Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 September 2013

Puisi untuk Negeri

Alam pun Bersaksi Dahulu ada kehidupan yang tak dapat dipungkiri Lalu dari waktu ke waktu zaman pun telah tersakiti Gelora juang seorang pendiri hanya jadi kisah di laci memori Kisah sepenggal kehidupan di pesisir cinta sejati Kenangan indah telah terpatri Di alam yang turut bersaksi Kiranya history telah hidup kembali Pasti para pengabdi bersuka hati Kisah ternyata hanyalah sebuah cerita yang dibumbui Oleh secercah sejumput harapan yang tak pasti Padahal alam pun telah bersaksi Untuk menjadi pelajaran hidup yang penuh arti Itulah kehidupan yang tak pernah berbohong diri Kisah sang ksatria sejati ditelikung oleh lika-liku penuh duri Dunia pesisir cinta sejati andil melahirkan sejuta misteri Dan Ilahi pun tak pernah ingkar janji Alam turut bersaksi bahwa hidup penuh histeri Gelora hati tuk tak tersakiti dikebiri saudara sendiri Ingin mengabdi digoda oleh kelalaian diri Cinta di pesisir jadi tak lagi sejati Dermayu, 8/2/2013 Pikirannya Tak Secerdas Hatinya Jagalah hati kau pasti berbakti Akalnya hanya diminta untuk mengerti Dunia sungguh tercipta dengan kehendak Ilahi Azab-Nya pasti mengikuti Berbekal kecerdasan saja sungguh tak cukup mendalami Cerdas akal seharusnya hatinya juga melebihi Akal dan hati bukan saling memusuhi Diperintahkan untuk saling berinteraksi Pikirannya tak secerdas hatinya duhai para pengabdi Ada Dia Yang Maha Suci di dalam hati Bukan kebanggaan diri Allah bersemayam di hati Hanya Dia-lah yang patut dipuji Bercerita tentang hidup di negeri sendiri Dahaga terasa jika tak mengenali Asmara pada ibu pertiwi harus sampai di kedalaman hati Sebagai tanda bukti cinta sejati Memanjakan dunia di negeri sendiri takkan bisa abadi Pada hati yang cinta Ilahi akan hadir senyum berseri Pikirannya tak secerdas hatinya duhai pemuja Ilahi Adakah dapat dimengerti? Dermayu, 9/2/2013 Sejarah Pesisir Cinta Sejati Kulihat dalam tatapan nun jauh dari pandangan Terdengar berita yang menjelaskan penuh makna Perihal pesisir cinta sejati di keharibaan Sulit untuk dibuktikan tapi jelas dalam suka cita Derai air mata sang duka dalam pengabdian Sosok kesucian dalam keheningan derita Dihamparkan bukti akan adab dan kesopanan Bukan lahir dari angan yang hampa Perhatian terhadap keluhuran dan kesucian Sandaran dinamika dalam kehidupan alam yang nyata Bukti sejarah yang menyulitkan Bila dihampiri dengan bisikan sang durjana Aku pun tersadar dalam bungkus kebahagiaan Bahwa kelak lahir bumi pesisir dalam hamparan cinta Terikat kuat dalam kebahagiaan dan kemuliaan Sejak lahir kemurnian cinta yang membahana Sejarah pesisir cinta sejati bukan hayalan Bukan pula karena keinginan yang merana Telah terurai dalam untaian kitab yang dirahasiakan Di luar dunia yang tertangkap tatapan mata Dermayu, 10/2/2013 Asmara dalam Duka Seolah tak kumengerti Ada duri dalam diri Kelu lidah tuk mengakhiri Sayatan sembilu dari kampung sendiri Banyak cerita yang kualami Dalam hidup di dunia sang pemimpi Sudah lama kutersakiti Dari seorang yang tak tahu diri Sehat sejahtera ada dalam sanubari Padahal hidup di negeri sang pendiri Bukan takut tuk menghadapi Lebih baik tak menghampiri Asmara dalam duka begitulah yang dialami Seribu kata tak berarti Di masa kumenanti seorang pengabdi Dalam rindu yang tak terobati Berdoalah duhai putera sejati Allah pasti kan menemani Dunia bukanlah ladang tuk meratapi Setiap wujud yang tak ada harga diri Asmara dalam duka begitulah hidup di dunia mimpi Cukup sudah tuk tersakiti Dekapan cinta yang dinanti Senyum luka tetap berseri Dermayu, 10/2/2013 Belaian Sang Ilahi Apalah arti hidup saat dikejar tak pernah berhenti Detak jantung pun takut mengomentari Bilakah hidup terus berlari Jika hanya mimpi menguasai materi? Celaka oh celaka bila itu yang terjadi Sadarlah para sang pemimpi Ada cinta yang harus dicari Damai hidup dengan belaian Sang Ilahi Negeri ini diliputi penuh misteri Ada banyak harta yang bermateri Tidak juga dapat mencukupi Derita lama tak pernah berhenti Adakah yang mau mengabdi Berbekal cinta tanpa menyakiti Inilah yang dicari Allah pun ridho menghampiri Wahai anak negeri Kita butuh belaian Sang Ilahi Agar hidup menjadi semakin berarti Bahkan negeri mengamini sendiri Mustahilkah dapat terjadi Ataukah itu hanya dongeng dalam mimpi Belaian Sang Ilahi bukan tak pasti Terukur dari cara kita mendekati Negeri yang bermateri menjadi misteri Jika didekati tanpa menghayati Kejarlah belaian Sang Ilahi Hidup pun di negeri ini tak lagi bermimpi Dermayu, 11/2/2013 Menuju Kemakmuran Mungkin ada baiknya tuk mencoba Adakah sebuah perubahan dimulai Ah itu boleh jadi merupakan suatu usaha Hidup memang harus silih berganti Jika diam mustahil perubahan ada Gayung bersambut diiringi niat suci Derita lahirkan manusia binasa Bila berganti maka ada sesuatu yang pasti Dunia bukanlah panggung sandiwara Petikan cinta dalam sanubari Ada kata yang terlupa Bahwa hidup hanya untuk mengabdi Alam ingin disantuni belaian cinta Kemakmuran pun bukan tak pasti Walau sedikit tangan menggoda Ada Ilahi yang selalu mengawasi Wahai insan yang hidup penuh derita Buka mata dengarkan hati Salam sejahtera nun jauh di sana Ada berita suka cita yang dinanti Menuju kemakmuran hidup di dunia Ajal menanti tak tahu pasti Jangan biarkan hidup merana Sambutlah mentari di pagi hari Sudah lama kita berjumpa Tak juga bersimpuh silaturahmi Walau hanya sementara Banyak makna yang dapat dicari Menuju kemakmuran penuh bahagia Ada di dalam kebijaksanaan Ilahi Kejar hidup bertambah merana Bila berlari tak setulus hati Menuju kemakmuran sumpah setia Tak boleh ada ingkar janji Walau sedikit harta menggoda Bakti setia dibawa mati Ada duka ada suka cita Tak perlu ada iri dan dengki Allah sedang mencoba Siapakah yang sungguh mengabdi Dermayu, 13/2/2013 Ladang Dunia di Pesisir Cinta Sejati Kuhargai kekayaan negeri Alam berlimpah tak habis tuk dimengerti Ladang dunia di pesisir cinta sejati Lumbung padi yang beraneka materi Melampaui kilau dunia bagi sang pemimpi Ada banyak di negeri ini Ladang dunia di pesisir cinta sejati Aset pengabdi sampai ke luar negeri Banyak orang menghargai Kilau dunia yang dinanti Ladang dunia di pesisir cinta sejati Ada itu dan ini masih terselimuti Tuhan selalu menepati janji Jika negeri tidak dikhianati Ladang dunia di pesisir cinta sejati Pesona indah bagi para pengabdi Semburan ombak rahasia Ilahi Seribu pulau penuh misteri Ladang dunia di pesisir cinta sejati Kekayaan alam yang tak tertandingi Tidakkah kau mau mengerti Seru alam tak pernah berhenti Ladang dunia di pesisir cinta sejati Sudah siap untuk dinikmati Cukup sudah tuk mendustai Alam pun pasti senyum berseri Ladang dunia di pesisir cinta sejati Tawarkan hidup penuh berarti Perlukah hidup dalam bingkai mimpi Sakit pun tak terobati Ladang dunia di pesisir cinta sejati Bahagiakan insan yang tahu diri Jagad raya milik Tuhan Yang Maha Suci Tak perlu hidup jika mati di lumbung sendiri Ladang dunia di pesisir cinta sejati Dipersiapkan untuk para pengabdi Dermayu, 16/2/2013 Satu Kata Dalam Hati Gemuruh ombak diterjang badai Denyut nadi tak terurai Sedikit kata banyak arti Meski orang tak banyak mengerti Lagu cinta di dalam hati Seru alam bagi pengabdi Siapa yang tak tahu diri Akan mati terasa disakiti Satu kata dalam hati Menjadi obat yang abadi Teringat Allah sampai mati Pasti tak ada yang mengelabui Sudah hampa tak berarti Tak ada pula kata dalam hati Meski hidup laksana mimpi Tidak juga ada yang abadi Tapi hidup bukanlah mimpi Selembar kain tuk menutupi Jika hidup menjadi berarti Allah pun rido mendekati Beribu kata dapat dicari Sulit juga tuk dimengerti Satu kata dalam hati Buka tirai yang menyelimuti Satu kata dalam hati Hanya Allah yang dinanti Biar hidup tak lama lagi Agungkan ILahi tak boleh berhenti Dermayu, 16/2/2013 Pada-Mu Kumengabdi Sejuta dajjal selewengkan diri Ada iblis bergegas lari Petir pun berhamburan menghancuri Segalanya takkan abadi kecuali Dia Sang Ilahi Merajut cinta di dalam hati Sujud tersungkur menangisi diri Apalah arti bertinggi hati Jikalah mati dikerubuti iblis berduri Pada-Mu kumengabdi Jelas sudah keagungan-Mu ya Ilahi Takkan ada yang menghalangi Apa pun yang Kau kehendaki Pada-Mu kumengabdi Dihamparkan kemuliaan diri Biarlah orang tak memahami Bagiku hanya Engkau di hati Alangkah indahnya penduduk suatu negeri Abdikan diri untuk menjadi saksi Pada-Mu kumengabdi Begitulah seharusnya terjadi Dermayu, 16/2/2013 Salam Sejahtera Untuk Penduduk Negeri Dari kebahagiaan abadi Disampaikan salam sejahtera dari pendiri Untuk penduduk negeri yang berbakti Janganlah duka bersedih hati Tuhan kan terus merahmati Kebahagiaan yang sudah pasti Untuk penduduk negeri yang menjaga hati Jangan lupakan bahagianmu kenikmatan duniawi Salam sejahtera bukanlah basa basi Untuk penduduk negeri yang cinta sejati Kelak Allah kan menepati janji Hidup makmur loh jinawi Dari Dia Yang Maha Suci Salam telah disampaikan melalui hati Janganlah berbangga diri Apalagi sampai menyakiti Salam sejahtera untuk para pengabdi Yang telah hadir di negeri sendiri Teruslah dengan sepenuh hati berbakti Allah pasti kan memenuhi Dermayu, 16/2/2013

Senin, 26 Agustus 2013

Puisi Yohanto A Nugraha

Yohanto A Nugraha Biografi : Yohanto A nugraha alias Gatot alias Abuk alias Lie Keng Hoek kelahiran blok pecinan, desa Karanganyar Indramayu 18 februari 1955, menulis puisi sejak tahun 1974 pernah dimuat media daerah dan pusat, membentuk komunitas sastra KREASI tahun ’80 dan menyelenggarakan lomba-lomba dan diskusi sastra menggarap beberapa naskah drama dan monolog, pernah mengasuh ruang sastra di radio cindelaras, RSPD kabupaten indramayu, pernah menjabat sebagai ketua umum dewan kesenian indramayu periode 2004-2007 ,tapi hanya satu tahun dia menjalaninya ……. dan kumpulan puisinya “resonansi sepanjang usia” [komunitas bantaran, 2009] “Aku Akan Pergi Ke banyak Peristiwa”, [Antologi 9 penyair jawa barat oleh budpar jabar, 2005], “orasi sunyi” [Formasi, 2005], lagu matahari bersama Kijun [DKI, 2004], Resital puisi 11 penyair indramayu [Dewan Kesenian Indramayu, 2001] JURANG bersama H, Ope Mustofa [Formasi, 1999, “kiser pesisiran” [Forum Masyarakat sastra Indramayu, 1994] tanah garam [Kreasi, 1992] sekarang sedang merintis antologi penulis puisi tunggalnya “ lirik airmata alias puisi sms ” dan mendirikan komunitas seni“bantaran” di blok; talang tembaga gg. Cempaka Rt,23 Rw,01 Lemahabang Indramayu, Jawa Barat. mobile 085314921581 dan beristrikan seorang wanita bernama jumiatin dan berputra ; samsul, lukman, mustika wijaya dan adi adhari a nugraha dan bercucu farah annisah haya, bayu dan hafiz dan sekarang bergiat di forum masyarakat sastra indramayu atawa formasi. RITUS PENGANTIN - kepada jumiatin memandang hujan pada matamu seribu lukisan tergantung mengirimkan pesan kemarau lewat telepon yang berdering di kamar menggenapkan kekalahan atas kesunyian waktu terlalu lama kita berdusta pada musim mengetuk percakapandi beranda hujan mengabutkan airmata dan mengisyaratkan gerhana. hari memberat menggantungkan impian masa kanak-kanak dan kau jadi batu pada kediamanku seperti setiawati bagi narasoma membuka padang-padang tertusuk ilalang terluka kubasuh sepanjang kelengangan dan airmata terus mengguncang hatimu penuh genderang kuru setra dalam cawan darah kulangkahkan mahar atas ritus ini Indramayu, 1991 ZIARAH API : bagi sp. hidayat - 17 mei angin membawamu dalam hening wisik dan kau pun mengukur usia sejarah berlari menjaring mitos perempuan runtuh kebalik ranjang pengantin tapi kau tersenyum atas limbah pabrik inikah kutuk yang dijanjikan ki tinggil atas ranah moyangku kau pun ngembara ke kota-kota bersama mimpi wiralodra dalam undakan dan lipatan romantisme nyi ending dan senja pun lindap bersama kesakralan sambil bercumbu bau leher san gairah cinta bak gurun sahara sakramen ini harus kita sudahi kita pun saling bertukar piala seperti bangsawan dan pangeran abad-abad silam lihatlah aku pun telanjang membiarkan tubuh mempersimpit jarak bukankah ini yang dilakukan bapak adam dan ibu hawa mengajarkan kita tak takut-takut untuk saling melukai dan ingin kuceritakan kepadamu tentang retorika kisah purba - jayaprana-layonsari - jaka tarub - rama-sinta romeo-yuliet atau kesetiaan yang sia-sia oidepus - cleopatra bandung bandawasa diantara nugraha yang tergusur atas prasangka buruk dialirkan jantung jiwa bukankah prasasti itu tak kalah penting dengan cerita asmara ala yasunari Kawabata - tolstoy atau tarian mabuk para darwis jaman rummi - 17 mei bulan mengantarmu di lirik bidadari-bidadari Menebar kasmaran dan sebutir bintang dalam pelukan bersama gerimispada loncatan detik dan kau pun berbisik tuntaskan tangis sejarah dan angina senantiasa menyebarkan aroma kemenyan mencari memedi sawah berlarian sepanjang galengan dan bentangan cimanuk pada kanvas menterjemahkan mitos kijang yang membuat sarang pada tumpukan gabah. basah rambutmu mengobarkan birahi berapa harga kesetiaan cinta pun jatuh seperti bola api selebihnya lenyap di telan plaza diskotek dan semerbak diodoran bagi nasib seorang pemabuk tanpa kartu pengenal dan yang kurindu adalah gaga semangka tanpa harus membakar pesawahan aku takut pada keluguan batapa auranya akan mengalirkan limbah pabrik - polusi dan orang-orang saling memperkosa tanpa tangis lalu mereka berlomba di tengah peradaban gelombang perang dengan pelana abad lupa diri hingga teratai di kolammu gemetar yat kemana kau sembunyikan wajah kami pondok cabe, 2006 HUJAN SORE HARI - wr dalam catatan dalam hujan sore hari dan dingin sudut-sudut kamar yang bersijingkat mencari mata pisau sungguh aku lupa siapa yang memindahkan wajahmu memaksaku merabah seluruh tubuh menarik kepusaran yang paling jauh dan asing kukira engkaulah peri penggoda matamu memancarkan seribu telenovela berenang mengarungi lautan bercampur limbah yang kian mengubah wajahmu sebab aku hanya daun terbawa arus atau kumasuki mimpi wiralodra yang kasmaran menanti nyi endang mandi besar setelah perang tanding yang membuncah diantara bantaran. sebagai tanda bahwa disini telah ada bencana dihamparan baro-baro yang luka dan amis darah pinangeran mengubur kesombongan selendangmu tak sekedar berkibar tapi terbang membawa kunang-kunang yang gemerlap meski padepokan itu harus kau hancurkan tapi jangan kau seret aku dalam peristiwa aku hanya sayap kata-kata dan perkenankan puisiku melingkari persetubuhan sebab aku sulit membedakan malam dan siang meski ricik airmu menjelma lembayung dan kukira aku telah melukai dengan kata-kata pilihlah dimana akan kau tancapkan cakramu agar melengkapi kesempurnaan hidup dan terbebas dari dendam masa silam seperti engkau usung prasasti negeri ini sebab birahiku membias diantara jalan-jalan yang menghubungkan jambangan bunga dan menawarkan kenyamanan meski arusmu tersumbat merekalah milikmu wajah api yang membakar pesawahan dalam hujan sore hari Indramayu; revisi 1999 [ atas bundanya anakku ] REQUIM - atas bunda - ada sisa percakapan di sini mengering perih kembang soka luruh bertahan dari bisik waktu yang di-kristal-kan menggeliatkan kenangan senja kelam dan gerimis pun mengucur begitu dingin malam mengantarkan benih yang tak sempat di-sema-ikan dari kebekuan hati dan angan-angan yang terserak mengusik ketenangan romantisme pasir pantai sementara angin pun semakin lelah mendorong perahu ke muara- ( - lie kiem hwa ) Indramayu, 081992 LIRIK AIRMATA - kepada farah anisa haya sudah terlalu lama suaramu kumimpikan bersama gerimis hingga kedinginan. subuh mencairkan gema adzan terkubur diantara lorong-lorong jiwa yang luruh menterjemahkan keperihan hati di tawarkan airamata orang-oranga berdoa begitu suntuk bagi burung-burung melintasi rawa-rawa sebelum fajar meninggalkan nyanyian berlebih hurup jadi bagian kehidupan selalu kau tolak masa silam mengantarkan aroma melati berloncatan sepanjang rakaat bagi sujud dan tangisan membentang rindu di tuliskan cuaca menjarah kesejukanmu annisa ingin keteriakan retorika kehidupan yang tak habis-bahisnya membongkar kengerian diendapkan bianglala mengirim bulan atas hati yang koyak disini ingin kugulung semua impian bagi peradaban yang ditawarkan berjuta virus Talang tembaga revisi, 2001 DISINI ADA KENANGAN YANG MEMBIAS DIANTARA GEMETAR HUJAN diantara bantaran kita pun bisu kemana puisi yang gemetar dan engkau pun bersijingkat menawarkan arus yang tersumbat melukiskan aliran sungai sampai muara yang membentang sebab esok akan datang lamaran arya wiralodra kasmaran menterjemahkan lontar terbakar birahi kesumat membunuh segala romantisme disini ada kelahiran yang sungsang bagi kanak-kanak tumbuh dan besar bersama limbah tapi dimanakah janji ratu adil yang kau corongkan siang dan malam atas tepian sungai sepanjang tahun yang akan mengencangkan tubuh aku pun lindap dalam gemuruh pabrik dan ribuan pohon tumbang bersama angin puyuh membawa mimpi orang-orang atas tahun lalu jadi kering karena musim telah mengasingkan segala cuaca kau pun berkerut wajah menguraikan segala rindu yang mengeram kesunyian telah menjadi aneh dan kita pun mengaji diantara hiruk pikuk reruntuan kota-kota bagi perjamuan kemana kau simpan wangsit yang dulu mempertemuakan ki tinggil dengan seekor kijang tersungkur di hamparan suket teki biarlah semuanya menjadi ricik air dan nista sejarah yang menggelinding dan menyelinap diantara tapak-tapak ranah moyangku meratakan mimpi kanak-kanak berulang kuwartakan cinta ini dengan airmata para penziarah mengusung prasasti wiralodra yang kehilangan cinta abadi telah lama kutampung kutuk ini dan kemana sirnanya amarah yang membakar ‘gandulane ati’ cintamu sempit menjelaga sungguh ia serupa lembayung sambil kulafalkan lagi mantra yang kau ajarkan di malam-malam sehabis gerimis tuntaskan nyanyian para pendusta ini serupa candu masa silam dan angkara melibatkan kejumudan dan jangan sebut ibu di tanah ini yang telah membunuh artefak moyangnya dengan siapa akan kumaknai pelancongan ini dan seekor kijang melintas kau pun jatuh cinta di bawah tekanan mimpi memeras keringat orang-orang yang mengusung ajal tak ada siapa pun disana dan namamu bagai fatamorgana semua cermin membayangkan senyum hingga kau dapat menemukanku disini diantara debur ombak yang kian menepi seumpama angin berpusar sebagai riwayat yang menyalalakan mata angin dan kau pun bersikeras mewartakan kembali tentang pangeran selawe gugur sebelum waktunya lalu kau pun melupakan tapak-tapak sejarah yang menyelipkan surat bagi kanak-kanak yang kita lahirkan bersama seperti bantaran yang tak memberiku makna perjumpaan dan membiarkan kenangan indah bagi seekor kijang jadi prasasti dan puisi telah memberiku kesepian bersama kelengangan sebab arusmu terbendung dengan segala gelombang seperti ingin menanggalkan tubuh jadi santapan para penziarah inilah kado kelahiran muncul dari sumur bidadari dan bayangkanlah bulan sepotong memberi warna cahaya diantara tepian sungai bersama cericit burung merayayakan kemurnian pohon-pohon sepanjang bantaran menyuapi orang-orang bukankah engkau mendengar desir angin hingga kelopak matamu nanar menghujam bagai panah pesopati milik penengah pendawa bukan cerita sejarah membuat kita disini mencermati hamparan ilalang lalu kutemukan irama hidup yang sekarat menahan limbah dan matamu masih saja sembab begitu banyak harapan dan impian yang tergambar pada lingkaran alis mata penuh pesona engkau pun menjelma kupu-kupu dalam rongga masa silamku serupa gelepar jiwa dan sekali waktu perasaanku memeras doa-doa kupejam mata mendengar erangan bantaran di kepung seribu bulldozer atas udara kecut berselimut aroma solar baiklah kujalani kutuk ini untuk menyediakan ruang bagi bayang-bayang kekinian sebagaimana aku harus mengenangmu dan tak bisa kulukis wajahmu yang selalu menutupi perjumpaan selalu melilitkan persetubuan dan mereka tuangkan pada sawah ladang yang kian gersang karma cerobong pabrik inilah potret kemajuan yang kau impikan disini adakah gemericik air hujan membasah kita pun mandi besar dalam darah orang-orang melawan arus kebijakan dan keangkuhan telah jadi racun yang mereka wariskan sepanjang malam membayang wajah pesisirmu di balik lentera jalanan seperti kenduri nenek moyangku yang bersemi dalam laku lampa menebar aroma garam mengucurkan doa bagi langit membuka rahasia dan kita tuai rasa perih kanak-kanak mengedepankan segala keinginan dan kerinduan serupa muara menampung tekanan mimpi siang hari dari lapar jiwa setiap detik mengeja ajal sekarat menahan limbah dan dengan siapa transformasi ini melindapkan penyeberangan aku mabuk melangutkan segala mimpi sungguh aku luput menangkap larutan dan membuatmu murung pada usia yang memar seperti jantungku penuh dendam menahan cinta dan angin selalu menerbangkan satu teriakan tiba-tiba seekor kijang tersesat di super market mencari wewangian dan engkau pun beringsut bersama debu-bedu yang menebal pada kaca tapi kemana embun yang menyebarkan dingin subuh meruap diantara para pelancong membuka tubuhnya seperti cahaya menyelisik menyingkap gelap malam bersama desir angin dan rumah baru yang suwung seperti yang kita impikan di malam-malam ketika gerimis turun perlahan pada dahan mati sayang engkau tak paham meski senyummu di menolak mengabarkan percintaan ranjang pengantin disini aku mewarisi kegamangan rindu batang khuldi kemana kanak-kanak kau ungsikan atas kandungan sungai yang kau kuras bersama deru buldozer sebagaimana hidup di bangun dengan keangkuhan meruntuhkan malam diantara kuburan dan engkaulah peri penggoda di remang sunyi yang tiba-tiba menghembusan angin lembut dari arwah yang berlabuh menahan debur ombak sepanjang pantai aku jadi ingat wanita yang menyimpan segala misteri untuk terus saling tidak percaya aku akan tetap membuat sajak jauh kedalam tanah tapi nasib berkata lain inikah kutuk itu sampai tak tau jalan pulang seperti ikan-ikan mabuk dan sejarah selalu berulang bagi asmara sebatas beton lantai lembab dan kegagalan adalah formula tuk membangun impian masa remaja yang gemilang sementara kini aku hanya membias menyimpan pantulan wajahmu demikialah hidup berawal menyadap ajal dan dan membakar ladang-ladang yang dinistakan orang-orang dan kubaca arah angin kemudian kubangun impian dengan nalar atas gairah cinta yang terus bergumam aku mabuk sepanjang bantaran dan tapak-tapak sejarah telah kehilangan aroma padahal pahlawan sudah lama gugur engkaukah yang sembunyikan primbon atas ribuan wajah datang dan pergi terlanjur menyatu dengan riak sungai yang kehilangan aromanya atau rumah tanpa jendela lantas apa yang akan kukabarkan bagi penantian ini aku pun berdoa atas orang-orang mendenguskan kematian di jalan-jalan yang tiba-tiba seperti sebaris sajak chairil menuju pelabuhan demi pelabuhan menggenangkan arwah wiralodra tersimpan berabad lamanya dalam kegelapan menyelimuti bumi moyangku diantara gerimis dan tetesan airmata mengalirkan limbah yang membakar inilah kemurungan yang kian larut dalam hujan sore hari dan tak ada upacara atau kenduri disini lembayung surut mengaburkan cahaya wahyu yang dijanjikan sejarah aku tahu kau yang menghilangkan riak air dari hulu serupa bayang-bayang subuh tergantung dan kita pun sepakat mencari bantaran yang layak kita taburi benih cinta dan tak selamanya kepura puraan mengasah dendam yang menyala diantara masa silam berkubang dalam lendir sekali waktu terbayang wisata jalan raya penuh birahi atas panorama meski kita tuntaskan sebelum malam mendesak untuk tak takut-takut bahwa kenyataan bukanlah beban maka kubiarlah jadi kenangan dan selalu ingin kutulis namamu dalam lembaran retorika kehidupan Indramayu, 2007. VIBRATION OF THE FISH ; bagi dirot kadirah - dalam bentangan abad-abad yang terbakar ikan-ikan menanggalkan karang memaksaku membaca kembali mantra ki tinggil atau memimpikan negeri gemah ripah loh jinawi sepanjang bantaran yang gelap lindap lautmu membawa duka lara dan penziarah itu mencari jejak sejarah entah bagi siapa perburuan ini masa kanak-kanak yang tergusur dari keluasan laut dan layar terkembang atas cadik bagi perahu saat menjaring harapan diantara limbah sesajen melarungkan gasing berputar putar merotasi mimpi pulau dewata dengan aroma kemenyan mungkin nenek moyang kita sama tapi kemana tangis orang-orang mengusung lapar bersama gairah kepedihan cuma pengantar ikan-ikan bagi nelayan menyuarakan kesengsaraan di jalan-jalan menuju pabrik sambil membentangkan selendang mayang hingga bantaran semakin tenggelam bersama sungai-sungai terkubur otak penguasa yang tak paham aroma sejarah. ia hanya mengabarkan banjir bandang bagi tubuhnya menguapkan bau tanah dan kematian ikan-ikan di pasar kau pun berhias diri sebelum kehilangan hunian dan kubaca kembali primbon nenek moyang namamu ada rohani yang ngembara dan seharusnya kau sembunyikan diantara kemarahan ikan-ikan dan wanita yang kehilangan suami kau pun mengeja hari-hari yang suntuk kenapa kita jadi budak jaman yang di pertuankan atau dituankan dan kau pun tak mau kehilangan raga kamana kau kirim kado perkawinan seekor ikan sungguh aku tak menerima apa pun dan kau pun bukan wiralodra bercinta dengan nyi endang dan siapakah yang semedi dalam gua garbamu membiarkan keringat menuntaskan segala kenangan dan kau pun menuai percintaan sepanjang arus cimanuk bersama ikan-ikan terjegal tilu braja bagi masa silam yang memetakan segala peristiwa berulangkali menyuarakan aura sungai-sungai saling melilitkan nasib aku mencintai dengan segala jiwa katamu sambil menelanjangi ikan-ikan yang sekarat bersama limbah Talang tembaga, mei 2006 METAFORMOSA - kepada, candra n pangeran 1. anjani darah kesadaranku membias diantara suara-suara gamelan jadi telaga dzikir bersama orang-orang yang menyuarakan kesengsaraan musim sepanjang pantai atas bibir gelombang mengubur prasangka buruk dialirkan jantung jiwa bagi seorang kekasih begitu tabah menata airmata sementara kanak-kanak berlarian diantara pusat-pusat informasi bangkitkan parikesit atas semar-semar jalanan dan kita pun membuat persimpangan demi persimpangan menyemarakan pesta kembang api dalam gumpalan kerinduan melengkapi pembusukan nurani mengerami sejarah moyangku diantara limbah pabrik dijejalkan teknologi 2. anjani waska yang tercipta dari lendir kesadaran nurani telah membangun berhala dan menjelma angka-angka statistik atas rindu sejarah ruangtamu melangutkan gerimis sore hari hingga isyarat yang kau janjikan lenyap bersama embun semalam jadi padang-padang perburuan diantara pohon-pohon cantigi sepanjang pantai yang terluka dan tubuhmu menyengat di celah-celah kegelisahan mengiringi diammu menuju konspirasi demi konspirasi tapi disinilah kau dapati kehangatan masa silam yang menyapaku setiap pagi atas cakrawala kelam menghubungkan fatamorgana kedalam kamarku penuh birahi 3. anjani suaramu membakar amarah orang-orang yang kini jadi momok membentangkan kesunyian waktu terbaca jejakmu diantara kilatan kramik dan sisa tumpukan masa silam meliukan gairah semar-semar pun tersenyum menangkap sorot matamu penuh dendam atas derita rindu diapungkan doa seperti ricik hujan yang membakar sementara tubuhmu membuat petak umpet bagi persinggahan airmata yang berputar-putar atas dinding rumah kontrakan lewat sentuhan-sentuhan yang tak kau sadari bergerak dalam tubuh kami membuat lingkaran seperti matahari dalam sakramen ini Indramayu, 2002 GERIMIS 1 gerimis pun menyapamu diantara senja yang muram tapi dingin menyebarkan aroma cimanuk yang meranggas. barangkali ini sebuah kutuk atas mimpi-mimpi tentang perjalanan ki tinggil yang membakar hutan belantara disini sajadah yang kau bentang di pelarungan rumah itu dan rambut tergerai basah oleh embun semalam telah menitis dalam tidurku sayang kita melupakan mantra-mantra yang diajarkan sejarah melingkar-lingkar sepanjang bantaran dan suaramu kudengar lewat debur ombak mengantarkan kepiting dan umang-umang menyusuti kebisuan karang disini di sungai inilah kau pertemukan nyi ending dengan airmata kasmaran mengeja hari-hari penuh harap dan kenangan yang menyelinap kedasar kepedihan orang-orang. 2 gerimis itu menyapamu sepeninggal senja yang kini menjadi bendungan seperti engkau menerima kutuk dan luka yang dimitoskan sejarah telah mewarnai gemerincing waktu berutar-putar melewati jalan-jalan yang menghubungkan kedalam dadamu penuh ramalan.ratu adil sambil mengintip nasib orang-orang terusir aku baca kemabali lontar atas bingkai jendela yang kau hadirkan dalam mimpi semalam akulah sipemabuk yang mengubur dirinya sendiri karna tak mampu menterjemahkan perih dan mengepakan resah cinta atas peperangan di ranah moyangnya akhirnya aku membangun juga persinggahan demi persinggahan walau aku ragu akan makna persinggahan bagi dirimu yang berjalan sepanjang sujud dan rakaat 3 gerimis itulah yang menghadangmu atas kesenyapan waktu mendesirkan rasa mengusik jantung penuh batu-batu. ingin kuziarahi seluruh masa silam agar sajadah yang kau bentang mampu memeberi penerangan jalanku disini disepanjang bantaran yang tak memberi makna sejarah dalam tubuh yang terbungkus selendang mayang berwarna kuning keemasan membuatku rikuh nyi ending pun tersenyum menapsirkan bunga-bunga tumbuh di petilasan itu kau lihat matahari di kanvasmu penuh warna kesunyian melepas segala beban kerinduan dan “hidup hanya menunda kekalahan/ tambah terasing dari cinta sekolah rendah/ dan tahu ada yang tetap tidak diucapkan/ sebelum pada akhirnya kita menyerah”......... “) sajak chairil anwar “derail-derai cemara” Revisi, 2009-2000 KAU PUN BERLARIAN DI RICIK HUJAN - catatan bagi affin riyanto kau pun berlarian diantara ricik hujan di subuh jingga tapi tak kutemukan sendu pada wajah dan angin selalu melucuti sisa gemetar pada detak jantung yang menggemuruh pada sebuah cuaca menyatukan segala kehendak melukiskan takdir dan hanya kerangka yang harus disempurnakan dan kau pun diam memaknakan goresan pada kanvas membentang seperti pelaut yang kehilangan peta moyangnya membias jaman bagi kesakralan aku masukan nama nama saat keringat orang-orang bertutur sapa seperti para aulia memendam segala prasangka yang dialirkan jantung jiwa atas pengembaraan abadi melayarkan segala kenangan hidup melepas laut pada usia lalu dari balik kobaran api munculah wajahmu penuh pesona kemana kau kubur cinta yang dulu mengajarkan kita tak takut-takut mengarungi limba belantara inilah hikayat ranah moyangku menjadi rawa-rawa tandus dan sungai yang tersumbat dari ujung perkampungan atas perdebatan selalu tak berujung inilah masa panen yang memotong kelamin orang-orang saat burung-burung melintasi harum padi dan sisa pembakaran disini dikedalaman tubuh yang menyimpulkan aroma duka lara mengantar mimpi orang-orang yang tergerus mengaliri birahi kesumat seperti bulan melanguti malam diantara mega-mega jadi menggemuruhkan makna diantara slogan sepanjang perkampungan bergantungan dan kau dengar suara yang menggelegar menjelma berjuta airmata dan luka sejarah bagi kanak-kanak yang menyusuri ranah monyangnya pada hari-hari menumpuk. adalah takdir yang menyelimuti rawa-rawa yang semangkin menjauh sebelum nyi endang terusir di tanah perjanjian hujan pun turun dari balik kelam hunian dan desir angin laut tanggalkan pesan kemarau menghapus nama-nama dan senyum yang membius engkaulah yang mampu menggoda malam pengantin pada persimpangan tak sempat mengirim doa seperti pesakitan digelandang ombak bersama hujan atas halilintar sampai kapan kutemui ujungnya dan dapat menjumpaimu maka kuhapal seribu mantra agar kering air mata atas gelap yan membayang wajah pesakitan justru ketika kerinduan mengelabui ziarah ini Talang tembaga 2009 Yohanto A Nugraha PISAU WAKTU : catatan bagi syayidin sr - narasi yang ada pada goresanmu mengabarkan ricik air kran itu membisu saksikan tubuh menahan beban gelombang. darahnya menyergap sudut kanvas menjadikanmu kelimpungan mengeja hari-hari penuh genangan pada kaca menterjemahkan sebera panjang doa lucan capulet menyisir padang perburuan “inilah panen raya itu” teriak jaihan sambil menutup mata chairil anwar terbaring diantara perempuan yang kehilangan mata dan hardi membentak bentak menempel wajah presiden tapi kekuasaan jatuh pada perempuan “akulah reformasi” sambil tersenyum surya palo menjelaskan persatuan dan kesatuan yang membingungkan kanak-kanak - narasi yang kau gelar kini jadi bunga bakung meliarkan mimpi wergul w darkum yang meragukan tepung kanji atas tubuhnya dan kita pun sempoyongan mendengar suling dermayon mewarnai percintaan atas genangan sampah-sampah tanggul cimanulk aku tersekap ketika kau taburi wajahku dengan lumpur kehidupan yang menjegal jalanku. bersama fujail kuusung keranda ayah ibu melewati kesunyian waktu maka kunyanyikan “requim aeternam deo” sambil membangun surau-surau di dalam tubuh kami dan matamu nanar menelanjangi kemiskinan diantara lautan airmata - narasi yang kau buat kini telah menjadi monster melintasi lautan dan membuat pulau-pulau kecil tempat kanak-kanak membangun romantisme tanah moyangnya yang tergusur seribu buldozer Talang tembaga, 2004 JAGAT ALIT - kepada wergul w darkum telah kau ziarahi kesepianmu diantara kilatan lampu pada aroma kemenyan. menggusur kelaparan nurani yang resah memandang gedung-gedung dalam cawan darah dan airmata membungkus salam kepada jagat membentangkan kain kafan meruatmu sedang aku memunguti masa lalu dengan menyobek almanak yang sekarat di makan waktu seperti pohon-pohon sepanjang panatai. kita mesti istirahat meluruskan badan dan mengencangkan segala impian kanak-kanak untuk kita jual televisi menayangkannya pada kesia-sian sajak membias wajah memar di jalan-jalan menuju pendopo. tergantung keasingan dan menuliskan angka-angka yang membakar cerobong pabrik seperti doa yang diapungkan gelombang. terbaca kesengsaraanmu pada pucuk daun kering luruh mengkristalkan kebohongan peradaban jaman masihkah kau menunggu suluk ki dalang yang memidurkan segala impian dan angan-angan terbuang seribu gunungan menututupi kecemasan kita pun terlahir dari rahin yang sama dan bumi ini akan menangis menyaksikan segala hujatan. bulan lengser bersama jerit tangis dan darah membusuk jadi tumbal sejarah Indramayu, 1998

Kamis, 22 Agustus 2013

Kumpulan Puisi 'OPE MUSTOFA' [Mantan Bupati Indramayu]

OBSESI Kala itu …….. mahkluk sempuma diciptakan-Nya sang Gagah perkasa penghuni sorga bahagia tapi sepi tanpa teman sejenismu Hawa dicipta dan iga sang perkasa awal dari suatu obsesi akhlak manusia mereka bersama bercita penuh ilusi cinta sang penggoda tidak putus ass agar mereka dan anak basil cinta membuat mereka tertawa syaitan …… sang raga …... merasa bangga ……. merasa empunya cita - rasa - karsa - harta - karya – kuasa katanya untuk semua bersembunyi ego pribadinya Akan halnya sang iga ia merasa sebagian darinya, lemah tak berdaya kadang dimanja - diajak bersama tapi - kadang dihempaskan pada posisi hina Entah dari mana mulanya iga itu berkuasa alpa akan kodrat den fitrahnya ia lebih dan sang raga merusak isi cinta terhempas badai petaka mengundang gelak sang penggoda Kenapa …….. raga tidak melindungi, memelihara, menutupinya.... dengan busana yang pantas baginya tanda rasa cinat penuh cita Mengapa ……… sang iga tidak ingin selalu bersama seiring melayari bahtera sambil melindungi ……… sumber detak hidup kehidupan dan selalu menegakkan sang raga agar tidak terbungkuk - bungkuk menyesali mempunyai iga yang rapuh tanpa daya pembawa bencana Kenapa tawa sang penggoda tergelak is merasa.......... pengendali penyalur petaka dan neraka yang selalu digjaya sampai akhirnya tidak ada lagi iga dan raga yang menuju sorga Ironis obsesi 'tuk menghentikan gelak penggoda tak mendapat sambutan den tempat semestinya Ach........... tidak tahu lagi aku mengapa   IBU .... DO'A KAMI UNTUKMU Di ambang fajar Idhul Adha embun bening menyegarkan bumi membasahi hewan qurban di halaman musholla, masjid dan gria diiringi takbir mengagungkan asmaul husna Sosok tubuh ibu penuh cipta, rasa, din karsa dipanggil kembali ke hadirat-Nya didampingi suami pemegang mandat bangsa Meninggalkan semua yang dicintainya di hari mulia seorang manusia mentaati perintah Tuhan-Nya tuk mengorbankan anak nan sholeh kecintaan ayah dan bundanya Ibu ... kau pergi tanpa berita sebelumnya Ibu ... kemarin kami masih menikmati senyum, lambaian tangan dan sentuhan kasihmu yang tulus Ibu... seakan tak percaya kami akan mata dan telinga, menerima berita duka di hari mulia Ibu ... Kami ingin sepertimu sebagai insan penerima dan pelaksana amanah berjuang dan mengabdi kepada negara, bangsa, suami, anak dan cucunda tercinta dengan sabar dan tawakal penuh takwa Ibu ... Kami ingin sepertimu berpulang menghadap-Nya dengan tenang di hari mulia tak membebani keluarga dan suami tercinta Membuat kami terhenyak den tersentak menerimanya Ibu ... tenanglah dalam alammu kini kami akan melanjutkan perjuanganmu kami akan jaga peninggalanmu kami berdoa untukmu selalu semoga ibu menjadi khusnul khatimah .... Amien Jakarta, 2 Mei 1996   SANG ADIPURA Konon dermayu di masa lalu Desa asri disisi bantaran Cimanuk yang lugu Rindang, tenang, dipagari padi yang kemuning Dermaganya ayu, nelayanpun tenang melaut dan memancing Lalu desa itu menjadi kota kecil penuh tantangan Ruang aneka ragam kehidupan Lupa menjaga ketenangan dan kerindangan lingkungan Banjir dan kering bergantian memperingati penghuni kota akan keacuhan den ketidakpedulian Jadilah dia kota yang terpuruk dalam kebersihan, ketertiban dan keindahan Perlahan tapi pasti ... Merekapun sadar dan bangkit dari ketinggalan Air - selokan - sampah - pasar - jalan dan lingkungan ditata ulang bersama-sama menyingsingkan lengan baju memerangi kesemrawutan ‘Tuk mengembalikan seperti dulu Asri - ayu dan rindang.   NUANSA AKSARA Lahirku serupa dengan mereka menangis dan tertawa karena rasa dan canda hanya mereka dengan kasih dan cinta menerima ilmu tuk mengenal dunia mereka juga masih menangis dan tertawa tapi dalam romantika kehidupan cendekia Sedang aku - dan aku lainnya Ada kasih dan cinta tapi dengan mereka aku kenal dunia terbata-bata aku menangis dan tertawa tetap karena canda dan rasa aku tak tahu ilmu melalui aksara Puji syukur kepada Sang Maha Kuasa sentuhan kasih kuterima dari insan yang Peduli kepadaku aku mulai tahu aksara dan membaca aku bisa menangis dan tertawa seperti mereka tidak buta dalam romantika dunia semoga anakku tidak seperti aku kelak dia harus sama dengan mereka   SAMPAH Kau dibuang – dicampakan dari mereka yang Mengambil manismu Kau memanggil......................... Perlakukan kami Manfaatkan kami Tempatkan kami Jangan tunggu kami murka memberi aroma busuk Dan petaka penyebab derita dan duka Akibat ketidakpedulian dan keangkuhan manusia Ingat..................... Kami tidak akan sirna Kami tidak akan lenyap Kami ada dan selalu ada Pedulikan kamiagar tidak terjadi mara bahaya Akibat perilakumu manusia yang melahirkan kami Indramayu, 4 Juni 94   RAPIH SERASI INDONESIA Dahulu....... 50 tahun yang lalu kau lahir Bayi indonesia dari ayah ibu perintis dan Pejuang di tengah kancah revolusi kemerdekaan Kini......... Kau tegak dan dewasa rapih menata diri Serasi menelusuri era kebangkitan nasional kedua Di tengah globalisasi dan teknologi Kelak......... dengan Tuhan Yang Maha Esa Kau akan tunjukan kepada mereka isi dunia Inilah indonesia......... Negara berjuta manusia adil pemerintahnya Makmur rakyatnya tegar pribadinya Diatas landasan Pancasila dan Undang-Undang Dasar ‘45 Bergaul untuk perdamaian dan kemerdekaan sesamanya -Dirgahayu Indonesia- Jakarta, 23 Agustus 95   BALADA SEORANG IBU Garis-garis wajah kerut bak grafis Proses alami liku kehidupan Artistik ciptaan illahi Menghias wajah menambah wibawa Insan-insan bertelapak sorga Kau lahir dan melahirkan Kau hhidup dan menghidupi Kau dicinta dan sumber cinta dan segalanya Pelaksana kodrat kehidupan Makhluk sempurna ciptaan-Nya Hari-harimu....... dilalui Penuh gejolak pertentangan hati anttara Cinta dan realita Panduan karya doa dan Balada kehidupan penuh rona Sumber cinta yang melukis Kerut panorama di wajah mulia Semoga Tuhan selalu bersamamu   CERITA ANAK MANUSIA Mentari senyum malu-malu terbit diufuk timur Sudut dunia membuuka mata anak manusia Dari kelelapan mimpi indahnya Mereka berdoa Mereka meliukan tubuh kecilnya berolahraga Bergurau dan beercanda peluh mengalir tak dirasa Membasahi persada Tanah tumpah darah tercinta Sang surya kian perkasa makin tinggi Menerangi alam ssemesta Anak manusia bersenandung ria bernyanyi-menari Dan berseloka menuntut ilmu memelihara budaya Cerita anak manusia sehat sejahtera harapan bangsanya Mentari perlahan sembunyi mengakhiri tugas suci Mengantar mereka anak ceria berdoa kembali Keperaduannya ‘tuk mengongsong mentari esok hari Dan hari berikutnya memberi kehidupan Alam semesta tugas mulia dari sang maha pencipta 23 Oktober 1995   BACALAH Gurun nan gersang ........ kejam Hutan lengang...... menakutkan desa terpencil Sampai tengah hiruk pikuknya Kota metropolitan Dalam suasana suka dan duka tidak mengenal Tua dan muda Kalam-Mu ya Tuhan semesta alam Dibaca-dihayati-diamalkan menguak lengang Mengusir gersang menghilangkan takut menentramkan Dinamika kehidupan Diawali kalimat ta’awudz berlindung kepada-Mu Dari godaan syaitan yang terkutuk Diakhiri tasbih dan iman Maha benar engkau ya Allah dengan segala firman-Nya Menjadi pedoman dalam kehidupan Sungguh........ sebaiknya ibadah Membaca al-qur’an mubin Semoga amal ibadah kita diterima Allah Swt. Kroya, 27 Maret 1996   KUCARI BAHAGIA Awal kehidupan......... aku melihat...... Tapi aku buta kekuasaan-Nya Aku mendengar ................ tapi aku tuli dari kalimat-Nya Aku bicara ....... tapi aku bisu tidak mengucapkan Kalam Illahi Aku melangkah ...... tapi sebenarnya aku diam Aku bernafas ........ tapi nafasku hampa dari tasbihmu Aku berakal ........ tape sebenarnya aku bodoh Aku, aku ..... aku...... ! Aku adalah insan alfa Aku lengkap sebagai manusia tapi aku jauh dari bahagia Suatu saat aku dibuka oleh-Nya Aku melihat aku mendengar aku bicara aku Menguasai diri dan diilhami mengenai-Mu Dua kalimasyahadat kubaca sholat kudirikan Zakat kuberikan puasa kulaksanakan haji kutunaikan Tapi ....... aku masih belum bahagia Aku tidak tahu, bahagia itu apa ? Sekalipun semua sudah kulakukan Mungkin aku bahagia, jika semua itu Kau terima Tapi...... bagaimana aku tahu karena itu rahasia-Mu Yaa ....... Maalikiyaumiddiin Mungkin bahagia itu aku raih jika aku kembali Kehadirat-Mu di terima di sisi-Mu Berada di Firdaus-Mu kekal abadi didalam Balasan sorga-Mu Indramayu, 28 April 94 SILIH BERGANTI Temu........... Awal dari pisah Silih berganti mengisi hidup dan kehidupan Seakan cepat waktu berlalu Seakan seikhlas bersama, bahagia tertawa Tak terasa goda dan kendala lalu oleh canda kawula Ada yang pergi........ Ada yang datang silih berganti seperti Siang dan malam Apa kata siang dan Yang Maha Kuasa yang tahu Berbuatlah untuk dikenang nanti pada waktu Pergi diiringi doa yang tinggal Semoga Tuhan menerima amal ibadahnya Amien Indramayu, 3 Nopember 93   WAKTU Kau ..... sang waktu Tetap tegar pada tugas janjimu Tidak rubah karena apapun Detik dan rotasimu menjadi pegangan semua Harapan dan perasaan Kau disegani-ditunggu-dijalani-dituruti Dan ditakuti Waktu dulu kita belum apa-apa Waktu kini kita juga belum jadi apa-apa Waktu kelak kita pun tidak akan ada apa-apanya Kenapa kita menjadi mengapa Padahal kita bukan apa-apa kita semua Mengisi detik waktu mengikuti iramanya Menunggu waktunya tuk kembali pada Sang Empunya Entah kapan ....... tapi pasti waktu itu akan tiba Sang Maha Kuasa telah memperingatkan kita Demi waktu-agar kita dengan amal dan akhlak mulia Agar tidak merugi ..... dan kesal Sang waktu sia-sia berlalu tanpa ada apa-apa Indramayu, 29 Agustus 93   ULURKAN TANGANMU Bencana ........ siapun tak ingin mendapatkannya Tapi dia ada menghantui kehidupan ...... manusia Dan lingkungannya Air ...... bah yang mmengoyak Angin ...... taufan yang memporakporandakan Api ..... agni yang murka menghanguskan Kecelakaan .... wabah ...... perang Bumipun bergerak menimbun kehidupan membawa Bencana petaka dan cerita Semua akibat murka Yang Maha Kuasa Memperingatkan manusia yang merusak citra kehidupan Alfa akan petaka dan azab-Nya Hai manusia Sadarlah ....... semua itu ujian bagimu Agar ....... tawakal bagi penerima bencna Ulurkan tanganmu membantu meringankan derita Dan duka mereka Ulurkan tanganmu dengan derma ...... Donor dan doa sebagai amal mulia untuk menuju sorga Karena doa yang menderita selalu di dengar Sang Kuasa Dan mendapat ridho-Nya Amien Indramayu, 29 Nopember 93

Sabtu, 27 Juli 2013

PUISI ROMANTISME NEGERI MINYAK

Ali Akbari

Perempuan Malam


perempuan dengan senja di lehernya
sendiri merangkai-rangkai malam
tanpa rembulan
menerawang masa silam bunga
ketika dara masih lantang tertawa
dengan whisky di tangan dan lelaki pemuja
tubuh sintal itu menari sebagai ikan; telanjang
kini musim bungapun usai
perempuan sebagai kembang layu; tercampakkan


































Ali Akbari
Dermaga


engkaulah dermaga itu
dan di situlah kelak kapalku berlabuh
gelombang mana lagi hendak mengusik perjalananku
sedang badaipun telah menjadi sahabatku
kini kupasrahkan saja perahuku
pada angin laut kemana membawaku
dan aku tak lagi takut
pada gigi-gigi ombak yang siap menerkamku



































Ali Akbari
Perahu


akulah perahu yang tak pernah letih mengembara
jiwaku layar-layar berkibaran
mengucap salam bagi pulau-pulau yang bakal kusinggahi
walaupun laut,
walaupun gemuruhnya dan taufan iri melihatku
aku akan terus melaju
jikapun aku harus mati di dasar laut, aku akan bangga
sebab matiku tak sia-sia
tubuhku akan ditumbuhi rerumputan
dan jadi sarang
bagi ikan-ikan yang bakal menetaskan telurnya
































Ali Akbari
Catatan Perjalanan


seperti kereta api yang meluncur
entah di stasiun mana akan berakhir,
perjalanan usiaku

seperti air sungai yang mengalir
entah di muara mana akan berakhir,
air mata ini

detik-detik yang merintih
kucoba menjala nasib
selembar harapan
berakhir di tong sampah































Ali Akbari
Lagu Kematian


lari, Nang, lari!
melangkahi matahari
mengejar jejak angin subuh yang hilang
sambil mengusung mayat diri
meneriakkan kata-kata di sepanjang jalan
tak letih juga,
mengeja peta kota-kota mati
pada sungai air mata, kau basuh nasib yang kusam
o alangkah perihnya kehidupan
harapan dan impian yang teraduk
membaringkan nurani
manusia tinggal kerangka































Agus Supardi
Siluet Tanah Kelahiran


telah kutinggalkan kota
dan kupilih tempat peristirahatan bagi jiwaku yang lelah
putus asa dan kecewa telah kuwakilkan pada buih
dan obat anti biotic
sebab telah kuduga sejak semula
akan jatuh lagi air mata yang lebih dingin
membasahi kampungku
aku akan kalah lagi; jatuh dan terlindas
atau aku akan jadi roda atau mesin atau rem yang telah aus
sebelum buldoser itu meratakan tanah kelahiranku
sebelum cerobong asap itu menghanguskan mimpi kanak-kanakku
ingin aku tafakur dan berdoa
sambil kuteteskan air mata. Sambil kuteteskan air mata!
tanda berkabung bagi tanah kelahiranku





























Ali Akbari
Balada Perempuan Kallar*


tak ada pesta atas kelahiran bayi perempuan Kallar
angin kering meniupkan bau kemiskinan
menggetarkan dada dan kuduk sang ibu
: emas kawin yang melilit leher, sorot mata garang sang suami
  dan kutukan para dewa
dengan hati yang luka,
digerusnya segenggam biji oleander—getah beracun itu
lalu disuapkan kepada permata hatinya
“Anakku perempuan,
inilah cinta ibu yang teramat dalam”.
sambil didekapnya erat-erat sang jabang
hingga gelinjang kematian merasuk dalam pori-pori
o matahari Kallar, meretakkan tanah-tanah
meretakkan peradaban!


1988
*) Kallar : nama sebuah distrik suku Tamil Nadu di India

























Ali Akbari
Song For Solitude


ceritakan lagi padaku, katamu
tentang pujangga yang bersanding dengan raja-raja
sambil mendendangkan seloka dan syair pelipur lara
juga mantra persembahan para dewa
tapi secawan anggur tak sanggup menghapus dahagamu yang purba
sedang perih luka yang kau peram berabad lamanya
lebur bersama kilauan bintang-bintang

—lidah keluh
    tenggorokan tersekat
    kaku

dan kinipun kita tersadar
ditengah hiruk pikuk lalu lintas yang berseliweran
dan sumpeknya aroma politik yang saling menghimpit
dan menikam
sedang kota yang centil dan rajin berdandan
terus berlenggang dan terus berlenggang

—masih pentingkah arti sebuah kemenangan
    sedang mengalahkan tidak harus dengan saling membunuh

nyanyikan lagi untukku, pintamu
sebait puisi cinta yang mendayu-dayu
agar tuntas sudah dendam asmara
yang menindih dadaku

—dalam bayanganmu
    sepasang kekasih asik mansyuk berdansa
    dalam buaian sinar rembulan













Ali Akbari
Ritus Pengantin


kasihku, pengantinku
kita serahkan saja semua pada musim kali ini
ketika langit pasrah dan tanah basah oleh air mata
—dengan tanganku yang legam ditempa cuaca
akan kita bajak bersama
ladang-ladang persemaian di bumi asing
tempat kau taburkan benih cinta kasih yang putih

kasihku, pengantinku
akan kita bangun bersama
rumah persinggahan di negri asing
beratapkan rumbia dari helaian rambutmu
sedang tihangnya dari tulang rusukku
bunga-bunga bermekaran di taman hatimu

kasihku, pengantinku
akan kita tempuh bersama, perjalanan tanpa peta
menelusuri semak belukar, lembah dan rawa
—peradaban yang dibangun dan dihancurkan manusia
usah kau risaukan lagi jalan kembali

kasihku, pengantinku
akan tiba juga saatnya
ketika daun jatuh dan bunga-bunga berguguran
seribu malaikat menghantarkan pengantin pulang
ke kampung halaman abadi
dan mempelai itu adalah kita!