wiralodra tersimpan berabad lamanya dalam kegelapan menyelimuti bumi moyangku diantara gerimis dan tetesan airmata mengalirkan limbah yang membakar inilah kemurungan yang kian larut dalam hujan sore hari dan tak ada upacara atau kenduri disini lembayung surut mengaburkan cahaya wahyu yang dijanjikan sejarah aku tahu kau yang menghilangkan riak air dari hulu serupa bayang-bayang subuh tergantung dan kita pun sepakat mencari bantaran yang layak kita taburi benih cinta dan tak selamanya kepura puraan mengasah dendam yang menyala diantara masa silam berkubang dalam lendir sekali waktu terbayang wisata jalan raya penuh birahi atas panorama meski kita tuntaskan sebelum malam mendesak untuk tak takut-takut bahwa kenyataan bukanlah beban maka kubiarlah jadi kenangan dan selalu ingin kutulis namamu dalam lembaran retorika kehidupan
Indramayu, 2007.
VIBRATION OF THE FISH
; bagi dirot kadirah
- dalam bentangan abad-abad yang terbakar ikan-ikan menanggalkan karang memaksaku membaca kembali mantra ki tinggil atau memimpikan negeri gemah ripah loh jinawi sepanjang bantaran yang gelap lindap lautmu membawa duka lara dan penziarah itu mencari jejak sejarah entah bagi siapa perburuan ini masa kanak-kanak yang tergusur dari keluasan laut dan layar terkembang atas cadik bagi perahu saat menjaring harapan diantara limbah sesajen melarungkan gasing berputar putar merotasi mimpi pulau dewata dengan aroma kemenyan mungkin nenek moyang kita sama tapi kemana tangis orang-orang mengusung lapar bersama gairah kepedihan cuma pengantar ikan-ikan bagi nelayan menyuarakan kesengsaraan di jalan-jalan menuju pabrik sambil membentangkan selendang mayang hingga bantaran semakin tenggelam bersama sungai-sungai terkubur otak penguasa yang tak paham aroma sejarah. ia hanya mengabarkan banjir bandang bagi tubuhnya menguapkan bau tanah dan kematian ikan-ikan di pasar kau pun berhias diri sebelum kehilangan hunian dan kubaca kembali primbon nenek moyang namamu ada rohani yang ngembara dan seharusnya kau sembunyikan diantara kemarahan ikan-ikan dan wanita yang kehilangan suami kau pun mengeja hari-hari yang suntuk kenapa kita jadi budak jaman yang di pertuankan atau dituankan dan kau pun tak mau kehilangan raga kamana kau kirim kado perkawinan seekor ikan sungguh aku tak menerima apa pun dan kau pun bukan wiralodra bercinta dengan nyi endang dan siapakah yang semedi dalam gua garbamu membiarkan keringat menuntaskan segala kenangan dan kau pun menuai percintaan sepanjang arus cimanuk bersama ikan-ikan terjegal tilu braja bagi masa silam yang memetakan segala peristiwa berulangkali menyuarakan aura sungai-sungai saling melilitkan nasib aku mencintai dengan segala jiwa katamu sambil menelanjangi ikan-ikan yang sekarat bersama limbah
Talang tembaga, mei 2006
METAFORMOSA
- kepada, candra n pangeran
1.
anjani darah kesadaranku membias diantara suara-suara gamelan jadi telaga dzikir bersama orang-orang yang menyuarakan kesengsaraan musim sepanjang pantai atas bibir gelombang mengubur prasangka buruk dialirkan jantung jiwa bagi seorang kekasih begitu tabah menata airmata sementara kanak-kanak berlarian diantara pusat-pusat informasi bangkitkan parikesit atas semar-semar jalanan dan kita pun membuat persimpangan demi persimpangan menyemarakan pesta kembang api dalam gumpalan kerinduan melengkapi pembusukan nurani mengerami sejarah moyangku diantara limbah pabrik dijejalkan teknologi
2.
anjani waska yang tercipta dari lendir kesadaran nurani telah membangun berhala dan menjelma angka-angka statistik atas rindu sejarah ruangtamu melangutkan gerimis sore hari hingga isyarat yang kau janjikan lenyap bersama embun semalam jadi padang-padang perburuan diantara pohon-pohon cantigi sepanjang pantai yang terluka dan tubuhmu menyengat di celah-celah kegelisahan mengiringi diammu menuju konspirasi demi konspirasi tapi disinilah kau dapati kehangatan masa silam yang menyapaku setiap pagi atas cakrawala kelam menghubungkan fatamorgana kedalam kamarku penuh birahi
3.
anjani suaramu membakar amarah orang-orang yang kini jadi momok membentangkan kesunyian waktu terbaca jejakmu diantara kilatan kramik dan sisa tumpukan masa silam meliukan gairah semar-semar pun tersenyum menangkap sorot matamu penuh dendam atas derita rindu diapungkan doa seperti ricik hujan yang membakar sementara tubuhmu membuat petak umpet bagi persinggahan airmata yang berputar-putar atas dinding rumah kontrakan lewat sentuhan-sentuhan yang tak kau sadari bergerak dalam tubuh kami membuat lingkaran seperti matahari dalam sakramen ini
Indramayu, 2002
GERIMIS
1
gerimis pun menyapamu diantara senja yang muram tapi dingin menyebarkan aroma cimanuk yang meranggas. barangkali ini sebuah kutuk atas mimpi-mimpi tentang perjalanan ki tinggil yang membakar hutan belantara disini sajadah yang kau bentang di pelarungan rumah itu dan rambut tergerai basah oleh embun semalam telah menitis dalam tidurku sayang kita melupakan mantra-mantra yang diajarkan sejarah melingkar-lingkar sepanjang bantaran dan suaramu kudengar lewat debur ombak mengantarkan kepiting dan umang-umang menyusuti kebisuan karang disini di sungai inilah kau pertemukan nyi ending dengan airmata kasmaran mengeja hari-hari penuh harap dan kenangan yang menyelinap kedasar kepedihan orang-orang.
2
gerimis itu menyapamu sepeninggal senja yang kini menjadi bendungan seperti engkau menerima kutuk dan luka yang dimitoskan sejarah telah mewarnai gemerincing waktu berutar-putar melewati jalan-jalan yang menghubungkan kedalam dadamu penuh ramalan.ratu adil sambil mengintip nasib orang-orang terusir aku baca kemabali lontar atas bingkai jendela yang kau hadirkan dalam mimpi semalam akulah sipemabuk yang mengubur dirinya sendiri karna tak mampu menterjemahkan perih dan mengepakan resah cinta atas peperangan di ranah moyangnya akhirnya aku membangun juga persinggahan demi persinggahan walau aku ragu akan makna persinggahan bagi dirimu yang berjalan sepanjang sujud dan rakaat
3
gerimis itulah yang menghadangmu atas kesenyapan waktu mendesirkan rasa mengusik jantung penuh batu-batu. ingin kuziarahi seluruh masa silam agar sajadah yang kau bentang mampu memeberi penerangan jalanku disini disepanjang bantaran yang tak memberi makna sejarah dalam tubuh yang terbungkus selendang mayang berwarna kuning keemasan membuatku rikuh nyi ending pun tersenyum menapsirkan bunga-bunga tumbuh di petilasan itu kau lihat matahari di kanvasmu penuh warna kesunyian melepas segala beban kerinduan dan “hidup hanya menunda kekalahan/ tambah terasing dari cinta sekolah rendah/ dan tahu ada yang tetap tidak diucapkan/ sebelum pada akhirnya kita menyerah”.........
“) sajak chairil anwar “derail-derai cemara”
Revisi, 2009-2000
KAU PUN BERLARIAN DI RICIK HUJAN
- catatan bagi affin riyanto
kau pun berlarian diantara ricik hujan di subuh jingga tapi tak kutemukan sendu pada wajah dan angin selalu melucuti sisa gemetar pada detak jantung yang menggemuruh pada sebuah cuaca menyatukan segala kehendak melukiskan takdir dan hanya kerangka yang harus disempurnakan dan kau pun diam memaknakan goresan pada kanvas membentang seperti pelaut yang kehilangan peta moyangnya membias jaman bagi kesakralan aku masukan nama nama saat keringat orang-orang bertutur sapa seperti para aulia memendam segala prasangka yang dialirkan jantung jiwa atas pengembaraan abadi melayarkan segala kenangan hidup melepas laut pada usia lalu dari balik kobaran api munculah wajahmu penuh pesona kemana kau kubur cinta yang dulu mengajarkan kita tak takut-takut mengarungi limba belantara inilah hikayat ranah moyangku menjadi rawa-rawa tandus dan sungai yang tersumbat dari ujung perkampungan atas perdebatan selalu tak berujung inilah masa panen yang memotong kelamin orang-orang saat burung-burung melintasi harum padi dan sisa pembakaran disini dikedalaman tubuh yang menyimpulkan aroma duka lara mengantar mimpi orang-orang yang tergerus mengaliri birahi kesumat seperti bulan melanguti malam diantara mega-mega jadi menggemuruhkan makna diantara slogan sepanjang perkampungan bergantungan dan kau dengar suara yang menggelegar menjelma berjuta airmata dan luka sejarah bagi kanak-kanak yang menyusuri ranah monyangnya pada hari-hari menumpuk. adalah takdir yang menyelimuti rawa-rawa yang semangkin menjauh sebelum nyi endang terusir di tanah perjanjian hujan pun turun dari balik kelam hunian dan desir angin laut tanggalkan pesan kemarau menghapus nama-nama dan senyum yang membius engkaulah yang mampu menggoda malam pengantin pada persimpangan tak sempat mengirim doa seperti pesakitan digelandang ombak bersama hujan atas halilintar sampai kapan kutemui ujungnya dan dapat menjumpaimu maka kuhapal seribu mantra agar kering air mata atas gelap yan membayang wajah pesakitan justru ketika kerinduan mengelabui ziarah ini
Talang tembaga 2009
Yohanto A Nugraha
PISAU WAKTU
: catatan bagi syayidin sr
- narasi yang ada pada goresanmu mengabarkan
ricik air kran itu membisu saksikan tubuh
menahan beban gelombang. darahnya menyergap
sudut kanvas menjadikanmu kelimpungan
mengeja hari-hari penuh genangan pada kaca
menterjemahkan sebera panjang doa lucan capulet
menyisir padang perburuan “inilah panen raya itu”
teriak jaihan sambil menutup mata chairil anwar
terbaring diantara perempuan yang kehilangan mata
dan hardi membentak bentak menempel wajah presiden
tapi kekuasaan jatuh pada perempuan “akulah reformasi”
sambil tersenyum surya palo menjelaskan persatuan
dan kesatuan yang membingungkan kanak-kanak
- narasi yang kau gelar kini jadi bunga bakung
meliarkan mimpi wergul w darkum yang meragukan
tepung kanji atas tubuhnya dan kita pun sempoyongan
mendengar suling dermayon mewarnai percintaan
atas genangan sampah-sampah tanggul cimanulk
aku tersekap ketika kau taburi wajahku dengan lumpur
kehidupan yang menjegal jalanku. bersama fujail
kuusung keranda ayah ibu melewati kesunyian waktu
maka kunyanyikan “requim aeternam deo” sambil
membangun surau-surau di dalam tubuh kami dan
matamu nanar menelanjangi kemiskinan
diantara lautan airmata
- narasi yang kau buat kini telah menjadi monster
melintasi lautan dan membuat pulau-pulau kecil
tempat kanak-kanak membangun romantisme
tanah moyangnya yang tergusur
seribu buldozer
Talang tembaga, 2004
JAGAT ALIT
- kepada wergul w darkum
telah kau ziarahi kesepianmu diantara kilatan
lampu pada aroma kemenyan. menggusur kelaparan
nurani yang resah memandang gedung-gedung
dalam cawan darah dan airmata membungkus salam
kepada jagat membentangkan kain kafan meruatmu
sedang aku memunguti masa lalu dengan menyobek
almanak yang sekarat di makan waktu
seperti pohon-pohon sepanjang panatai. kita mesti
istirahat meluruskan badan dan mengencangkan
segala impian kanak-kanak untuk kita jual
televisi menayangkannya pada kesia-sian sajak
membias wajah memar di jalan-jalan menuju
pendopo. tergantung keasingan dan menuliskan
angka-angka yang membakar cerobong pabrik
seperti doa yang diapungkan gelombang. terbaca
kesengsaraanmu pada pucuk daun kering luruh
mengkristalkan kebohongan peradaban jaman
masihkah kau menunggu suluk ki dalang
yang memidurkan segala impian dan angan-angan
terbuang seribu gunungan menututupi kecemasan
kita pun terlahir dari rahin yang sama
dan bumi ini akan menangis menyaksikan segala
hujatan. bulan lengser bersama jerit tangis
dan darah membusuk jadi tumbal sejarah
Indramayu, 1998
Kamis, 22 Agustus 2013
Kumpulan Puisi 'OPE MUSTOFA' [Mantan Bupati Indramayu]
OBSESI
Kala itu ……..
mahkluk sempuma diciptakan-Nya
sang Gagah perkasa penghuni sorga
bahagia tapi sepi tanpa teman sejenismu
Hawa dicipta dan iga sang perkasa
awal dari suatu obsesi akhlak manusia
mereka bersama bercita penuh ilusi cinta
sang penggoda tidak putus ass agar mereka
dan anak basil cinta membuat mereka tertawa
syaitan ……
sang raga …... merasa bangga ……. merasa empunya
cita - rasa - karsa - harta - karya – kuasa
katanya untuk semua bersembunyi ego pribadinya
Akan halnya sang iga
ia merasa sebagian darinya, lemah tak berdaya
kadang dimanja - diajak bersama
tapi - kadang dihempaskan pada posisi hina
Entah dari mana mulanya iga itu berkuasa
alpa akan kodrat den fitrahnya
ia lebih dan sang raga merusak isi cinta terhempas
badai petaka mengundang gelak sang penggoda
Kenapa ……..
raga tidak melindungi, memelihara, menutupinya....
dengan busana yang pantas baginya
tanda rasa cinat penuh cita
Mengapa ………
sang iga tidak ingin selalu bersama
seiring melayari bahtera sambil melindungi ………
sumber detak hidup kehidupan dan selalu menegakkan sang raga agar tidak terbungkuk - bungkuk menyesali mempunyai iga yang rapuh tanpa daya pembawa bencana
Kenapa tawa sang penggoda tergelak
is merasa.......... pengendali
penyalur petaka dan neraka yang selalu digjaya
sampai akhirnya tidak ada lagi
iga dan raga yang menuju sorga
Ironis
obsesi 'tuk menghentikan gelak penggoda
tak mendapat sambutan den tempat semestinya
Ach........... tidak tahu lagi aku mengapa
IBU .... DO'A KAMI UNTUKMU
Di ambang fajar Idhul Adha embun bening
menyegarkan bumi membasahi hewan qurban
di halaman musholla, masjid dan gria
diiringi takbir mengagungkan asmaul husna
Sosok tubuh ibu penuh cipta, rasa, din karsa
dipanggil kembali ke hadirat-Nya didampingi
suami pemegang mandat bangsa
Meninggalkan semua yang dicintainya di hari mulia
seorang manusia mentaati perintah Tuhan-Nya
tuk mengorbankan anak nan sholeh kecintaan
ayah dan bundanya
Ibu ... kau pergi tanpa berita sebelumnya
Ibu ... kemarin kami masih menikmati senyum,
lambaian tangan dan sentuhan kasihmu yang tulus
Ibu... seakan tak percaya kami akan mata dan telinga, menerima berita duka di hari mulia
Ibu ... Kami ingin sepertimu sebagai insan
penerima dan pelaksana amanah
berjuang dan mengabdi kepada negara, bangsa,
suami, anak dan cucunda tercinta dengan sabar
dan tawakal penuh takwa
Ibu ... Kami ingin sepertimu
berpulang menghadap-Nya dengan tenang di hari mulia
tak membebani keluarga dan suami tercinta
Membuat kami terhenyak den tersentak menerimanya
Ibu ... tenanglah dalam alammu kini
kami akan melanjutkan perjuanganmu
kami akan jaga peninggalanmu
kami berdoa untukmu selalu semoga ibu
menjadi khusnul khatimah .... Amien
Jakarta, 2 Mei 1996
SANG ADIPURA
Konon dermayu di masa lalu
Desa asri disisi bantaran Cimanuk yang lugu
Rindang, tenang, dipagari padi yang kemuning
Dermaganya ayu, nelayanpun tenang melaut dan
memancing
Lalu desa itu menjadi kota kecil penuh tantangan
Ruang aneka ragam kehidupan
Lupa menjaga ketenangan dan kerindangan lingkungan
Banjir dan kering bergantian memperingati
penghuni kota akan keacuhan den ketidakpedulian
Jadilah dia kota yang terpuruk
dalam kebersihan, ketertiban dan keindahan
Perlahan tapi pasti ...
Merekapun sadar dan bangkit dari ketinggalan
Air - selokan - sampah - pasar - jalan dan
lingkungan ditata ulang
bersama-sama menyingsingkan lengan baju
memerangi kesemrawutan
‘Tuk mengembalikan seperti dulu
Asri - ayu dan rindang.
NUANSA AKSARA
Lahirku serupa dengan mereka
menangis dan tertawa karena rasa dan canda
hanya mereka dengan kasih dan cinta menerima ilmu
tuk mengenal dunia mereka juga masih menangis
dan tertawa tapi dalam romantika kehidupan cendekia
Sedang aku - dan aku lainnya
Ada kasih dan cinta tapi dengan mereka aku
kenal dunia terbata-bata aku menangis dan tertawa
tetap karena canda dan rasa
aku tak tahu ilmu melalui aksara
Puji syukur kepada Sang Maha Kuasa sentuhan
kasih kuterima dari insan yang Peduli kepadaku
aku mulai tahu aksara dan membaca
aku bisa menangis dan tertawa seperti mereka
tidak buta dalam romantika dunia
semoga anakku tidak seperti aku
kelak dia harus sama dengan mereka
SAMPAH
Kau dibuang – dicampakan dari mereka yang
Mengambil manismu
Kau memanggil.........................
Perlakukan kami
Manfaatkan kami
Tempatkan kami
Jangan tunggu kami murka memberi aroma busuk
Dan petaka penyebab derita dan duka
Akibat ketidakpedulian dan keangkuhan manusia
Ingat.....................
Kami tidak akan sirna
Kami tidak akan lenyap
Kami ada dan selalu ada
Pedulikan kamiagar tidak terjadi mara bahaya
Akibat perilakumu manusia yang melahirkan kami
Indramayu, 4 Juni 94
RAPIH SERASI INDONESIA
Dahulu....... 50 tahun yang lalu kau lahir
Bayi indonesia dari ayah ibu perintis dan
Pejuang di tengah kancah revolusi kemerdekaan
Kini......... Kau tegak dan dewasa rapih menata diri
Serasi menelusuri era kebangkitan nasional kedua
Di tengah globalisasi dan teknologi
Kelak......... dengan Tuhan Yang Maha Esa
Kau akan tunjukan kepada mereka isi dunia
Inilah indonesia.........
Negara berjuta manusia adil pemerintahnya
Makmur rakyatnya tegar pribadinya
Diatas landasan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar ‘45
Bergaul untuk perdamaian dan kemerdekaan sesamanya
-Dirgahayu Indonesia-
Jakarta, 23 Agustus 95
BALADA SEORANG IBU
Garis-garis wajah kerut bak grafis
Proses alami liku kehidupan
Artistik ciptaan illahi
Menghias wajah menambah wibawa
Insan-insan bertelapak sorga
Kau lahir dan melahirkan
Kau hhidup dan menghidupi
Kau dicinta dan sumber cinta dan segalanya
Pelaksana kodrat kehidupan
Makhluk sempurna ciptaan-Nya
Hari-harimu....... dilalui
Penuh gejolak pertentangan hati anttara
Cinta dan realita
Panduan karya doa dan
Balada kehidupan penuh rona
Sumber cinta yang melukis
Kerut panorama di wajah mulia
Semoga Tuhan selalu bersamamu
CERITA ANAK MANUSIA
Mentari senyum malu-malu terbit diufuk timur
Sudut dunia membuuka mata anak manusia
Dari kelelapan mimpi indahnya
Mereka berdoa
Mereka meliukan tubuh kecilnya berolahraga
Bergurau dan beercanda peluh mengalir tak dirasa
Membasahi persada
Tanah tumpah darah tercinta
Sang surya kian perkasa makin tinggi
Menerangi alam ssemesta
Anak manusia bersenandung ria bernyanyi-menari
Dan berseloka menuntut ilmu memelihara budaya
Cerita anak manusia sehat sejahtera harapan bangsanya
Mentari perlahan sembunyi mengakhiri tugas suci
Mengantar mereka anak ceria berdoa kembali
Keperaduannya ‘tuk mengongsong mentari esok hari
Dan hari berikutnya memberi kehidupan
Alam semesta tugas mulia dari sang maha pencipta
23 Oktober 1995
BACALAH
Gurun nan gersang ........ kejam
Hutan lengang...... menakutkan desa terpencil
Sampai tengah hiruk pikuknya
Kota metropolitan
Dalam suasana suka dan duka tidak mengenal
Tua dan muda
Kalam-Mu ya Tuhan semesta alam
Dibaca-dihayati-diamalkan menguak lengang
Mengusir gersang menghilangkan takut menentramkan
Dinamika kehidupan
Diawali kalimat ta’awudz berlindung kepada-Mu
Dari godaan syaitan yang terkutuk
Diakhiri tasbih dan iman
Maha benar engkau ya Allah dengan segala firman-Nya
Menjadi pedoman dalam kehidupan
Sungguh........ sebaiknya ibadah
Membaca al-qur’an mubin
Semoga amal ibadah kita diterima Allah Swt.
Kroya, 27 Maret 1996
KUCARI BAHAGIA
Awal kehidupan......... aku melihat......
Tapi aku buta kekuasaan-Nya
Aku mendengar ................ tapi aku tuli dari kalimat-Nya
Aku bicara ....... tapi aku bisu tidak mengucapkan
Kalam Illahi
Aku melangkah ...... tapi sebenarnya aku diam
Aku bernafas ........ tapi nafasku hampa dari tasbihmu
Aku berakal ........ tape sebenarnya aku bodoh
Aku, aku ..... aku...... !
Aku adalah insan alfa
Aku lengkap sebagai manusia tapi aku jauh dari bahagia
Suatu saat aku dibuka oleh-Nya
Aku melihat aku mendengar aku bicara aku
Menguasai diri dan diilhami mengenai-Mu
Dua kalimasyahadat kubaca sholat kudirikan
Zakat kuberikan puasa kulaksanakan haji kutunaikan
Tapi ....... aku masih belum bahagia
Aku tidak tahu, bahagia itu apa ?
Sekalipun semua sudah kulakukan
Mungkin aku bahagia, jika semua itu Kau terima
Tapi...... bagaimana aku tahu karena itu rahasia-Mu
Yaa ....... Maalikiyaumiddiin
Mungkin bahagia itu aku raih jika aku kembali
Kehadirat-Mu di terima di sisi-Mu
Berada di Firdaus-Mu kekal abadi didalam
Balasan sorga-Mu
Indramayu, 28 April 94
SILIH BERGANTI
Temu...........
Awal dari pisah
Silih berganti mengisi hidup dan kehidupan
Seakan cepat waktu berlalu
Seakan seikhlas bersama, bahagia tertawa
Tak terasa goda dan kendala lalu oleh canda kawula
Ada yang pergi........
Ada yang datang silih berganti seperti
Siang dan malam
Apa kata siang dan Yang Maha Kuasa yang tahu
Berbuatlah untuk dikenang nanti pada waktu
Pergi diiringi doa yang tinggal
Semoga Tuhan menerima amal ibadahnya
Amien
Indramayu, 3 Nopember 93
WAKTU
Kau ..... sang waktu
Tetap tegar pada tugas janjimu
Tidak rubah karena apapun
Detik dan rotasimu menjadi pegangan semua
Harapan dan perasaan
Kau disegani-ditunggu-dijalani-dituruti
Dan ditakuti
Waktu dulu kita belum apa-apa
Waktu kini kita juga belum jadi apa-apa
Waktu kelak kita pun tidak akan ada apa-apanya
Kenapa kita menjadi mengapa
Padahal kita bukan apa-apa kita semua
Mengisi detik waktu mengikuti iramanya
Menunggu waktunya tuk kembali pada Sang
Empunya
Entah kapan ....... tapi pasti waktu itu akan tiba
Sang Maha Kuasa telah memperingatkan kita
Demi waktu-agar kita dengan amal dan akhlak mulia
Agar tidak merugi ..... dan kesal
Sang waktu sia-sia berlalu tanpa ada apa-apa
Indramayu, 29 Agustus 93
ULURKAN TANGANMU
Bencana ........ siapun tak ingin mendapatkannya
Tapi dia ada menghantui kehidupan ...... manusia
Dan lingkungannya
Air ...... bah yang mmengoyak
Angin ...... taufan yang memporakporandakan
Api ..... agni yang murka menghanguskan
Kecelakaan .... wabah ...... perang
Bumipun bergerak menimbun kehidupan membawa
Bencana petaka dan cerita
Semua akibat murka Yang Maha Kuasa
Memperingatkan manusia yang merusak citra kehidupan
Alfa akan petaka dan azab-Nya
Hai manusia
Sadarlah ....... semua itu ujian bagimu
Agar ....... tawakal bagi penerima bencna
Ulurkan tanganmu membantu meringankan derita
Dan duka mereka
Ulurkan tanganmu dengan derma ......
Donor dan doa sebagai amal mulia untuk menuju sorga
Karena doa yang menderita selalu di dengar Sang Kuasa
Dan mendapat ridho-Nya
Amien
Indramayu, 29 Nopember 93
Sabtu, 27 Juli 2013
PUISI ROMANTISME NEGERI MINYAK
Ali Akbari
Perempuan Malam
perempuan dengan senja
di lehernya
sendiri
merangkai-rangkai malam
tanpa rembulan
menerawang masa silam
bunga
ketika dara masih
lantang tertawa
dengan whisky di tangan
dan lelaki pemuja
tubuh sintal itu menari
sebagai ikan; telanjang
kini musim bungapun
usai
perempuan sebagai
kembang layu; tercampakkan
Ali Akbari
Dermaga
engkaulah dermaga itu
dan di situlah kelak
kapalku berlabuh
gelombang mana lagi
hendak mengusik perjalananku
sedang badaipun telah
menjadi sahabatku
kini kupasrahkan saja
perahuku
pada angin laut kemana
membawaku
dan aku tak lagi takut
pada gigi-gigi ombak
yang siap menerkamku
Ali Akbari
Perahu
akulah perahu yang tak
pernah letih mengembara
jiwaku layar-layar
berkibaran
mengucap salam bagi
pulau-pulau yang bakal kusinggahi
walaupun laut,
walaupun gemuruhnya dan
taufan iri melihatku
aku akan terus melaju
jikapun aku harus mati
di dasar laut, aku akan bangga
sebab matiku tak
sia-sia
tubuhku akan ditumbuhi
rerumputan
dan jadi sarang
bagi ikan-ikan yang
bakal menetaskan telurnya
Ali Akbari
Catatan Perjalanan
seperti kereta api yang
meluncur
entah di stasiun mana
akan berakhir,
perjalanan usiaku
seperti air sungai yang
mengalir
entah di muara mana
akan berakhir,
air mata ini
detik-detik yang
merintih
kucoba menjala nasib
selembar harapan
berakhir di tong sampah
Ali Akbari
Lagu Kematian
lari, Nang, lari!
melangkahi matahari
mengejar jejak angin
subuh yang hilang
sambil mengusung mayat
diri
meneriakkan kata-kata
di sepanjang jalan
tak letih juga,
mengeja peta kota-kota
mati
pada sungai air mata,
kau basuh nasib yang kusam
o alangkah perihnya
kehidupan
harapan dan impian yang
teraduk
membaringkan nurani
manusia tinggal
kerangka
Agus Supardi
Siluet Tanah
Kelahiran
telah kutinggalkan kota
dan kupilih tempat
peristirahatan bagi jiwaku yang lelah
putus asa dan kecewa
telah kuwakilkan pada buih
dan obat anti biotic
sebab telah kuduga
sejak semula
akan jatuh lagi air
mata yang lebih dingin
membasahi kampungku
aku akan kalah lagi;
jatuh dan terlindas
atau aku akan jadi roda
atau mesin atau rem yang telah aus
sebelum buldoser itu
meratakan tanah kelahiranku
sebelum cerobong asap
itu menghanguskan mimpi kanak-kanakku
ingin aku tafakur dan
berdoa
sambil kuteteskan air
mata. Sambil kuteteskan air mata!
tanda berkabung bagi
tanah kelahiranku
Ali Akbari
Balada Perempuan
Kallar*
tak ada pesta atas
kelahiran bayi perempuan Kallar
angin kering meniupkan
bau kemiskinan
menggetarkan dada dan
kuduk sang ibu
: emas kawin yang
melilit leher, sorot mata garang sang suami
dan kutukan para dewa
dengan hati yang luka,
digerusnya segenggam biji
oleander—getah beracun itu
lalu disuapkan kepada
permata hatinya
“Anakku perempuan,
inilah cinta ibu yang
teramat dalam”.
sambil didekapnya
erat-erat sang jabang
hingga gelinjang
kematian merasuk dalam pori-pori
o matahari Kallar,
meretakkan tanah-tanah
meretakkan peradaban!
1988
*)
Kallar : nama sebuah distrik suku Tamil Nadu di India
Ali Akbari
Song For Solitude
ceritakan lagi padaku,
katamu
tentang pujangga yang
bersanding dengan raja-raja
sambil mendendangkan
seloka dan syair pelipur lara
juga mantra persembahan
para dewa
tapi secawan anggur tak
sanggup menghapus dahagamu yang purba
sedang perih luka yang
kau peram berabad lamanya
lebur bersama kilauan
bintang-bintang
—lidah keluh
tenggorokan tersekat
kaku
dan kinipun kita
tersadar
ditengah hiruk pikuk
lalu lintas yang berseliweran
dan sumpeknya aroma
politik yang saling menghimpit
dan menikam
sedang kota yang centil dan rajin berdandan
terus berlenggang dan
terus berlenggang
—masih pentingkah arti
sebuah kemenangan
sedang mengalahkan tidak harus dengan
saling membunuh
nyanyikan lagi untukku,
pintamu
sebait puisi cinta yang
mendayu-dayu
agar tuntas sudah
dendam asmara
yang menindih dadaku
—dalam bayanganmu
sepasang kekasih asik mansyuk berdansa
dalam buaian sinar rembulan
Ali Akbari
Ritus Pengantin
kasihku, pengantinku
kita serahkan saja
semua pada musim kali ini
ketika langit pasrah
dan tanah basah oleh air mata
—dengan tanganku yang
legam ditempa cuaca
akan kita bajak bersama
ladang-ladang
persemaian di bumi asing
tempat kau taburkan
benih cinta kasih yang putih
kasihku, pengantinku
akan kita bangun
bersama
rumah persinggahan di
negri asing
beratapkan rumbia dari
helaian rambutmu
sedang tihangnya dari
tulang rusukku
bunga-bunga bermekaran
di taman hatimu
kasihku, pengantinku
akan kita tempuh
bersama, perjalanan tanpa peta
menelusuri semak
belukar, lembah dan rawa
—peradaban yang
dibangun dan dihancurkan manusia
usah kau risaukan lagi
jalan kembali
kasihku, pengantinku
akan tiba juga saatnya
ketika daun jatuh dan
bunga-bunga berguguran
seribu malaikat
menghantarkan pengantin pulang
ke kampung halaman
abadi
dan mempelai itu adalah
kita!
Langganan:
Postingan (Atom)